Indonesia, Malaysia, dan Filipina Siap Luncurkan Patroli Maritim Bersama

Pejabat mengkonfirmasi upaya untuk mencegah pembajakan di Laut Sulu tersebut diharapkan dimulai April.
Hata Wahari & Ismira Lutfia Tisnadibrata
2017.03.13
Kuala Lumpur & Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
170313-PH-ID-MY-patrols-620.jpg Dalam foto yang dirilis pada 21 Februari 2017 ini, staf penjaga pantai Filipina menjaga kapal kargo Vietnam setelah kapal tersebut diserang oleh sekelompok orang bersenjata yang tidak diketahui pada 19 Februari 2017 di dekat perairan Malaysia.
[AFP/Penjaga Pantai Filipina]

Indonesia, Malaysia, dan Filipina akan meluncurkan patroli maritim bersama di Laut Sulu bulan depan untuk melindungi awak kapal dari pembajakan dan penculikan, demikian disampaikan pejabat ketiga negara tersebut.

Menteri Pertahanan(Menhan) Malaysia Hishammuddin Hussein menegaskan rencana peluncuran pada hari Senin menyusul informasi serupa pekan lalu dari juru bicara kementerian pertahanan Indonesia dan Menhan Filipina, Delfin Lorenzana.

"Peluncuran ini mengikuti kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan antara tiga menteri pertahanan – saya sendiri, Ryamizard Ryacudu, dan Lorenzana dalam pertemuan trilateral yang keempat pada 17 November, 2016, setelah pertemuan ke-10 Menteri Pertahanan ASEAN," kata Hishammuddin kepada BeritaBenar.

"Inisiatif Laut Sulu meliputi operasi pelatihan bersama, patroli maritim terkoordinasi, patroli udara di perairan maritim dan garis pantai dekat pantai timur Malaysia termasuk prosedur operasi standar untuk pengejaran ke perairan Filipina," katanya.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte tahun lalu memberikan lampu hijau terhadap Malaysia dan Indonesia untuk mengejar kapal-kapal para militan ke perairan Filipina dan menangkap penculik serta membebas sandera mereka.

Juru bicara Indonesia mengatakan peluncuran “Kerjasama trilateral keamanan maritim akan diawali dengan soft lauching untuk kegiatan port visit pada 11 April 2017 di Sandakan, Malaysia. Ketiga Menhan akan hadir pada acara tersebut."

31 sandera

Pejabat urusan luar negeri dan pertahanan ketiga negara memulai pembicaraan tahun lalu tentang pentingnya patroli bersama di daerah yang telah dirusak oleh pembajakan dan penculikan terkait dengan Abu Sayyaf Group (ASG), sebuah kelompok militan yang berbasis di Filipina Selatan yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Pada bulan Mei 2016, para menteri luar negeri sepakat untuk meluncurkan patroli bersama demi melindungi kapal dan awaknya. Sebulan kemudian, para Menhan mengadakan diskusi lebih lanjut tentang rencana tersebut, termasuk fokus pada koordinasi patroli udara-laut.

Pada bulan November, Kadispen Mabes TNI, Brigjen (TNI) Wuryanto mengatakan serangkaian halangan memperlambat upaya peluncuran patroli itu.

“Untuk perjanjian tiga negara belum dilaksanakan, masih tertahan di Kemenhan (Kementerian Pertahanan). Sampai saat ini, Kemenhan belum menyampaikan ke TNI bagaimana mekanisme patroli akan dilakukan, secara teknis belum tahu seperti apa nantinya,” ujarnya kepada BeritaBenar, November lalu.

Dia menegaskan TNI siap melaksanakan patroli bersama segera, menyusul banyak penculikan dan perompakan.

“Semoga secepatnya bisa kita lakukan. Kita tidak mungkin terus membiarkan,” tegasnya, “kita tentunya malu ada penculikan lagi, dan lagi.”

Pada bulan Desember, personel keamanan Malaysia menewaskan tiga orang bersenjata dan menangkap dua orang lainnya dalam tembak-menembak di Sabah Malaysia.

Baku tembak itu terjadi setelah tujuh orang dalam sebuah perahu yang dicurigai bersenjata dan warga Filipina menyerang tiga kapal di wilayah sekitar Semporna, sebuah kota di pantai timur Sabah dekat Filipina selatan.

Pekan lalu, Lorenzana mengatakan ASG menawan 31 sandera termasuk enam pelaut Vietnam yang diserang di kapal kargo mereka di perairan Filipina selatan bulan lalu, menurut Agence France-Presse.

Lima warga Malaysia dan dua pelaut Indonesia termasuk dalam ke-31 tawanan ASG. Para pembajak menculik total 27 orang Indonesia dan 10 warga Malaysia pada tahun 2016, yang sebagian besar telah dibebaskan.

Pada tahun 2016, ASG memperoleh setidaknya 354.100.000 Filipina peso (Rp97,5 milyar) dari tebusan yang dibayar para sandera, seperti dilaporkan Rappler.com yang berbasis di Filipina.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.