Polisi Filipina Menangkap Terduga Militan Indonesia

Mushalah Somina Rasim (alias Abu Omar) ditangkap di Sultan Kudarat, sebuah provinsi di wilayah selatan
Mark Navales dan Jeoffrey Maitem
Kota Cotabato, Filipina
2018-03-14
Share
Biff-620 Para anggota Pejuang Islam Bangsamoro, grup militan yang terkait dengan IS, terlihat sedang berpatroli di desa di selatan Filipina, provinsi Maguindanao di pulau Mindanao, Oktober 2012.
Jeoffrey Maitem/BenarNews

Pasukan keamanan Filipina menangkap seorang warga negara Indonesia berusia 32 tahun di kawasan selatan Filipina. Polisi mengatakan pada hari Rabu bahwa pria tersebut dicurigai sebagai militan dan diduga mempunyai kaitan dengan kelompok ekstremis Negara Islam (IS).

Polisi mengidentifikasi tersangka bernama Mushalah Somina Rasim (juga dikenal sebagai Abu Omar) dan yang bersangkutan sedang menjalani pemeriksaan oleh polisi di Kota General Santos di pulau Mindanao setelah ditangkap akhir pekan lalu di Palimbang, sebuah kota di provinsi Sultan Kudarat, ujar seorang pejabat senior.

“Dia sedang ditahan dan kami sedang menginterogasinya,” ujar kepala kepolisian Sultan Kudarat, Supt. Senior. Raul Supiter kepada BeritaBenar. “Ada upaya kerjasama keamanan transnasional antara pemerintah Filipina dengan pemerintah Indonesia. Pejabat-pejabat senior kami akan menginisiasi prosedur yang tepat untuk kasus Rasim ini.”

Supiter menolak untuk menjelaskan detil lebih banyak namun dia mengatakan bahwa warga Palimbang menjadi curiga ketika Rasim menanyakan pada mereka keberadaan Mohammad Jaafar Sabewang Maguid, yang juga dikenal sebagai “Tokboy.” Maguid, yang tewas dalam pertempuran dengan polisi Januari tahun lalu, adalah pimpinan kelompok militan berafiliasi ke IS cabang Filipina, Ansarul Khilafa. Grup kecil ini mengklaim punya afiliasi di seluruh dunia termasuk di Filipina selatan, dimana kelompok yang mengaku sebagai cabang setempat sudah menyatakan sumpah setia kepada IS.

Anggota-anggota cabang kelompok tersebut di Mindanao, Khalifa Islamiyah Mindanao, diyakini telah mendapat pelatihan pembuatan bom oleh militan-militan asal Indonesia dan Malaysia. Kelompok Maguid ini dituduh sebagai dalang serangan granat di 2015 yang menewaskan seorang petugas polisi dan melukai puluhan warga sipil lainnya di kota wilayah selatan, Maasim.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi mengatakan dalam keterangan pers melalui video dari Moskow, 14 Maret 2018, bahwa pihaknya sudah mendapatkan informasi bahwa ada seseorang yang diduga warga negara Indonesia yang ditangkap di Marawi namun Retno menolak untuk berkomentar karena belum memverifikasi data-data yang bersangkutan.

“Setiap kali ada informasi seperti ini kita biasanya verifikasi dulu, informasinya, data-datanya seperti apa, karena ada beberapa hal misalnya, kabar warga negara kita yang ditangkap atau terlibat di daerah konflik, namun setelah diverifikasi tidak semua informasi yang kita terima adalah benar,” ujar Retno.

Kasus warga Mesir diberhentikan

Minggu lalu, Departemen Kehakiman Filipina memberhentikan kasus kriminal yang dilaporkan oleh militer dan kepolisian Filipina terhadap seorang warga negara Mesir yang dicurigai sebagai komandan IS dan pasangannya, seorang Filipina. Fehmi Lassoued dan An­abel Mon­cera Sali­pada, 32 tahun, ditangkap di Manila bulan lalu.

Polisi menemukan berbagai senjata api, termasuk amunisi dan bahan-bahan untuk membuat bom ketika menggeledah apartemen mereka.

Namun dalam putusan sebanyak tujuh halaman, Asisten Senior Jaksa, Peter Ong memberhentikan kasus pemilikan bahan peledak dan senjata api secara ilegal terhadap kedua tersangka. Lassoued adalah salah satu dari warga-warga asing yang diduga terkait IS yang ditangkap dalam beberapa bulan belakangan. Seorang berkebangsaan Spanyol dan dua pria asal Timur Tengah ditahan atas kasus yang berbeda dengan tuduhan terkait terorisme.

Direktur Polisi Nasional Filipina Ronald dela Rosa sebelumnya mengklaim bahwa pihak berwajib telah memantau sekitar 40 terduga teroris yang dilaporkan telah masuk Mindanao.

Tahun lalu, lebih dari 1,200 orang terbunuh dalam pertempuran selama lima bulan ketika kelompok militan yang dipimpin Isnilon Hapilon – yang diakui sebagai pimpinan setempat untuk IS cabang Filipina – sempat mengambil alih Marawi.

Hapilon serta beberapa pimpinan militan Filipina tewas dalam pertempuran di bulan Oktober, yang mengakhiri blokade mereka di kota tersebut. Beberapa militan asal Asia Tenggara dan Timur Tengah juga diyakini tewas dalam pertempuran tersebut.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya