Deklarasi Kemerdekaan Palestina Menjadi Panduan di PBB

Oleh Ismira Lutfia Tisnadibrata
2015.05.04
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150504_ID_ISMIRA_DEKLARASI_PALESTINA_VG.jpg Militer Indonesia memimpin parade dengan berbagai bendera dari negara-negara peserta dalam ulang tahun ke-60 Konferensi Asia-Afrika di Bandung tanggal 24 April 2015.
AFP

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, mengatakan bahwa deklarasi untuk kemerdekaan Palestina yang ditanda tangani dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) akan menjadi basis perjuangan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara pakar mengemukakan tiga kendala utama bagi kemerdekaan Palestina termasuk internal politik di Palestina dan Israel serta hak veto Amerika.

"Deklarasi tersebut akan dijadikan sebagai platform utama untuk memperjuangkan kemerderkaan Palestina di PBB," ujar Arrmanatha pada BeritaBenar pada 1 Mei 2015.

Negara-negara Asia Afrika peserta KAA sudah menjadi mayoritas di PBB dalam menyuarakan kemerderkaan Palestina.

Deklarasi Kemerdekaan Palestina ditandatangani dalam KAA di Bandung yang berlangsung tanggal 19-24 April, 2015.

KAA dengan tema “Penguatan Kerjasama Negara Asia-Afrika Untuk Mempromosikan Perdamaian Dunia dan Kemakmuran" dihariri oleh 109 negara 55 dari kawasan Asia dan 54 dari Afrika. Semuanya perwakilan negara menyetujui kemerdekaan Palestina.

Kendala kemerdekaan Palestina

Abdul Mu’thi, sekretaris umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengatakan tiga hal yang menjadi masalah untuk kemerdekaan Palestina adalah pertama, masalah internal Palestina yang didalamnya terdapat faksi-faksi yang belum mempunyai visi yang sama mengenai Palestina di masa depan.

Masalah kedua adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dimana Amerika Serikat mempunyai hak veto yang bisa digunakan walaupun sudah banyak negara-negara yang mengakui kemerdekaan Palestina.

“Amerika Serikat tidak mungkin akan mengambil sikap politik yang berlawanan dengan Israel,” ujar Abdul kepada BeritaBenar.

Tantangan ketiga adalah politik internal Israel yang saat ini dikuasai oleh kelompok fundamentalis yang anti kemerdekaan Palestina, Abdul menerangkan.

“Secara politik, dukungan KAA akan memperkuat semangat perjuangan rakyat Palestina. Tapi untuk mencapai kemerdekaan, akan masih tergantung pada ketiga hal tersebut,” ujar Abdul.

“Pemerintah Indonesia harus segera merealisasikan janjinya untuk membuka perwakilan setingkat konsul di Palestina,” ujar Abdul.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.