Kementerian Kesehatan Minta Peningkatan Kewaspadaan Soal Hepatitis Akut

Tiga anak di Indonesia meninggal dengan gejala penyakit tersebut bulan lalu; lebih dari 170-an meninggal di seluruh dunia.
Arie Firdaus
2022.05.04
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Kementerian Kesehatan Minta Peningkatan Kewaspadaan Soal Hepatitis Akut Seorang tenaga kesehatan memberikan vitamin kepada seorang balita sesudah melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di sebuah Puskesmas di Banda Aceh, 14 Februari 2022.
AFP

Kementerian Kesehatan meminta pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan tenaga medis meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus hepatitis akut setelah tiga anak meninggal akibat kerusakan hati yang tidak diketahui sebabnya, demikian surat edaran kementerian yang dipublikasikan pada Rabu (4/5).

Tiga pasien anak meninggal dunia dalam rentang dua pekan bulan lalu usai sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta. 

Mereka merupakan pasien rujukan dari rumah sakit di kawasan Jakarta Barat dan Timur dengan gejala awal berupa mual, muntah, diare berat, demam, kejang, perubahan kulit berwarna kuning, dan penurunan kesadaran.

“Surat Edaran ini dimaksudkan untuk meningkatkan dukungan Pemda, fasilitas pelayanan kesehatan, kantor kesehatan pelabuhan, SDM kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait kewaspadaan dini penemuan kasus,” tulis kementerian.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi membenarkan surat edaran tersebut sembari meminta masyarakat tetap tenang dan berhati-hati serta giat melakukan pencegahan seperti mencuci tangan, mengonsumsi makanan matang, serta tidak bertukar alat makan.

“Kemenkes masih menginvestigasi penyebabnya melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap,” kata Nadia.

“Saat ini belum ditemukan tambahan kasus hepatitis akut baru.”

World Health Organization (WHO) menetapkan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya itu sebagai kejadian luar biasa (KLB) pada 15 April 2022 dan catatan kasusnya terus meningkat seiring waktu.

Per 21 April, WHO telah melaporkan 169 kasus di 12 negara, dengan catatan terbesar dilaporkan Inggris yang mencatat 114 kasus, Spanyol (13), Israel (12), dan Amerika Serikat (9).

Beberapa instruksi yang disampaikan kementerian, mengutip surat edaran, yakni memantau perkembangan kasus sindrom sakit kuning (jaundice) akut di daerah masing-masing, terkhusus untuk pasien di bawah 16 tahun.

Dinas kesehatan daerah juga diminta melaporkan kasus jaundice akut ke layanan pemerintah yaitu Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons dan berkoordinasi dengan laboratorium keseharan serta rumah sakit.

Sindrom jaundice merupakan suatu kondisi medis yang ditandai perubahan warna kekuningan pada kulit bagian putih mata, dan urin berwarna gelap yang timbul mendadak.

“Dinas kesehatan daerah membangun dan memperkuat jejaring surveilans dengan lintas program dan sektor terutama dinas pendidikan serta kantor wilayah kementerian agama,” lanjut surat edaran tersebut.

Guna mengontrol laju penyebaran, Kementerian Kesehatan juga meminta Kantor Kesehatan Pelabuhan untuk meningkatkan pengawasan terhadap penumpang dan kru, alat angkut, barang bawaan, terutama yang berasal dari negara terjangkit.

Kementerian juga meminta otoritas mengintensifkan koordinasi dengan Imigrasi dalam penelusuran data ketika menemukan kasus dari warga asing dan koordinasi dengan maskapai untuk mendeteksi penumpang dengan sindrom jaundice.

Ditambahkan Nadia, hepatitis biasanya menular melalui kontak dengan darah dan saluran pencernaan yang dikenal sebagai penyakit yang dibawa oleh makanan (food-borne disease).

Menurut WHO, food-borne disease adalah penyakit yang dibawa sebuah makanan akibat terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit yang terjadi baik pada saat produksi, pengiriman, atau saat konsumsi.

Masih diteliti

Belum diketahui secara pasti penyebab dari penyakit hepatitis akut itu. Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban lewat akun twitter resminya @profesorzubairi mengatakan musabab kasus masih diteliti para ahli.

“Para ahli sedang menyelidi, termasuk di Indonesia. Sebagian ketemu Adenovirus 41, sebagian ketemu SARS-CoV1, sebagian kombinasi dua virus itu, dan masih mungkin dipicu penyebab lain,” ujar Zubairi.

Serupa pernyataan epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman kepada BenarNews yang mengatakan bahwa kemunculan hepatitis akut masih misteri hingga kini.

Menanggapi beragam spekulasi yang menyebar di ranah maya apakah penyakit itu merupakan pengembangan dari salah satu varian Omicron, Dicky mengatakan, “Apakah terkait mutasi virus corona, masih belum bisa dijawab,” kata Dicky.

Salah satu kajian Kementerian Kesehatan Israel menyatakan bahwa kemunculan hepatitis akut diduga berkaitan dengan subvarian Omicron BA 2.

Merujuk pemberitaan Haaretz yang dilansir pada 21 April 2022, 11 dari 12 anak yang terpapar hepatitis akut pernah terinfeksi COVID-19 pada tahun sebelumnya. Mereka juga dilaporkan belum pernah menerima vaksin.

“Ada juga hipotesa di Eropa yang menduga ini akibat subvarian COVID-19, tapi pemicu pasti masih belum dipastikan,” ujar Dicky.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya