Follow us

Ratusan Personel Gabungan Mencari 20 Korban Longsor di Jawa Barat

BNPB: kawasan terdampak longsor di Desa Sirnaresmi itu seharusnya untuk konservasi bukan budidaya atau pemukiman.
Tia Asmara
Jakarta
2019-01-02
Email
Komentar
Share
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, 1 Januari 2019.
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, 1 Januari 2019.
Dok: Basarnas

Hampir seribu personel gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, para relawan dan masyarakat setempat dikerahkan untuk melakukan pencarian 20 warga yang tertimbun longsor di Sukabumi, Jawa Barat, di tengah harapan menemukan korban selamat makin menipis.

"Kami masih melakukan proses pencarian korban dan evakuasi. Sebanyak tiga alat berat dan dua anjing pelacak sudah dikerahkan untuk membantu pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, 2 Januari 2019.

Sebanyak 15 orang ditemukan meninggal dunia, tiga orang terluka dan 20 dinyatakan hilang setelah longsor menyusul hujan lebat menimbun 30 rumah di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 31 Desember lalu, sekitar pukul 17.30.

"Hujan deras yang terjadi terus menerus menyebabkan keretakan puncak bukit sehingga menjadi longsor," ujar Sutopo.

Dia menambahkan jenis tanah di lokasi bencana merupakan tanah poros dan gembur yang mudah menyerap air dan berpotensi menyebabkan longsor jika gundul.

"Seharusnya di sana jadi kawasan konservasi bukan budidaya atau pemukiman," katanya.

Diperkirakan terdapat 32 kepala keluarga dengan 101 jiwa tinggal di desa tersebut.

Dari 15 korban meninggal dunia, 11 di antaranya telah berhasil diidentifikasi.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sukabumi, Iwan Rahmawandi, mengatakan bahwa kondisi alam dan cuaca menjadi kendala bagi tim SAR gabungan dalam proses pencarian dan evakuasi korban.

"Kami terhambat karena cuaca buruk ditambah kendala jalan yang sempit dan terjal membuat tim harus waspada akan potensi longsor susulan," katanya saat dihubungi BeritaBenar melalui telpon.

Karena itu, timnya memutuskan untuk menghentikan lebih awal operasi pencarian hari Rabu menjadi pukul 13.00 WIB karena hujan terus menerus mengguyur lokasi sehingga membahayakan tim SAR di lapangan.

"Komunikasi terputus di sana, sinyal telepon di sana kurang bagus jadi informasi yang didapatkan juga sulit," katanya.

Beberapa kebutuhan mendesak antara lain, alat evakuasi seperti sekop, sarung tangan latex, alat komunikasi, personel dan relawan dan alat berat.

"Bantuan sedang dalam perjalanan. Terhambat karena kondisi lapangan juga sulit," kata Iwan.

Bupati Sukabumi, Marwan Hamami,  telah menetapkan masa tanggap darurat 7 hari sejak 31 Desember hingga 6 Januari 2019.

Bahaya longsor

Sutopo mengatakan bahwa setidaknya 40,9 juta jiwa di 274 kabupaten/kota di seluruh Indonesia terancam bahaya longsor.

Menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), 33 kecamatan di Sukabumi tercatat sebagai daerah berpotensi menengah dan tinggi untuk terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal.

"Banyak wilayah di Indonesia rawan longsor. Daerah rawan longsor tersebar sepanjang Bukit Barisan Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Papua," katanya.

Selama ini, lanjutnya, peta dan prediksi bencana selalu disampaikan pemerintah daerah namun pengetahuan masyarakat masih tergolong rendah.

"Banyak yang belum paham mengenai antisipasi apa yang menjadi penyebab longsor. Masyarakat tidak mendapatkan pendidikan kebencanaan dan mitigasi bencana," kata Sutopo.

Sementara itu, Kepala BNPB Willem Rampangilei ketika meninjau lokasi longsor di Desa Sirnarrsmi menyatakan bahwa pemerintah harus merelokasi sekitar 100 warga karena ancaman longsor masih berpotensi terjadi.

"Harus dilakukan relokasi. Pemda harus menyediakan lahan. Melihat kondisi tanah tak mungkin lagi untuk ditinggali," katanya kepada wartawan.

Perbaiki tata ruang

Dalam kunjungan ke Lampung Selatan, Lampung, Rabu, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengintruksikan jajaran Pemda untuk mengkaji ulang tata ruang dan wilayah di daerah pesisir.

"Perlu penataan ruang wilayah terutama di tempat yang banyak kemungkinan bencara terjadi terutama tsunami dan sekitar kawasan ring of fire," katanya dalam siaran pers.

Jokowi mengaku telah memerintahkan jajarannya untuk melakukan penanganan pascabencana tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018, dengan baik.

“Saya sudah sampaikan ke Bupati Lampung Selatan, Gubernur (Lampung), Menteri PU [Pekerjaan Umum], dan ke BNPB agar segera dilakukan penanganan, terutama setelah evakuasi selesai,” ujarnya.

Jokowi juga menjelaskan rumah akan segera dibangun bagi warga terdampak tsunami.

“Kita akan masuk ke situ, ke tahap rekonstruksi dan pembangunan. Tidak ada hunian sementara. Jadi langsung akan dibangun rumah tapi di kira-kira 400 meter dari sini. Ada tanah 2 hektare, direlokasi karena memang lokasinya di sini memang sangat rawan tsunami,” katanya.

Masa tanggap darurat di Lampung Selatan yang selesai pada 29 Desember 2018 lalu diperpanjang hingga 5 Januari 2019 lantaran masih ada korban belum ditemukan.

Paska hari ke-12 tsunami Selat Sunda, jumlah korban tewas menjadi 437, 14.059 orang luka, 10 dinyatakan hilang dan 36.923 masih mengungsi.

"Data hilang berkurang enam orang karena ditemukan selamat. Mereka ternyata ada di pengungsian," kata Sutopo.

Ia menjelaskan, banyaknya orang yang masih mengungsi karena takut potensi tsunami susulan.

Tampilan selengkapnya