Menjejak Kehidupan di Tapal Batas Negara

Komunitas Dayak di perbatasan tetap menjalin hubungan walau mereka berada di dua negara yang berbeda.
Severianus Endi
Lanjak, Kalbar
2017-11-02
Share
171102_ID_Borneo_1000.jpg Tugu Merah Putih sebagai peringatan peristiwa Konfrontasi Indonesia-Malaysia periode 1962-1966 di Desa Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, 28 Oktober 2017.
Severianus Endi/BeritaBenar

Pagi baru merekah di Desa Lanjak. Sejuk embun mengelus jantung Borneo yang mengiringi terik matahari. Uap kopi menggoda selera dari warung beratap terpal di pinggir “jalur sutra” lalu lintas dari dan ke negeri jiran.

“Silakan, Pak. Kopinya pakai gula Malaysia,” ujar Usman, kepada BeritaBenar, Sabtu, 28 Oktober 2017 lalu.

Lelaki 58 tahun itu bukan penduduk asli kawasan yang didiami komunitas Dayak Iban. Pria Dayak Kanayatn dari Kabupaten Landak berdomisili di Lanjak, pusat Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sejak 1986.

Tugasnya sebagai guru sekolah dasar membawanya dan keluarga tinggal di desa yang hingga kini masih dilintasi burung enggang — satwa setempat yang sudah langka.

Sejak dulu, warga akrab dengan produk Malaysia. Gula Malaysia jadi primadona. Kemasan rapi, bersih, dengan harga Rp11.000 per kilogram. Gula nasional jarang dijumpai di sini. Kalaupun ada, harganya mencapai Rp20.000 per kilogram.

Jarak tempuh dari ibu kota Pontianak, ke desa itu membuat segalanya mahal. Sekitar 20 jam naik mobil, atau seminggu dengan kapal motor menyusuri Sungai Kapuas. Dengan pesawat dari Pontianak ke ibu kota kabupaten, Putussibau, sekitar 1,5 jam ditambah perjalanan darat 2 jam.

“Kalau kurs ringgit naik, harga barang ikut naik. Produk Malaysia yang beredar di sini seperti minyak goreng dan gas elpiji,” lanjut Usman.

Dia menambahkan gas Malaysia lebih popular dengan tangki yang bersih dalam kemasan 16 kilogram seharga Rp150.000, cukup untuk keperluan memasak rumah tangga selama 1 1/2 bulan.

Gas nasional takaran 3 kilogram Rp30.000 per tabung, kondisi tangkinya kerap mengecewakan karena sering sudah berkarat.

Era 1990-an, Lanjak menjadi tempat yang makmur. Industri kayu gelondongan sedang marak. Uang seakan tidak bernilai.

Usman menikmati kejayaan itu, membuka warung kelontong, menjual produk Malaysia. Krisis moneter pada 1998, membuat industri kayu terhenti, satu per satu gulung tikar.

“Kami pernah menggunakan ringgit untuk bertransaksi di sini,” kenangnya.

Camat Batang Lupar, Rusdi Hartono, mengatakan sekitar 5,000 jiwa tinggal di kecamatan itu. Tak hanya kebutuhan pokok, warga terutama yang tinggal di desa-desa menggantungkan lapangan pekerjaan di negeri jiran.

“Di tiap kampung, hampir 60 persen warga bekerja di Malaysia ketika pekerjaan ladang sudah selesai,” ujarnya.

Umumnya, mereka jadi buruh perkebunan kelapa sawit, pembantu rumah tangga atau buruh bangunan. Peluang itu mudah mereka dapat karena masih terjalin hubungan kekerabatan antara komunitas Dayak Iban di kedua negara.

“Selain bekerja, kalangan mampu menguliahkan anak-anaknya di perguruan tinggi di Malaysia,” tambah Rusdi.

Ikau (25), pemuda Dayak Iban, mengisahkan, dia dibayar RM70 (Rp. 224.000) hingga RM80 (Rp.255.000) per hari sebagai buruh bangunan di Sarawak.

Jika musim berladang tiba, dia kembali ke kampungnya di Dusun Meliau, jauh di kedalaman belantara yang terpencil.

Sejumlah warga menggelar dagangan di Pasar Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, 28 Oktober 2017. (Severianus Endi/BeritaBenar)
Sejumlah warga menggelar dagangan di Pasar Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, 28 Oktober 2017. (Severianus Endi/BeritaBenar)
Severianus Endi/BeritaBenar

45 Menit

Dari Lanjak hanya butuh 45 menit ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau di Kecamatan Nanga Badau. Perbatasan itu terhubung dengan Kota Lubok Antu, Distrik Sri Aman, Sarawak. Di jalanan sering dijumpai mobil berplat Malaysia.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo meresmikan penggunaan PLBN Badau, pada 16 Maret 2017, setelah sebelumnya berstatus Pos Lintas Batas (PLB).

Kalimantan Barat memiliki lima kabupaten yang berbatasan dengan Sarawak, tiga di antaranya sudah ada PLBN.

Selain Badau, dua lagi adalah PLBN Entikong di Kabupaten Sanggau dan PLBN Aruk di Sambas. Border lain masih berupa PLB yakni di Kabupaten Sintang (PLB Jasa) dan Bengkayang (PLB Jagoi Babang).

Keberadaan PLBN kadang memberatkan masyarakat tradisional. Mereka tak bebas lagi keluar masuk negeri tetangga.

Bukan hanya urusan dagang, jauh sebelum batas negara ditetapkan, komunitas Dayak Iban kedua negara adalah satu kekerabatan. Mereka saling mengunjungi, bekerja sama mengelola ladang sesuai kalender pertanian.

Fransiska Mening (45), perempuan Dayak Kayaan, menangkap peluang bisnis aksesoris khas untuk dijual kepada para turis. Ia membuka galeri diberi nama “Kerawing”, nama putri pertamanya yang berarti bintang.

“Saya bisa berjualan di Sarawak selama satu bulan. Mereka lebih senang souvenir Dayak berwarna kuning dan hitam,” tutur Mening, yang mengumpulkan aneka gelang, kalung, pakaian, syal, dan tenun dari pengrajin lokal.

Fransiska Mening menata aneka aksesoris khas Dayak di Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, 28 Oktober 2017. (Severianus Endi/BeritaBenar)
Fransiska Mening menata aneka aksesoris khas Dayak di Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, 28 Oktober 2017. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Destinasi wisata

Lanjak juga menjadi pintu masuk ke Taman Nasional Danau Sentarum. Desa itu cukup ramai pada 25-29 Oktober lalu saat Festival Betung Kerihun dan Danau Sentarum, dua nama yang merujuk pada taman nasional itu.

Otoritas setempat ingin kawasan taman nasional jadi destinasi wisata dengan menawarkan alam Borneo, merasakan ritme kehidupan tradisional komunitas Dayak dan menyaksikan satwa liar seperti orangutan di habitat asli.

Mustarrudin (44) staf Pelayanan dan Pemanfaatan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum mengatakan, pembinaan remaja juga menjadi penyokong wisata.

Ia membina Pramuka dari empat kecamatan untuk belajar kehutanan, mengenal keanekaragaman hayati, sehingga siap menjadi pemandu bagi wisatawan.

Kawasan yang menjadi bagian jantung Borneo, membentang hingga Sarawak dan Brunai Darussalam itu, menyuguhkan banyak cerita kehidupan, termasuk di dalamnya potret ketertinggalan.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.