Kisah Pilu Keluarga Korban Heli yang Jatuh di Temanggung

Kusumasari Ayuningtyas
Semarang
2017-07-03
Share
170703-IN-CHOPPER-620.jpg Linaena (kanan) dan Siti Nur Hamida (tengah) tak mampu menahan tangis saat upacara pelepasan jenazah korban helikopter yang jatuh di Pangkalan Udara TNI Angkatan Darat Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah, 3 Juli 2017.
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

Linaena mencoba menyembunyikan wajahnya yang sembab usai menangis semalaman dengan sepucuk sapu tangan hitam saat tiba di Pangkalan Udara (Lanud) TNI Angkatan Darat Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah, sekitar pukul 10.00 WIB, Senin, 3 Juli 2017.

Lina, begitu perempuan 26 tahun itu biasa disapa, merupakan istri Maulana Affandi (26), seorang dari delapan korban yang tewas dalam kecelakaan helikopter milik Badan SAR Nasional (Basarnas)di Temanggung, Jawa Tengah, Minggu sore.

Lina datang tak sendiri. Ia ditemani Siti Nur Hamida, ibu kandung Fandi (panggilan akrab Maulana Affandi); Kusmiyoto, ayah mertuanya dan Muhammad Hafid, adik iparnya.

Genggaman erat ibu mertuanya tak membuat Lina menghentikan linangan airmata yang kembali mengalir deras saat peti jenazah Fandi dikeluarkan dari ambulan untuk upacara pelepasan secara militer.

Lina dan Siti tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya Kusmiyoto yang mencoba tegar dan menjawab pertanyaan wartawan.

“Saya dan ibunya terakhir bertemu Fandi saat lebaran kedua kemarin,” ujar Kusmiyoto.

Kala itu, Fandi meminta tolong kedua orangtuanya agar menggelar upacara Tedak Siten untuk putra semata wayangnya yang berusia 6 bulan di rumah mereka di Boja, Kendal, Jawa Tengah.

Tedak Siten atau upacara turun tanah bayi digelar, Minggu pagi, hari yang sama dengan jatuhnya helikopter yang dinaiki Fandi dan rekan-rekannya.

“Jam 2 siang terakhir komunikasi lewat BBM, bilang ada tugas hari itu. Setelah itu, sudah tidak bisa dihubungi lagi,” terang Kusmiyoto.

Di mata rekannya, Zulhawary Agustianto, Fandi ialah sosok bisa diandalkan. Bergabung dengan Basarnas tahun 2009, Fandi menawarkan diri bergabung di Humas Kantor SAR Jawa Tengah yang membuatnya bertemu Zul yang telah bertugas dua tahun lebih dulu.

“Yang saya suka, dia menawarkan diri dan bukan ditunjuk bergabung di humas dan dia menunjukkan totalitasnya,” ujar Zulhawary.

Hari Minggu, Zulhawary tugas jaga di Brebes, Jawa tengah, sedangkan Fandi yang mulai masuk H+2 Lebaran jaga di Gringsing, Batang, Jawa Tengah.

Ketika terjadi letusan kawah Sileri di Gunung Dieng, tim di Gringsing dikirim untuk membantu proses evakuasi korban letusan.

Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), empat orang terluka dan belasan warga lainnya berhasil dievakuasi dari kawasan Sileri setelah terjadi erupsi, Minggu siang.

170703-IN-CHOPPER-below-620.jpg

Jenazah para korban heli Basarnas tiba di Pangkalan Udara TNI Angkatan Darat Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah, 3 Juli 2017. (Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar)

Secara militer

Kedelapan mayat korban helikopter tipe Medium Class AS365 N3+ Dauphin produksi PT Dirgantara Indonesia tahun 2015 itu tiba di Lanud Ahmad Yani, Semarang, Senin sekitar pukul 10.00 WIB.

Para korban dievakuasi dari lokasi ke RS Bhayangkara Semarang sejak pukul 03.00 WIB sampai pukul 09.17 WIB.

Dari hasil identifikasi diketahui bahwa mereka terdiri dari empat anggota Basarnas, yaitu Maulana Affandi, Nyoto Purwanto, Budi Restiyanto dan Catur Bambang. Empat korban lain adalah kru heli yakni Kapt. Laut Haryanto, Kapt. Laut Solihin, Serka Hari Marsono, dan Peltu Budi Santoso.

Jenazah dilepas dan diserahkan kepada keluarga melalui upacara militer, yang dipimpin Kepala Basarnas, Marsekal Muda TNI M. Syaugi, yang dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono.

Setelah diserahterimakan kepada keluarga, jenazah dibawa pulang ke rumah duka lewat darat dan udara. Lima jenazah diangkut dengan ambulan, sementara tiga jenazah tujuan Sidoarjo, Jawa Timur, dibawa menggunakan pesawat.

“Mereka gugur saat tugas belum usai. Mereka bahkan belum sempat istirahat, mereka adalah pejuang kemanusiaan yang gugur dalam tugasnya,” ujar Ganjar.

Penyelidikan

Heli naas tersebut jatuh di Gunung Botak, Temanggung, Jawa Tengah, karena diduga menabrak tebing, pukul 16:17 WIB Minggu saat dalam perjalanan memantau letusan kawah Sileri di Desa Kepakisan, Pegunungan Dieng.

Sebelum jatuh, heli bernomor HR 3602 itu menuju ke Semarang untuk mengisi bahan bakar dan menurunkan empat wartawan yang sempat ikut dalam penerbangan.

Helikopter berangkat dari Semarang pukul 16.00 WIB. Sekitar 17 menit kemudian, hilang kontak dan ditemukan jatuh di kawasan perbukitan.

Evakuasi para korban dimulai pukul 20.00 WIB dengan melibatkan tim SAR bersama TNI dan Polri.

“Kita bersinergi dengan berbagai pihak dan naik evakuasi pukul 20.00 WIB. Pada pukul 03.00 WIB sudah (berhasil) turun semua,” jelas Syaugi kepada wartawan.

Kepala Basarnas itu menambahkan untuk mengetahui penyebab jatuhnya heli, pihaknya menyerahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang memulai evakuasi badan helikopter dibantu Basarnas, TNI dan Polri.

“Kita nanti akan selidiki berkoordinasi dengan tim KNKT. Yang saya tahu seluruh kru dan anggota yang bertugas dalam kondisi sehat, helikopter juga layak terbang,” ujarnya.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya