Pondok Natal, Tradisi Umat Kristiani di Papua

Victor Mambor
Jayapura
2015-12-24
Share
pondoknatal_620 Sebuah pondok Natal di jalan utama antara Abepura dan Sentani, Jayapura, Rabu 23 Desember 2015.
Photo: BenarNews

Setiap tahun, perayaan Natal di Papua selalu diawali dengan pembangunan pondok-pondok oleh para pemuda gereja.

Pondok-pondok Natal dihiasi berbagai pernik mulai dari boneka Santa Claus, pohon Natal, lonceng, miniatur gereja hingga lampu hias.

Dari pondok-pondok Natal terdengar alunan lagu-lagu rohani. Saat malam, pondok-pondok Natal semakin indah karena lampu warna-warni menyala hingga menjelang pagi hari.

Setiap pondok Natal pasti punya ciri khas sendiri. Pemuda gereja yang membangun pondok Natal selalu berlomba dalam kreativitas. Itu pula alasannya dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Jayapura melombakan pondok Natal.

Entah kapan tradisi pondok Natal dimulai. Tidak ada informasi jelas tentang siapa yang memulai pembangunan pondok Natal. Namun kini di hampir setiap daerah di Papua, pondok Natal seolah menjadi satu keharusan bagi pemuda gereja dalam menyambut Natal dan Tahun Baru.

Pondok Natal tak hanya dibangun di pinggir jalan, depan rumah atau depan kantor pemerintah maupun swasta, tapi bisa juga dijumpai di pos TNI maupun pos jaga milik polisi.

Pendeta Herman Saud, mantan Ketua Sinode GKI di Tanah Papua (1996-2005) mengaku tidak tahu kapan awalnya pondok Natal menjadi tradisi di tanah Papua. Dia sepakat jika pondok Natal yang dibangun para pemuda gereja harus mengedepankan kreativitas.

“Kapan orang mulai bikin pondok Natal menjelang Natal, saya tak tahu. Tapi saat saya menjadi ketua Sinode GKI Tanah Papua, sudah banyak yang bikin pondok Natal,” katanya kepada BeritaBenar, Rabu 23 Desember.

Dia menambahkan bahwa pondok Natal bukan hanya ditemukan di Jayapura, tetapi mulai merata di Sorong, Manokwari, Wamena, Merauke, Sarmi sampai di Keerom.

“Saya menangkap, mereka menganggap pondok Natal sebagai simbol kelahiran bayi Yesus Kristus di kandang Betlehem ribuan tahun lalu. Saya suka kreativitas pemuda gereja yang seperti ini,” tutur Herman.

Kreativitas pemuda gereja

Menurut Herman, kreativitas pemuda gereja harus disalurkan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru agar mereka tak berperilaku berlebihan selama perayaan Natal hingga menyambut Tahun Baru.

“Karena setiap pondok Natal harus berbeda dan memiliki ciri khusus, para pemuda gereja dituntut kreativitasnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan pondok Natal di Polimak, Kota Jayapura, yang menggunakan botol plastik bekas dan ditata rapi hingga menyerupai pohon Natal.

Hengki Rumere, seorang pemuda gereja di Polimak mengaku sulit mendapat botol plastik bekas yang mereka gunakan itu.

“Kami butuh lebih dari 1.000 botol plastik untuk bikin pohon Natal ini. Kalau tak ada pohon Natal, pondok kami pasti sama dengan pondok lainnya,” kata Hengki, kepada Berita Benar.

Ia puas karena berhasil membangun pondok Natal. Malah, pondok Natal yang dibuat Hengki dan rekan-rekannya diikutkan dalam kompetisi Pondok Natal yang digelar Pemerintah Kota Jayapura.

Tapi ikut lomba bukan motivasi utama. Mereka membangun pondok Natal karena sudah menjadi tradisi setiap tahun di hampir seluruh tanah Papua.

“Kalau pemuda tidak bikin pondok Natal di kompleks, orang-orang tua dong (mereka) tanya,” jelas Hengki.

Dong bilang dulu dong bisa bikin pondok Natal, kenapa sekarang pemuda gereja tra (tidak) bisa? Nanti mereka bilang kita pemalas,” tambahnya.

Hengki juga tidak tahu kapan mulanya tradisi pondok Natal dimulai. Orang-orang tua di kompleks tempat tinggalnya juga tak memiliki informasi soal itu.

Simbol toleransi

Umumnya pondok Natal dibuat pemuda gereja. Namun banyak juga pondok Natal yang dibangun di kompleks perumahan warga melibatkan Muslim dari tahun ke tahun.

Syarifudin Galu, Imam Masjid Jabal Qubais di Santa Rosa, Kota Jayapura mengaku partisipasi warga Muslim sebagai bentuk toleransi umat beragama.

Selama ini, katanya, umat Kristiani memberikan toleransi kepada Muslim. Salah satu indikatornya adalah Muslim dapat mengumandangkan adzan saat hendak beribadah menggunakan pengeras suara.

“Dalam ajaran agama sangat penting toleransi dan saling menghargai antarumat beragama. Ini yang mendorong jamaah kami ikut membantu para pemuda di sini membuat pondok Natal mereka,” kata Syarifudin.

Pria yang  sudah menjadi imam masjid selama sepuluh tahun ini mengatakan bahwa perilaku yang baik adalah salah satu tindakan yang mendatangkan damai dan itulah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

Keterlibatan Muslim diakui Denis Paneke yang bersama rekan-rekannya mendirikan pondok Natal di kompleks tempat tinggalnya.

“Kami bangun pondok Natal tidak sendirian. Tiap tahun kawan-kawan Muslim datang bantu kami membangun pondok ini,” kata Denis.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya