Follow us

Pencarian Dihentikan, 32 Orang Tewas Akibat Longsor di Sukabumi

BNPB mencatat selama 10 tahun terakhir terjadi 132 kali longsor di Sukabumi.
Rina Chadijah
Jakarta
2019-01-07
Email
Komentar
Share
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, 5 Januari 2018.
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, 5 Januari 2018.
Dok: BNPB

 

Pencarian korban longsor di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat telah dihentikan, dan seorang korban tidak ditemukan, sementara 32 mayat berhasil dievakuasi.

Kapolda Jawa Barat, Irjen. Pol. Agung Budi Maryoto, mengatakan pihaknya bersama tim Basarnas, TNI dan warga setempat telah berupaya maksimal mencari para korban yang tertimbun longsor selama sepekan.

“Kondisi lumpur dan batu-batuan besar cukup sulit untuk digali petugas untuk mencari korban. Jadi diputuskan proses operasi pencarian dihentikan,” katanya saat dihubungi BeritaBenar, Senin 7 Januari 2019.

Longsor akibat hujan deras melanda kawasan Cisolok, pada Sabtu, 31 Desember 2018, mengakibatkan 100 orang kehilangan rumah mereka.

Selain 32 orang ditemukan tewas dalam upaya pencarian, tiga warga setempat juga mengalami patah tulang dan hingga kini masih dirawat di rumah sakit.

Sementara jenazah yang berhasil diidentifikasi juga telah diserahkan ke keluarga korban untuk dimakamkan.

Pada upaya pencarian hari terakhir, Minggu, tim evakuasi menemukan jenazah seorang perempuan atas nama Ariana (25), di balik timbunan longsor.

Dandim 0602/Serang Letkol. Inf. Haris Sukarman, mengatakan tim Satgas penanganan evakuasi bencana longsor Cisolok selanjutnya menyerahkan penanganan bencana ke pemerintah lokal.

"Masa tanggap darurat dari 31 Desember 2018 sampai 6 Januari sesuai keputusan bupati telah berakhir, untuk selanjutnya penanganan akan diserahkan kepada panitia lokal," ujarnya kepada wartawan.

Menurut Haris, upaya membantu warga korban longsor akan terus dilakukan dengan fokus pada upaya relokasi masyarakat yang terdampak bencana.

Selain itu pemerintah setempat juga terus berupaya membantu para korban dengan merencanakan pembangunan rumah baru bagi mereka.

“Kita akan fokus sekarang pada relokasi warga yang terdampak longsor. Kita berharap keluarga mengikhlaskan jenazah yang belum berhasil ditemukan,” ujarnya.

Ditampung di sekolah

Saat ini, para korban longsor ditampung gedung sekolah dasar dan sekolah menegah pertama Cimampag. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat di seputar sekolah.

Dipakainya sekolah sebagai lokasi menampung pengungsi, membuat aktivitas belajar mengajar di dua sekolah itu dihentikan sementara.

Sejumlah murid SD Cimampag tetap datang ke sekolah meski sekolah mereka dijadikan lokasi pengungsian, namun tak ada proses belajar mengajar pada hari pertama sekolah setelah libur semester.

Menurut wakil kepala sekolah SMP dan SD Cimampag, Asep Supriawan, pihaknya tidak dapat memulai proses belajar karena ruang kelas masih ditempati pengungsi. Lagi pula ada beberapa keluarga murid yang ikut menjadi korban.

“Proses belajar kita hentikan untuk sementara menunggu para pengungsi direlokasi ke tempat lain,” katanya saat dihubungi BeritaBenar.

Pihak sekolah berharap dengan berakhir masa tanggap darurat bencana dan dihentikan pencarian korban, ruang kelas yang dipakai posko pengungsi bisa kembali digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Rawan longsor

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Sukabumi adalah daerah dengan topografi yang rawan longsor dengan perbukitan dan tanah labil.

Selama 10 tahun terakhir, menurut BNPB, terjadi 132 kali longsor di Sukabumi. Beberapa kejadian di antaranya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwonugroho, mengatakan, longsor kerap terjadi di Sukabumi, seperti pada 28 Maret 2015 yang menewaskan 12 orang, 293 orang terdampak, dan 11 rumah rusak di Kecamatan Cireunghas.

“Kondisi topografi perbukitan dengan batuan penyusun yang porus, gembur, dan lepas menyebabkan mudah longsor. Banyaknya penduduk tinggal di daerah rawan longsor menyebabkan tingkat risiko longsor tinggi,” katanya dalam keterangan tertulisnya.

Dia meminta masyarakat dan pemerintah setempat memperhatikan mitigasi longsor dengan melakukan penguatan tebing, pemasangan sistem peringatan dini longsor, penghijauan dan lainnya.

Sutopo mengatakan mitigasi non-struktural juga harus dilakukan pemerintah setempat seperti pemetaan, sosialisasi, tata ruang, dan peningkatan pendidikan kebencanaan.

“Puncak musim penghujan sebagian besar wilayah Indonesia adalah Januari hingga F

Tampilan selengkapnya