Indonesia Klaim COVID-19 Terkendali, Angka Positif Semakin Menurun

Untuk pertama kalinya angka penambahan kasus di Tanah Air lebih rendah dari sejumlah negara Asia Tenggara.
Tria Dianti
Jakarta
2021-09-07
Share
Indonesia Klaim COVID-19 Terkendali, Angka Positif Semakin Menurun Seorang siswa diperiksa suhu tubuhnya saat memasuki sekolahnya di Surabaya pada 6 September 2021, ketika pemerintah membuka kembali sekolah tatap muka di tengah masih merebaknya pandemi covid-19 walaupun jumlah kasus sudah menurun.
AFP

Kasus positif harian dan kasus aktif di Indonesia menunjukkan penurunan yang signifikan bahkan di bawah standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) pekan ini, membuat Indonesia keluar dari situasi krisis COVID-19, demikian disampaikan pejabat kesehatan.

Setidaknya 14 provinsi memiliki positivity rate, atau jumlah orang yang dites positif COVID berbanding dengan jumlah semua orang yang dites, di bawah 5 persen, angka yang jadi acuan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengindikasikan bahwa pandemi terkendali, kata Juru Bicara Penanganan COVID-19 di Indonesia, Wiku Adisasmito

“Persentase positivity rate nasional Indonesia berada di angka 6,9 persen atau sedikit lagi mencapai rujukan WHO,” kata Wiku dalam konferensi pers virtual.

“Ini menunjukkan keadaan darurat berhasil dilewati,” kata dia.

Ia menyebutkan 14 provinsi dengan angka positivitas di bawah 5 persen termasuk provinsi di pulau Jawa yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Penurunan kasus positif paling banyak terjadi di Lampung (40 persen), Jambi (36 persen ) dan Aceh (31 persen). Selain itu, tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di hampir seluruh provinsi di Indonesia mengalami penurunan yaitu di bawah angka 60 persen.

Berdasarkan data, angka rata-rata kematian dalam beberapa minggu terakhir di angka 563 kematian, jauh menurun dibandingkan pertengahan Juli lalu yang mencapai 2.000 per hari.

Sementara dalam tiga minggu terakhir, jumlah orang yang diperiksa (testing dan tracing) mengalami peningkatan dari 600.000 per hari menjadi 800.000 per hari.   

“Posisi indonesia dalam kasus COVID-19 terus menurun menempati ke posisi 20 di dunia, masih di bawah negara ASEAN lainnya Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Padahal penduduk Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan negara ASEAN lainnya,” paparnya.

Per hari ini, Satgas melaporkan angka harian bertambah 7.201, membuat total kasus di Indonesia menjadi 4.140.638 kasus dengan kematian 683 kasus dalam 24 jam terakhir sehingga total kasus kematian menjadi 137.156 jiwa. Saat kasus COVID -19 varian Delta berada pada puncaknya pertengahan Juli 2021 lalu, penularan harian sempat mencapai di atas 50.000 kasus perhari.

Sementara itu, jumlah kasus aktif berada di angka 138.630 atau menurun drastis dibandingkan Juli yang mencapai lebih dari 500 ribu kasus, yang dipicu varian Delta yang dianggap sangat menular.  

Sejak vaksinasi massal dimulai per 13 Januari 2021, hingga hari ini ada sekitar 24 persen dari keseluruhan 276 juta penduduk Indonesia yang telah mendapatkan dosis pertama dan setidaknya 14 persen yang telah divaksinasi lengkap.

Sementara itu, pemerintah pada Senin memutuskan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama sepekan ke depan sampai 13 September 2021 seiring dengan situasi COVID-19 yang semakin membaik.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pemerintah jumlah kabupaten kota yang berada di PPKM level 4 terus menurun dan jumlah yang berada di PPKM level 2 terus meningkat.

Sejumlah aturan mengalami penyesuaian, seperti waktu makan di tempat (dine in) di restoran dan kafe diperpanjang jadi 60 menit dengan kapasitas 50 persen dan ujicoba pembukaan 20 tempat wisata di daerah level 3.

Waspada

Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman mengatakan meskipun dalam beberapa minggu terakhir kasus COVID-19 mengalami penurunan, namun harus dipahami ini terjadi di tengah sedikitnya pengetesan and pelacakan di Indonesia.

“Meskipun baik namun saya antara senang dan khawatir. Ibarat sedang ujian tapi nilai ujian tiba-tiba bagus tapi anaknya tidak rajin juga. Sementara dalam penanganan pandemi tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan,” kata dia kepada BenarNews.

Ia memperkirakan krisis Delta setidaknya akan berlangsung sampai akhir September 2021 atau 12 minggu sejak puncak Juli lalu.

“Ini belum selesai, saya akui upaya dari pemerintah ada namun itu tidak cukup untuk keluar dari masa krisis ini,” kata dia.

Ia memprediksi potensi Indonesia alami gelombang ketiga bisa saja di luar pulau Jawa karena tingkat kerawanan yang cukup tinggi.

“Penurunan ini tidak bisa mewakili seluruh rakyat indonesia , itu hanya mewakili Jawa, Bali dan Madura. Sementara testing hanya mendominasi Jabodetabek, daerah lainnya belum kuat 3T-nya (pengetesan, pelacakan dan perawatan),” katanya.

Sejumlah media melaporkan ribuan orang memadati  beberapa lokasi wisata pada akhir pekan lalu seperti pantai Pangandaran dan Puncak, Jawa Barat. Kemacetan panjang terjadi di daerah menuju dan dari Puncak sepanjang akhir pekan lalu.

'Masih berkeliaran'

Sementara itu, Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan dari total 21 juta orang yang mengunduh aplikasi PeduliLindungi, ada lebih dari seribu orang terkonfirmasi positif COVID-19 yang mencoba pergi ke tempat umum.

“Total ada 21 juta masyarakat yang skrining menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Dari jumlah tersebut, 761 ribu orang masuk dalam kategori merah. Sementara 1.625 orang dengan status positif dan kontak erat terdeteksi mencoba melakukan aktivitas publik,” uajrnya.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Laksono menjelaskan kriteria pengguna dalam aplikasi PeduliLindungi berdasarkan warna yaitu hijau (orang vaksin lengkap), kuning (vaksin 1 kali), merah (belum vaksin) dan hitam (positif dan kontak erat).

“Kasus hitam ini terjaring sebanyak 1.625 kasus. Mereka sudah tahu positif COVID-19 namun masih berkeliaran di jalan. Mereka terdeteksi saat mau masuk mal atau sektor perdagangan,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat untuk menghindari adanya euforia yang berlebihan. Ia menekankan bahwa virus ini bisa dikendalikan, namun tidak mungkin hilang sepenuhnya.

“Masyarakat harus sadar bahwa COVID selalu mengintip. Varian delta selalu mengintip kita. Begitu lengah, bisa naik lagi,” ujar Jokowi.

Meski kasus positif dan kasus aktif mengalami penurunan, Jokowi minta jajarannya untuk tetap melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait perkembangan kasus COVID-19 di daerah agar kasus  dapat segera ditangani dan penyebaran kasus dapat terus ditekan.

“Ini kalau kita terus lakukan pekerjaan-pekerjaan kita secara konsisten, saya yakin di akhir September kita sudah akan berada di angka di bawah 100 ribu (kasus aktif),” lanjutnya.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya