Follow us

9 Parpol Diprediksi tak Lolos ke Senayan

Namun demikian parpol tetap optimis melewati 4% ambang batas parlemen.
Rina Chadijah
Jakarta
2019-04-12
Email
Komentar
Share
Bendera-bendera partai politik mewarnai Jembatan Pante Pirak, Banda Aceh, 12 April 2019.
Bendera-bendera partai politik mewarnai Jembatan Pante Pirak, Banda Aceh, 12 April 2019.
Nurdin Hasan/BeritaBenar

Sembilan dari 16 partai politik (parpol) peserta pemilu legislatif, 17 April 2019, diprediksi sejumlah lembaga survei tak punya wakilnya di Senayan karena tidak mampu melewati ambang batas parlemen sebesar empat persen.

Parpol pengusung utama calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres) yaitu PDIP dan Gerindra diyakini bakal meraup keuntungan suara besar dan berpotensi memenangi Pemilu.

Peneliti Charta Politika, Ardha Ranadireksa ketika diwawancara BeritaBenar, Jumat, 12 April 2019, mengatakan berdasarkan hasil survei yang digelar pihaknya pada 12 hingga 25 Maret 2019, terdapat sembilan parpol tidak mendapat kursi DPR RI.

Kesembilan parpol itu ialah PAN (3,3 persen), PPP (2,4 persen), PSI (2,2 persen), Perindo (2,0 persen), Hanura (1,0 persen), PBB (0,5 persen), PKPI (0,2 persen), GARUDA (0,2 persen) dan Partai Berkarya (0,1 persen).

"PAN dan PPP secara statistik memang masih berpeluang lolos, sementara Nasdem dan PKS berdasarkan survei kami juga belum aman," katanya.

Berdasarkan survei Charta Politika, hanya lima partai yang lolos ke Senayan yaitu PDIP (25,3 persen), Gerindra (16,2 pesen), Demokrat (5,2 persen) Nasdem (5,2 persen) dan PKS (5,0 persen).

Menurut Ardha, parpol baru seperti PSI yang sempat mendapat perhatian karena berupaya menggarap pemilih muda dan milenial juga tak banyak mendapatkan tempat di hati masyarakat.

“Salah satu faktornya karena tidak ada tokoh kuat yang dimiliki serta dipengaruhi oleh isu yang diusung,” ujarnya.

Hasil survei yang dilakukan Indopolling Network pada 3-8 April 2019 menempatkan enam parpol lolos ke Senayan: PDIP (26,4%), disusul Gerindra (14,6%), Golkar (11,1%), Demokrat (7,5%), PKB (6,2%) dan PKS (4,4%).

Sedangkan sembilan parpol lain mendapat kurang empat persen suara dan 16,6 persen tidak menentukan pilihan dalam survei yang melibatkan 1.080 responden dari seluruh wilayah Indonesia dengan margin of error sebesar 2,98 persen.

Lebih dari 192 juta pemilih akan datang ke pemungutan suara pada Rabu depan untuk memilih presiden dan wakil presiden, para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mulai tingkat nasional, provinsi hingga kabupaten dan kota.

Tak jauh berbeda hasil survei Indikator Politik Indonesia, pada 22-20 Maret 2019 dimana menempatkan PDIP di posisi pertama (24,2%), kemudian Gerindra (11,7%), disusul masing-masing oleh Golkar, PKB, Demokrat, PKS, Nasdemm dan PPP dengan jangkauan suara berkisar 11,5% hingga 4,9%.

Hendro Prasetyo, peneliti Indikator Politik Indonesia menyebutkan, PDIP dan Gerindra punya peluang besar memenangkan Pemilu karena pengusung utama pasangan capres-cawapres.

PDIP yang diketuai Megawati Sukarnoputri sejak awal mengusung calon petahana Joko “Jokowi” Widodo, sementara penantangnya Prabowo Subianto adalah Ketua Umum Gerindra.

“Faktor punya calon presiden sangat menentukan bagi partai untuk meraih suara,” ujarnya saat dihubungi.

Hendro menambahkan, tak banyak dampak elektoral diperoleh partai pengusung dan pendukung capres sebab meski banyak pemilih menyukai Jokowi atau Prabowo, mereka akan lebih memilih partai asal sang kandidat.

“Misalnya Nasdem. Meski selalu mengampanyekan Jokowi, perolehan suara mereka tak terlalu besar dan bahkan beberapa hasil survei posisi mereka di bawah,” ujarnya.

Parlemen hasil Pemilu 2014 dikuasai 10 parpol yaitu PDIP, Golkar, Demokrat, Gerindra, PKB, PKS, PAN, PPP, Nasdem dan Hanura.

Tidak terlalu berdampak

Peneliti politik Saiful Mujani Reserch and Consulting SMRC, Sirojuddin Abbas, menyebut pemilu yang berjalan serentak untuk memilih anggota parlemen dan presiden membuat parpol mengandalkan militansi kadernya untuk meraih suara.

Sejak awal disadari parpol yang tak punya calon presiden maupun wakil presiden tidak bakal mendapatkan perolehan suara maksimal, katanya.

Menurut dia, salah satu parpol yang berupaya memperjuangkan perolehan suara tanpa berharap efek domino dari capres adalah Demokrat.

Meski resmi mendukung Prabowo, namun parpol besutan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu membebaskan kadernya untuk memilih capres.

“Di beberapa daerah bahkan kepala daerah yang merupakan kader Demokrat terang-terangan mendukung Jokowi. Ini salah satu strategi untuk menyelamatkan suara partai,” kata Sirojuddin kepada BeritaBenar.

Menurutnya, selain elektabilitas dan ketokohan, publik menilai parpol dari kinerjanya dan masalah yang membelit partai juga akan sangat mempengaruhi perolehan suara.

Misalnya PPP, yang ketua umumnya Romahurmuziy ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Maret lalu, karena terlibat kasus suap jual beli jabatan akan berpengaruh pada perolehan suara parpol berlambang Ka’bah tersebut.

Menguatnya politik identitas, tambah Sirojuddin, juga tidak akan berdampak signifikan terhadap suara partai politik berbasil Islam seperti PKS dan PAN.

"Selama ini isu agama hanya dijadikan alat dan masyarakat saya kira cukup cerdas dalam melihatnya," ujarnya.

Ardha menambahkan meski punya basis massa militan, PKS juga kini tak memiliki tokoh yang kuat untuk menarik simpati pemilih.

"Massa FPI yang ikut berada di barisan Prabowo tak lantas akan memilih PKS. Ada yang terpecah ke Gerindra yang nasionalis, atau PAN dan bahkan ke PBB yang mendukung Jokowi. Karena mereka memiliki karakter dan doktrin berbeda," katanya.

Masih optimis

Menjelang hari pencoblosan, sejumlah parpol optimis akan melewati ambang batas parlemen meski diprediksi tidak lolos ke Senayan.

Anggota Dewan Pertimbangan DPP Nasdem, Sugeng Suparwoto, mengatakan pihaknya yakin masih berada di parlemen dan mencapai target kursi maksimal.

"Dengan politik tanpa mahar, kami yakin akan mendapat simpati dan dipilih rakyat," ujarnya.

Sementara, Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni mengatakan meski masuk dalam zona degradasi dari sejumlah survei, mereka akan mampu menempatkan wakilnya di Senayan.

"Kita terus berupaya kampanye door to door. Kita mengetuk pintu hati masyarakat melalui rumah ke rumah dan juga mengetuk pintu langit," katanya saat dihubungi.

Arsul Sani, Sekjen PPP, yakin badai yang menimpa partainya tak akan berpengaruh besar terhadap perolehan suara.

"PPP adalah partai Islam yang sudah lama mengikuti pemilu dan kami yakin akan tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat," katanya.

Tampilan selengkapnya