Pasukan Filipina Bunuh Tersangka Anggota Abu Sayyaf Penculik WNI pada 2016

Empat dari lima WNI yang diculik Januari lalu oleh kelompok militan terkait ISIS itu masih ditawan.
Staf BenarNews
Zamboanga, Filipina
2020-11-09
Share
620.jpg Para pejabat Biro Investigasi Nasional Filipina menghadirkan para tersangka militan Kelompok Abu Sayyaf yang ditangkap pemerintah negara itu dalam konferensi pers di Manila, Filipina, 11 Juni 2019.
AP

Seorang tersangka militan Abu Sayyaf, yang menjadi buronan karena terlibat dalam penculikan enam anak buah kapal asal Indonesia tahun 2016, tewas dalam baku tembak dengan pasukan pemerintah di provinsi Zamboanga Sibugay, di Filipina selatan, akhir pekan lalu, kata polisi Filipina, Senin (9/11).

Pasukan khusus kepolisian Filipina membunuh tersangka, Salip Adzhar Alijam, ketika ia melepaskan tembakan dalam penggerebekan yang dilakukan pasukan pemerintah di kota Tungawan pada hari Sabtu, demikian direktur polisi daerah Brigjen. Jenderal Jesus Cambay kepada BenarNews.

"Tersangka menembaki pasukan polisi yang mendekat, yang memicu baku tembak singkat yang mengakibatkan kematiannya," kata Cambay.

Operasi pasukan keamanan itu didasarkan pada surat perintah yang dikeluarkan terhadap Aijam atas kepemilikan bahan peledak secara ilegal. Aijam juga dikenal dengan alias Aya dan Kakek Alip Adjal Hamsa.

Sebuah pistol dan senjata lainnya, termasuk fragmentasi granat dan amunisi, ditemukan bersama mayatnya.

Cambay mengatakan Alijam adalah seorang militan dari faksi Abu Sayyaf yang dipimpin oleh Alhabsy Misaya, yang kelompoknya berada di balik pembajakan kapal dan penculikan di wilayah dekat perairan Malaysia. Misaya tewas dalam bentrokan dengan tentara Filipina tiga tahun lalu.

Salah satu dari enam tawanan Indonesia, Herman bin Manggak, secara positif mengidentifikasi Alijam sebagai salah satu anggota Abu Sayyaf yang menculik mereka pada Agustus 2016 di perairan Sabah, Malaysia. Para penculik membawa para tawanan ke kepulauan Sulu, wilayah yang menjadi sarang militan di selatan Filipina.

Orang Indonesia termasuk di antara belasan sandera yang diculik oleh Abu Sayyaf pada tahun 2015 dan 2016. Dua warga Kanada, Robert Hall dan John Ridsdel juga disandera, termasuk seorang warga Norwedia, Kjartan Sekkingstad, dan juga seorang perempuan Filipina.

Sekkingstad dan perempuan asal Filipina itu kemudian dibebaskan setelah dilaporkan membayar sejumlah uang tebusan yang dirahasiakan, tetapi Hall dan Ridsdel dipenggal oleh para penculik setelah kerabat mereka menolak untuk membayar uang tebusan.

Manggak dan orang Indonesia lainnya dibebaskan atau melarikan diri.

Perairan di antara Filipina selatan, Malaysia dan Indonesia, terkenal rawan karena menjadi wilayah aksi perampokan, pembajakan dan penculikan oleh militan bersenjata Abu Sayyaf.

Pada 16 Januari tahun ini lima orang Indonesia diculik di perairan sebuah pulau di Sabah. Sebuah faksi Abu Sayyaf saat ini menahan empat dari mereka sebagai tawanan, sementara orang Indonesia kelima, yang diidentifikasi sebagai La Baa, dibunuh pada bulan September oleh para penculiknya.

Pada 30 September, tiga tersangka anggota Abu Sayyaf, termasuk satu orang yang terlibat dalam penculikan para nelayan, menyerah kepada pasukan pemerintah di Sulu.

Sejak 2016, setidaknya 54 warga negara Indonesia telah menjadi sasaran dalam 16 penculikan di laut, termasuk di perairan Sabah, kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia awal tahun ini.

Pada 2017, Filipina, Malaysia, dan Indonesia meluncurkan patroli trilateral yang bertujuan mencegah tindakan pembajakan dan penculikan di laut di sepanjang perbatasan laut ketiga negara tersebut.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya