Membayar Biaya Sekolah dengan Sampah

Kepala SMKN 6 menjelaskan, sekitar 40 persen siswa berasal dari keluarga miskin sehingga setiap tahun ajaran, banyak orang tua mengajukan keringanan biaya sekolah.
Heny Rahayu
2016.10.21
Malang
161021_ID_Trash_1000.jpg Heny Rahayu/BeritaBenar
Tiga siswa sedang menimbang sampah di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 6 Kota Malang, Jawa Timur, 17 Oktober 2016.

Dinda Yolanita Dwi Arumando (16) menenteng kantong plastik berisi kardus, buku, dan botol plastik minuman. Semuanya barang bekas.

Bersama ratusan remaja lain, dia antre untuk menyerahkan sampah kering ke bank sampah sebelum jam pelajaran.

Begitulah aktivitas hampir setiap pagi terlihat di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Kota Malang, Jawa Timur.

“Kenapa malu, lumayan untuk meringankan biaya sekolah,” ungkap Dinda, siswa asal Sawojajar, Kota Malang, saat ditemui BeritaBenar setelah menyerahkan bawaannya ke pengelola Bank Sampah Sekolah (BSS), Senin, 17 Oktober 2016.

Kepala SMKN 6, Dwi Lestari menjelaskan, sekitar 40 persen siswa berasal dari keluarga miskin. Setiap tahun ajaran, banyak orang tua mengajukan keringanan biaya sekolah.

“Mereka meminta keringanan, sementara biaya operasional SMK kan tinggi. Terutama untuk biaya praktik,” kata Dwi.

Lantas dia mengajak orang tua siswa dan siswa untuk mengumpulkan sampah guna membayar biaya pendidikan karena setiap rumah, pasti menghasilkan sampah.

“Jadi setahun terakhir, di sekolah kami bisa membayar SPP dengan sampah,” ujarnya.

Tabungan bank sampah

Mengumpulkan sampah dilakukan Dinda bersama keluarganya. Ayahnya, yang berjualan buah, ikut mengumpulkan kardus bekas saat pulang ke rumah.

Kebetulan lokasi berjualan buah sang ayah di dekat toko kelontong, sehingga aneka jenis kertas dan kardus dibuang ke tempat sampah.

“Daripada dibuang percuma, ayah ambil untuk ditabung di BSS,” tuturnya.

Sejumlah temannya bahkan harus berburu sampah di pasar dan toko.

Seperti M. Rafiq Prasetya, warga Kelurahan Cemorokandang, Kedungkandang, Malang, sengaja bergerilya dari satu warung ke warung untuk memungut kardus bekas.

Biasanya, kardus bekas itu dibakar. “Sayang kan dibakar, lebih baik ditabung,” katanya kepada BeritaBenar.

Aktivitas “memburu” sampah dilakoninya sejak dua bulan terakhir. Uang terkumpul ditabung untuk biaya sekolah.

Uang yang terkumpul dikonversikan untuk biaya pendidikan sebesar Rp75 ribu sampai Rp175 ribu per bulan tergantung ekonomi keluarga.

Fara Nur Vidiati juga meminta keringanan biaya pendidikan, karena pendapatan ayahnya berjualan singkong cukup berat membayar biaya sekolah Rp175 ribu. Setelah mendapat keringanan, dia cukup membayar Rp110 ribu.

Untuk membantu membiayai pendidikan, dia mengumpulkan sampah ditabung ke bank sampah. Sampah yang dibawanya berupa kardus dan buku bekas.

“Ada tiga karung buku bekas, lumayan untuk membantu biaya sekolah,” katanya.

Sementara Laili Wulandari (16), siswi asal Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, membawa sampah plastik untuk ditabung. Ia sadar sampah plastik tak bisa terurai dan akan menyebabkan masalah lingkungan.

“Daripada dibuang tak berguna lebih baik sampah plastik dijual ke BSS. Lingkungan bersih dan membatu biaya sekolah,” ujarnya.

Dikelola siswa

BSS SMKN 6 Malang dikelola para siswa. Total 25 siswa terlibat dalam mengelola bank sampah. Mereka bertugas menimbang, mencatat, dan memverifikasi data tabungan para siswa.

Sampah domestik rumah tangga dibeli sesuai daftar harga. Botol plastik Rp4.500 per kilogram, kertas HVS Rp1.500 per kilogram, dan kertas koran Rp2.000 per kilogram.

“Petugas piket dijadwal di antara kami untuk mengelola BSS,” kata Fandio Agustian, seorang pengurus.

Seluruh sampah yang dikumpulkan dipilah sesuai jenisnya. Selama sepekan terkumpul sampah hingga 300 kilogram.

Setelah terkumpul, sampah diambil petugas Bank Sampah Malang (BSM) – lembaga non profit yang mengelola dan mendistribusikan sampah dari masyarakat.

Selama dua bulan terakhir, animo siswa luar biasa. Mereka antusias untuk menabung di bank sampah.

Potensi sampah yang terkumpul di bank cukup besar, lantaran jumlah siswa mencapai 2.616 orang, dengan tenaga pengajar sebanyak 190 orang.

Tidak hanya menabung sampah, seluruh sampah organik yang dikumpulkan, diolah di sekolah untuk menjadi kompos. Setiap bulan, sebanyak 50 kilogram kompos dihasilkan.

Kompos digunakan untuk pupuk aneka tanaman hias di sekitar sekolah. Di lokasi rumah kompos juga dibangun pembibitan tanaman hias dan sayuran.

600 ton sehari

Direktur BSM, Kartika Ikasari, mengatakan produksi sampah di Kota Malang setiap hari mencapai 600 ton. Sekitar 30 persen di antaranya sampah non organik.

Untuk itu, BSM menggandeng kelompok masyarakat dan sekolah untuk menabung sampah.

“Nasabah sudah 24 ribu, terdiri dari individu, kelompok, sekolah, instansi dan hotel, “ katanya seraya menambahkan BSM berhasil menekan volume sampah sampai tujuh persen.

Sedangkan omzet penjualan terus membengkak. Tahun lalu, keuntungan BSM mencapai Rp120 juta.

Tak hanya menabung, nasabah juga bisa membelanjakan kebutuhan pokok, membeli pulsa, dan membayar listrik dari menjual sampah.

Layaknya sebuah bank, kantor BSM bersih dan wangi. Menumpang kantor pemakaman umum, ruang resepsionis dipajang aneka kerajinan daur ulang dari sampah plastik dan kertas.

Malang, termasuk salah satu kota di Jawa Timur disamping Surabaya dan Jombang, yang dinilai mampu mengelola sampah dengan baik dan menjadi contoh kota lain di tingkat nasional.

Melalui penerapan program reduce, reuse dan recycle (3R), kota-kota ini tidak hanya berhasil mengurangi sampah, namun juga mendapatkan nilai ekonomis dari sampah tersebut. Program BSS adalah salah satu buktinya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.