Puluhan Migran Sri Lanka Terdampar di Perairan Aceh

Nurdin Hasan
Banda Aceh
2016-06-13
Share
160613_ID_SriLankaAceh_1000.jpg Pejabat Indonesia melempar bantuan untuk para pengungsi Sri Lanka yang terdampar di perairan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, 12 Juni 2016.
AFP

Puluhan migran Sri Lanka telah tiga hari bertahan dalam sebuah boat di perairan sekitar 300 meter dari pantai wisata Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, setelah kapal mesin yang membawa mereka terdampar karena mengalami kerusakan mesin, Sabtu, 11 Juni 2016.

Kepala Kantor Imigrasi Banda Aceh, Herry Sudiarto menyebutkan, kapal berukuran 17 x 5 meter itu mengangkut 44 orang terdiri dari 17 pria, 5 anak-anak dan 22 perempuan –termasuk seorang sedang hamil.

“Kondisi mereka sehat. Dokter yang ikut bersama tim gabungan sudah memeriksa para pengungsi. Mereka juga punya stok makanan cukup,” jelas Herry kepada BeritaBenar, Senin, 13 Juni 2016.

Dijelaskan bahwa kapal itu terdampar ketika sedang dalam perjalanan dari India menuju Christmas Island, Australia. Menurut informasi, kata Herry, para migran itu telah sebulan berada di laut.

“Tidak ada rencana untuk membawa mereka ke darat. Kita hanya memfasilitasi mereka dan membantu memperbaiki mesin. Kemudian diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan mereka,” katanya.

Alasan para migran Sri Lanka dari etnis Tamil itu tak diizinkan mendarat, tambah Harry, karena mereka tidak memiliki dokumen resmi. Apalagi mereka tujuannya ke Australia.

Herry menyatakan bahwa mesin yang rusak telah selesai diperbaiki, Minggu. Menjelang sore, kapal itu bergerak menuju ke tengah laut untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum mereka berangkat, pihak otoritas Indonesia juga memberikan makanan dan air bersih.

“Tetapi pada Minggu malam, mereka kembali lagi ke perairan dekat Lhoknga. Tidak jelas apa alasan mereka balik lagi. Apa mungkin karena ombak besar karena memang ombak cukup besar kemarin ditambah lagi hujan lebat,” katanya.

Dia menambahkan bahwa tim gabungan yang terdiri dari polisi, TNI dan imigrasi, Senin, ke lokasi untuk bernegosiasi dengan migran yang bertahan di perairan Lhoknga,  sekitar 15 kilometer baratlaut pusat ibukota Banda Aceh.

“Menurut informasi yang dilaporkan tim saya di lapangan, mereka minta minyak solar 7 ton, sementara kita bersedia memberikan 1 ton,” tambahnya.

Terombang-ambing

Syukri Affan, Panglima Laot Lhok Krueng Raba Lhoknga, menyebutkan kapal warna hijau bernomor lambung TN-1-FV-00455.09 itu pertama dilihat nelayan tradisional Aceh saat terombang-ambing di tengah laut, Sabtu pagi, 11 Juni lalu. Panglima laot ialah lembaga adat nelayan di Aceh.

Kemudian nelayan segera melaporkan tentang kapal berbendera India itu kepada Syukri, yang diteruskan ke otoritas keamanan. Selanjutnya tim dari berbagai pihak seperti TNI, Polri, paramedis dan nelayan menuju ke kapal itu.

“Petugas kesehatan sempat memeriksa kondisi mereka. Polisi dan TNI juga memeriksa dokumen-dokumen mereka,” kata Syukri kepada BeritaBenar, Senin.

Komandan Rayon Militer (Danramil) Lhoknga Mayor Inf. Darul Amin kepada wartawan menyatakan pejabat yang mendatangi kapal itu sempat berbicara dengan para migran Sri Lanka itu.

Dari pembicaraan tersebut, menurut Darul, diketahui kapal itu sedang menuju Australia, tapi mengalami kerusakan mesih sehingga terdampar di Aceh. Kemudian, teknisi dikirim untuk memperbaiki mesin.

“Mereka punya dokumen,” ujar Darul, tujuan mereka Australia, tapi mesin kapal rusak sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan.”

Etnis Tamil

Yayasan Geutanyoe dalam pernyataan pers yang diterima BeritaBenar mengharapkan agar diberikan pelayanan kesehatan dan perlindungan bagi para pencari suaka politik dari etnis Tamil tersebut.

Yayasan Geutanyoe ialah salah satu lembaga kemanusian yang saat ini membantu para pengungsi Rohingya di Aceh. Para pengungsi itu terdampar di Aceh, Mei tahun lalu. Tetapi sebagian besar pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke Malaysia.

Menurut Lilianne Fan, Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe, para migran Sri Lanka itu merupakan pencari suaka yang melarikan diri menyusul makin memburuknya situasi keamanan di bagian utara Sri Lanka.

Meski perang sipil di Sri Lanka yang menewaskan sekitar 100.000 orang telah berakhir pada 2009, kata Lilianne, tapi dalam beberapa bulan terakhir dilaporkan meningkatnya intimidasi terhadap etnik Tamil.

Selain itu, “Meningkatnya tindakan pelecehan terhadap wanita oleh sejumlah militer Sri Langka tampaknya menjadi alasan banyaknya wanita dan anak–anak melarikan diri dari negara tersebut,” katanya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya