Follow us

Baku Tembak di Poso, Satu Anggota Satgas Operasi Tinombala Terluka

Polda Sulteng meyakini ada 13 buronan MIT yang tersisa.
Keisyah Aprilia
Palu
2020-06-08
Email
Komentar
Share
Kapolda Sulteng Irjen Pol. Syafril Nursal memberikan keterangan kepada sejumlah jurnalis di Palu, Senin, 8 Juni 2020.
Kapolda Sulteng Irjen Pol. Syafril Nursal memberikan keterangan kepada sejumlah jurnalis di Palu, Senin, 8 Juni 2020.
Keisyah Aprilia/BenarNews

Satu anggota polisi terluka dalam baku tembak antara petugas keamanan dengan orang yang diduga anggota kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah, kata kepolisian, Senin (8/6).

Kapolda Sulteng Irjen Syafril Nursal mengatakan baku tembak terjadi antara anggota Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala dan beberapa terduga anggota MIT, Minggu sore di Desa Kawende, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Tinombala yang merupakan operasi gabungan TNI-polisi dibentuk pada tahun 2016 dengan tujuan memburu anggota MIT, kelompok yang telah berafiliasi dengan ISIS, yang berdasarkan investigasi aparat berada berada di balik sejumlah tindak kriminal dan pembunuhan warga sipil di Poso, beberapa diantaranya dengan cara yang kejam, seperti pemenggalan kepala.

Kapolda mengatakan baku tempak pada hari Minggu itu terjadi ketika anggota satgas yang tengah melakukan patroli rutin dari arah pegunungan dan melihat kelompok orang yang tidak dikenal berjarak sekitar 100 meter.

Setelah diamati terlihat kalau salah satu dari orang itu adalah salah satu buron anggota MIT bernama Khairulm, alias Aslam, yang terlihat menggunakan pakaian loreng Brimob.

“Saat melihat itu komandan Tim Alfa 9 Satgas Tinombala langsung melepaskan tembakan sehingga terjadi baku tembak,” kata Syafril kepada BenarNews di Palu, Senin.

“Diperkirakan Khairul terkena tembakan. Namun karena cuaca hujan dan gelap Satgas menunda melakukan penyisiran,” ungkapnya.

Selain menduga salah satu anggota MIT terkena tembakan, lanjut Kapolda, komandan Tim Alfa 9, Ipda Masda terkena tembakan di bagian bahu kanan atas.

“Sekarang komandan tim menerima perawatan medis di rumah sakit setelah sebelumnya dievakuasi di pos sekat Desa Kawende,” jelas Kapolda.

Pada hari Senin pasukan keamanan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) seraya melanjutkan penyisiran.

“Penyisiran dilakukan karena diduga kelompok itu belum jauh dari TKP. Cuman karena hafal dengan medan makanya cepat menghilang. Kemungkinan mereka bersembunyi di sekitar,” ujar Syafril.

Baku tembak hari Minggu menyusul tewasnya dua pemuda yang diduga tewas ditangan anggota petugas Tinombala akibat salah sasaran pekan lalu.

Tewasnya dua orang petani bernama Firman (17) dan Syarifudding (25) memicu tuntutan oleh kelompok masyarakat agar pemerintah mengakhiri operasi Tinombala, yang merupakan perpanjangan dari operasi Camar Maleo pada tahun 2015.

Sebelumnya, anak muda berusia 20 tahun, Qidam Alfariski Mofance, tewas dengan luka tembak dan tanda penyiksaan yang diduga dilakukan oleh anggota satgas Tinombala di Kecamatan Poso Pesisir Utara pada 9 April.

Polda Sulteng mengatakan satu regu Tinombala telah diminta keterangan terkait tewasnya dua pemuda pekan lalu.

Pada bulan April dua mayat petani ditemukan di Poso, satunya dengan leher tergorok dan yang lainnya dengan kepala dipenggal. Sebuah video beredar pada bulan yang sama memperlihatkan orang yang mengaku sebagai pimpinan MIT, Ali Kalora, berada di depan bendera ISIS, mengimbau para simpatisan MIT untuk melakukan penyerangan kepada polisi. Di pertengahan video tersebut terdapat footage seorang warga digorok lehernya.

Pada akhir April Polda Sulteng mengatakan bahwa jumlah buronan MIT yang tersisa saat ini tinggal 13 orang.

Tampilan selengkapnya