Dubes Rusia: Putin Berniat Datang ke Pertemuan Puncak G20 di Bali

Analis: Barat kemungkinan boikot KTT G20 jika tokoh yang menginisiasi invasi Rusia ke Ukraina itu hadir.
Tria Dianti
2022.03.23
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Dubes Rusia: Putin Berniat Datang ke Pertemuan Puncak G20 di Bali Presiden Rusia Vladimir Putin duduk di depan layar yang menampilkan Presiden China Xi Jinping saat menghadiri KTT G20 melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, 31 Oktober 2021.
Sputnik/Evgeniy Paulin/Kremlin via Reuters

Presiden Rusia Vladimir Putin berencana untuk menghadiri acara puncak G20 pada Oktober mendatang di Bali, kata duta besar Rusia untuk Indonesia, di tengah laporan adanya upaya negara Barat untuk mengisolasi Kremlin karena invasi militernya ke Ukraina.

Duta Besar Lyudmila Vorobieva mengatakan Indonesia selaku pemegang presidensi G20 tahun ini telah mengundang Rusia ke pertemuan tingkat tinggi di Bali yang dijadwalkan 30-31 Oktober.

“Itu akan tergantung pada banyak, banyak hal termasuk situasi COVID-19 yang semakin baik. Sejauh ini niatnya adalah dia ingin datang,” kata Vorobieva dalam konferensi pers saat ditanya apakah Putin akan datang.

Ia mengakui, dengan adanya invasi Rusia ke Ukraina banyak pihak yang menghendaki Rusia untuk keluar dari berbagai organisasi dunia, salah satunya adalah World Trade Organization (WTO).

“Tentu saja pengusiran Rusia dari forum semacam ini tidak akan membantu menyelesaikan masalah ekonomi ini. sebaliknya, tanpa Rusia akan sulit untuk melakukannya,” katanya, "G20 bukanlah forum untuk membahas atau menyelesaikan krisis semacam ini (Ukraina)."

Komentar Vorobieva menyusul pernyataan penasihat keamanan utama AS Selasa yang mengindikasikan Washington akan memprakarsai tekanan pada Rusia untuk dikeluarkan dari forum internasional karena invasi ke Ukraina.

“Mengenai G20, saya hanya akan mengatakan ini: Kami percaya bahwa Rusia tidak bisa diperlakukan seperti tidak ada masalah apa-apa saat berada di tengah lembaga internasional dan komunitas internasional,” kata penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan.

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden bertolak ke Brussels pada hari Rabu untuk menghadiri KTT NATO, G-7 dan Uni Eropa di mana ia direncanakan "mengirim pesan yang kuat bahwa AS siap dan berkomitmen" untuk Ukraina "selama diperlukan", ucap Sullivan.

Dia juga mengatakan Biden akan berkonsultasi dengan NATO mengenai hubungan China dengan Rusia dan isu potensi partisipasi Beijing dalam konflik di Ukraina. “Pemerintah khawatir Beijing akan memberikan bantuan ekonomi atau militer ke Moskow,” kata Sullivan.

Dukungan China

Tetapi China mengatakan pada Rabu bahwa Rusia tidak dapat dikeluarkan dari G20 karena negara itu "anggota penting".

"G20 adalah forum utama untuk kerja sama ekonomi internasional," kata juru bicara kementerian luar negeri China Wang Wenbin kepada wartawan. "Rusia adalah anggota penting, dan tidak ada anggota yang berhak mengusir negara lain."

Indonesia merupakan salah satu dari 141 negara yang menyetujui resolusi PBB yang mengecam agresi Rusia ke Ukraina. Namun, baik Presiden dan Menteri Luar Negeri Indonesia menahan diri untuk tidak menyebut kata Rusia dalam mengkritik agresi militer tersebut.

Pemerintah Indonesia menyerukan dialog dan negosiasi ketimbang memberikan sanksi terhadap Rusia.

“Setop perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia,” ujar Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo dalam unggahannya di Twitter pada 24 Februari, tanpa menyebut kata Rusia, merespons hari pertama invasi militer negara itu ke Ukraina.

Ancaman boikot

Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai jika Putin datang maka bisa jadi akan membuat AS dan negara Barat lainnya memboikot KTT G20.

“Bukan karena Indonesia kurang baik, namun mereka pasti tidak mau hadir jika ada Rusia, Australia saja sudah bilang tidak akan hadir jika ada Rusia. Kalau negara lain banyak tidak hadir maka akan merusak kredibilitas Indonesia,” kata dia.

“Sekarang Rusia pintar seperti bermain catur, membuat statement hadir agar Amerika nggak datang. Dampaknya G20 tidak akan berhasil nanti,” ujarnya.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, menilai pertemuan G20 akan sangat ditunggu berbagai pihak karena tidak ada forum besar lainnya untuk bertemu dengan pemimpin Rusia.

“Semua berkepentingan dengan Putin karena saat ini dia merupakan pusat perhatian dunia,” kata dia.

Kalaupun ada boikot, ujar dia, maka hal tersebut merupakan resiko yang diambil oleh tuan rumah di tengah desakan negara barat untuk justru tidak mengundang Putin ke perhelatan tersebut.

“Segala resiko Indonesia harus siap, nggak boleh juga nggak diundang karena posisi dan harapan G20 adalah untuk mengatasi masalah perekonomian bersama. Jadi kita juga harus menerima [Putin] seperti tamu negara lainnya,” paparnya.

Resolusi IPU tentang Ukraina

Sementara itu, draft resolusi yang diusulkan Selandia Baru yang menyatakan bahwa Rusia telah melakukan kejahatan agresi, yang merupakan pelanggaran keras terhadap aturan dasar hukum pidana internasional, mendapat sambutan positif dari delegasi di pertemuan Inter-Parliamentary Union (IPU) di Bali.

“Majelis ke-144 IPU dilaksanakan di tengah situasi konflik antara Rusia dan Ukraina sehingga semua usulan emergency item yang masuk terkait dengan perang yang terjadi di Ukraina,” kata ketua DPR RI, Puan Maharani dalam pernyataan tertulis, tanpa merinci isi resolusi.

Draf usulan Selandia Baru pada prinsipnya menyerukan dialog bagi yang terlibat konflik. Usulan itu juga mengecam Rusia dengan lebih keras, sedangkan usulan resolusi Indonesia tidak mengandung kecaman terhadap salah satu pihak, kata Puan.

“Usulan Indonesia mampu memecah voting dan menghalangi adopsi secara aklamasi dari emergency item usulan Ukraina, yang dianggap sebagian pihak berat sebelah,” kata Puan.

Direktur IPU, Duarte Pacheco, mengatakan sebelum invasi Rusia di Ukraina, pihaknya sudah melakukan dialog dengan parlemen kedua negara agar menghindari perang sehingga masyarakat sipil tidak terkena dampak konflik.

 “Perang harus berhenti sekarang. Ini posisi IPU,” sambung Pacheco.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Komentar

Anonymous
2022-03-30 20:21

NATO dan sekutu nya hanya negara pecundang yg hanya bisa menyengsarakan rakyat Islam melalui agresi militer nya di beberapa negara Islam,,,hanya Rusia & Irak yg berani menentang mereka baru-baru ini. G20 seharus nya jadi perkumpulan yg bisa meredakan perang di Ukraina bukan malah memperkeruh suasana dengan hendak memboikot Rusia supaya tidak hadir. sangsi yg gila dari NATO dan sekutu nya . 1)ditendang nya Rusia dari ajang sepak bola dunia di Qatar
2)sangsi ekonomi buat Rusia
3) hendak menendang Rusia dri ke anggotaan G20
semoga aja presiden Vladimir Putin ambil tindakan yg benar uraa buat Rusia sikat sekalian Pentagon dan markas besar FIFA agar mereka mengetahui siapa sesungguh nya Rusia bukan kaleng-kaleng.

Tampilan selengkapnya