Istri Santoso Diperiksa Menunggu Kesehatannya Pulih

Keisyah Aprilia
Palu
2016-07-26
Share
160726_ID_1000a.jpg Kapolda Sulteng Brigjen Pol. Rudy Sufahriadi (tengah) memperlihatkan foto Jumiatun, Muslimayatun alias Umi Delima dalam konfrensi pers di Palu, Sulawesi Tengah, 25 Juli 2016.
Keisyah Aprilia/Berita Benar

Jumiatun Muslimayatun alias Umi Delima, istri kedua pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah yang telah tewas, hingga kini masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kapolda Sulteng, Brigjen Pol. Rudy Sufahriadi menyebutkan, pemeriksaan kesehatan dilakukan setelah dia diistirahatkan pasca-penangkapan oleh tim Satgas Tinombala di pegunungan Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Sabtu lalu.

“Ketika ditangkap, kondisinya lemah sehingga harus menjalani perawatan intensif. Setelah diperiksa diketahui kalau dia mengidap penyakit kulit," katanya dalam jumpa pers di Palu, Senin, 25 Juli 2016.

Umi Delima ditangkap lima hari setelah suaminya, sosok paling dicari aparat keamanan dengan tuduhan terlibat serangkaian aksi terorisme, tewas ditembak dalam kontak senjata dengan pasukan TNI di pegunungan Tambarana.

Dalam kontak senjata yang juga menewaskan Mukhtar – seorang anggota MIT –  Umi Delima ada bersama Santoso. Dalam kelompok kecil Santoso itu diduga ada juga Basri alias Bagong dan istrinya, Murni Usman. Tapi mereka lolos dari kejaran aparat.

Menurut Rudy, Umi Delima tak mengidap penyakit parah meski kadar serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dalam darahnya lumayan tinggi.

“Secara keseluruhan dalam keadaan sehat. Suhu tubuhnya normal. Hanya SGOT agak naik sedikit, capek mungkin,” kata Rudy.

Setelah Umi Delima dirawat, Rumat Sakit Bhayangkara tampak dijaga ketat belasan Brimob bersenjata lengkap. Penjagaan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan ancaman dari pengikut Santoso.

Proses hukum

Ditanya proses hukum Umi Delima, Rudy menambahkan bahwa pemeriksaan terkait keterlibatannya di MIT - kelompok militan yang telah berbaiat kepada ISIS itu,  akan dilakukan setelah kondisi kesehatannya benar-benar pulih.

"Biar enak pemeriksaannya. Untuk proses hukumnya dilihat nanti hasil pemeriksaan, yang pasti dari bukti sementara dia terlibat dalam beberapa aksi MIT," jelas Rudy.

"Lihat nanti kalau dia kooperatif dan terbuka soal MIT pasti diringankan hukumannya. Sesuai intruksi bapak Kapolri, ia akan diperiksa penyidik Densus," tambahnya.

Dari bukti yang diperoleh Satgas Tinombala di Poso, Umi Delima juga ikut pelatihan yang digelar MIT. Malah perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat itu, dipersenjatai laras panjang jenis M-16 beserta amunisi.

Perempuan kelahiran 1994 itu bergabung bersama MIT pertengahan 2014 lalu. Umi Delima adalah janda seorang mujahidin di Bima. Dia ke Poso dan bergabung bersama MIT karena ingin balas dendam atas kematian suaminya yang ditembak mati aparat.

Andi Akbar, seorang anggota Tim Pengacara Muslim (TPM) Sulteng yang dikonfirmasi BeritaBenar mengaku bahwa belum menerima permohonan untuk mendampingi Umi Delima.

“Sampai hari ini belum ada permintaan. Kami menunggu saja. Untuk kesiapan, kami sangat siap jika dibutuhkan,” katanya seraya menambahkan terus memantau proses yang dijalani istri Santoso tersebut.

Pemakaman

Sementara itu, pemakaman Santoso dan Mukhtar telah dilakukan, Sabtu pekan lalu. Santoso dikuburkan di Desa Lanto Jaya, Kecamatan Poso Pesisir. Sedangkan Mukhtar dimakamkan di Kelurahan Lambara, Kecamatan Tawaeli, Palu.

Pemakaman Santoso cukup menyita perhatian petugas. Ribuan orang hadir untuk mengantar amir tertinggi MIT, yang oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah dimasukkan sebagai teroris global, ke tempat peristirahatan terahir.

Seorang saudara Mukhtar, Heriyanto mengatakan, jenazah adiknya dimakamkan di Lambara atas permintaan keluarga.

"Di sini (Lambara) rumah kakek kami. Keluarga kami banyak di sini, jadi diputuskan untuk dimakamkan di sini," katanya kepada BeritaBenar.

Heriyanto mengaku, sudah lama tidak bertemu Mukhtar. Terakhir, katanya, bertemu pada 2013 lalu. Di mata Heriyanto, Mukhtar adalah adik yang baik, penurut, dan tidak pernah meninggalkan shalat.

Pengejaran

Sementara itu, operasi pengejaran terhadap sisa pengikut MIT terus dilancarkan di Poso. Pasukan Satgas Tinombala memperlebar pengejaran dengan harapan bisa menangkap 18 pengikut Santoso yang masih bertahan dalam hutan.

"Setelah istri kedua Santoso ditangkap, otomatis jumlah mereka tinggal 18 orang. Harapan utama saat ini semoga mereka cepat tertangkap," ujar Kepala Satgas Operasi Tinombala, Kombes Pol. Leo Bona Lubis.

Dia menyebutkan, Polda sudah menyebarkan imbauan kepada pengikut MIT untuk menyerahkan diri.

"Maklumat itu agar seluruh pengikut MIT bisa turun gunung dan menjalani proses hukum," kata Leo, yang juga Wakapolda Sulteng.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya