Follow us

BJ Habibie, Sang Negarawan dan Legasi yang Ditinggalkan

Meski hanya menjabat 16 bulan sebagai presiden, Habibie banyak membuat terobosan bagi demokrasi Indonesia.
Nisita Kirana Pratiwi
Jakarta
2019-09-11
Email
Komentar
Share
BJ Habibie menyapa para wartawan dalam sebuah acara di Jakarta, 21 Maret 2016.
BJ Habibie menyapa para wartawan dalam sebuah acara di Jakarta, 21 Maret 2016.
Reuters

Indonesia berduka. Presiden ketiga Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Rabu, 11 September 2019, setelah dirawat selama 11 hari karena sakit.

Kabar wafatnya Habibie disampaikan putranya, Thareq Kemal Habibie, yang menyebut karena telah lanjut sehingga organ-organ tubuhnya mengalami degenerasi, terutama jantung.

"Dengan sangat berat, mengucapkan, ayah saya Bacharudin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI, meninggal dunia jam 18.05 WIB," tutur Thareq.

Banyak rakyat berduka dengan kepergian bapak teknologi bangsa, yang ditandai ucapan duka cita serta doa untuk almarhum menghiasi lini masa media sosial.

Rumah duka tempat jenazah Habibie disemayamkan di Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, terlihat ribuan warga berbaur bersama pejabat negara, para menteri, politisi dan tokoh bangsa untuk mendoakan almarhum.

Menurut rencana, jenazah Habibie akan dikebumikan di samping makam istrinya, Harsi Ainun di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Kamis, yang dipimpin Presiden Joko “Jokowi’ Widodo.

Kehidupan Habibie sangat menginspirasi banyak masyarakat luas karena kecerdasannya.

Sosoknya dikenal dekat dengan semua kalangan dan tetap memberikan masukan bagi kemajuan bangsa di usia senjanya.

Presiden Jokowi dan banyak tokoh bangsa menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Habibie pada usia 83 tahun.

"Innalilahi wa’innaillaihi rojiun, innalilahi wa’innaillaihi rojiun, innalilahi wa’innaillaihi rojiun,  perkenankan saya atas nama seluruh rakyat Indonesia dan pemerintah menyampaikan duka yang mendalam, menyampaikan bela sungkawa yang mendalam, atas berpulangnya ke Rahmatullah, Bapak Prof BJ Habibie, jam 18.05 di RSPAD Gatot Subroto," kata Jokowi.

Menurutnya, Habibie merupakan seorang ilmuwan kelas dunia dan bapak teknologi Indonesia, juga Presiden RI ke-3.

Jokowi juga menyampaikan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran, dan melanjutkan apa yang dicita-citakan Habibie.

Ucapan duka cita juga disampaikan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto melalui akun Twitternya dan saat melayat ke rumah duka.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam akun twitternya menyampaikan agar anak tumbuh dengan nasihat dari orang tuanya dan bisa menjadi pintar seperti Habibie.

"Jutaan anak tumbuh dengan nasihat dari orangtuanya, ‘Belajar yang rajin, biar kalau besar nanti kamu pintar seperti Pak Habibie’. Pak Habibie, Sang Guru Bangsa, telah berpulang, tapi inspirasinya tetap hidup. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," tulis Anies.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno meminta masyarakat untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah siang hingga 14 September 2019.

"Kita akan menetapkan hari berkabung nasional selama tiga hari.  Kami imbau kepada masyarakat dan kantor-kantor pemerintah di dalam dan luar negeri untuk kibarkan bendera setengah tiang selama hari berkabung,” katanya.

Pasukan kehormatan presiden membawa peti jenazah BJ Habibie di Jakarta, 11 September 2019. (AFP)
Pasukan kehormatan presiden membawa peti jenazah BJ Habibie di Jakarta, 11 September 2019. (AFP)

Cerdas sejak kecil

Habibie dikenal cerdas sejak usia dini dan dia sangat tertarik pada pelajaran Fisika.

Sempat sekolah di SMAK Dago, Bandung, Jawa Barat, dia melanjutkan kuliah enam bulan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan studi Teknik Mesin pada 1954.

Setahun kemudian, Habibie melanjutkan pendidikan ke Rheinisch Westfälische Technische Hochschule (RWTH), Aachen, Jerman dengan dibiayai oleh ibunya selama 10 tahun.

Di sana, Habibie mendapat dua gelar yaitu Diplom Ingenieur pada 1960 dan Doktor Ingenieur tahun 1965 dengan predikat summa cum laude.

Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan hebat dalam merancang pesawat.

Kecerdasan Habibie pun membuat Presiden Soeharto memintanya kembali ke Indonesia. Habibie kemudian mendirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan ia menjadi Presiden Direkturnya.

Habibie juga pernah menjadi Direktur Utama Pertamina pada 1974-1978. Kemudian ia dipercaya menempati posisi Menteri Negara Riset dan Teknologi di era kepemimpinan Soeharto. Jabatan ini diemban BJ Habibie hingga 11 Maret 1998, sebelum ia terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Presiden Soeharto.

Legasi demokrasi

Pada 21 Mei 1998 Habibie ditunjuk untuk memimpin Indonesia oleh Soeharto, setelah pemimpin Orde Baru itu tumbang di tengah unjuk rasa besar-besaran, yang dipicu oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Dalam masa kepresidenan Indonesia yang paling singkat, hanya 16 bulan, Habibie, berhasil membuka jalan demokrasi bagi Indonesia yang sebelumnya berada dibawah 32 tahun regim otoriter Soeharto.

Habibie meminta maaf atas pelangaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya. Ia membebaskan sejumlah tahanan politik. Ia juga membuka kebebasan pers hal yang sebelumnya dikekang pemerintahan Orde Baru.

Habibie mencabut ketentuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dan melahirkan UU Pers Nomor 40 tahun 1999, yang menjamin kemerdekaan pers dan tidak diperkenankannya penyensoran dan pembredelan pers yang banyak terjadi dalam masa Soeharto.

Di bawah pemerintahannya Undang-undang Partai Politik disahkan dan pemilu multipartai diperkenalkan dari sebelumnya hanya tiga partai politik. Dalam pemerintahannya juga disahkan Undang-undang Otonomi Daerah, Undang-Undang Anti Monopoli atau Undang-Undang Persaingan Sehat.

Merespons kritik internasional terhadap penguasaan Indonesia atas Timor Timor, Habibie menyetujui diadakannya referendum penentuan nasib sendiri bagi rakyat di propinsi yang tadinya merupakan bagian dari Indonesia itu, dengan pilihan otonomi khusus atau memisahkan diri dari Indonesia. Rakyat Timor Timur memilih yang terakhir dan terbentuklah Negara Timor Leste.

Lepasnya Timor Timur membuat Laporan Pertanggunjawaban Habibie ditolak MPR pada Oktober 1999, sehingga Habibie pun tidak mencalonkan diri lagi pada Pemilihan Umum yang ketika itu dipilih oleh MPR.

Kisah cinta yang romantis

Selain karier politiknya, kisah cinta Habibie dan istrinya Ainun pun menyita perhatian masyarakat Indonesia.

Meski telah ditinggal lebih dahulu oleh Ainun pada 2010, Habibie selalu memperlihatkan rasa cintanya yang dalam kepada sang istri.

Kisah cinta keduanya dituangkan dalam film “Habibie & Ainun” pada 2012. Pada 2016, film “Rudy Habibie” yang merupakan frekuel dari “Habibie & Ainun” diluncurkan.

Tampilan selengkapnya