Follow us

Potensi Tsunami Susulan, Masyarakat Diimbau Jauhi Pesisir Radius 1 KM di Selat Sunda

BMKG pasang enam alat pendeteksi tsunami di lokasi.
Arie Firdaus
Jakarta
2018-12-26
Email
Komentar
Share
Puing-puing rumah warga di Desa Way Muli, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, 25 Desember 2018.
Puing-puing rumah warga di Desa Way Muli, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, 25 Desember 2018.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) imbau masyarakat di pesisir Selat Sunda untuk mengosongi radius 1 kilometer dari bibir pantai untuk menghindari bencana susulan pasca tsunami akhir pekan lalu yang telah menewaskan 430 orang.

"Cuaca ekstrem itu bisa meningkatkan potensi longsor Anak Krakatau ke laut. Kami takut itu bisa memicu tsunami," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, merujuk pada hujan deras beberapa hari terakhir yang dikhawatirkan membuat gunung berapi di Selat Sunda itu semakin rapuh.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal akibat tsunami hingga hari keempat sejak bencana yang terjadi pada 22 Desember itu telah mencapai 430 orang. Sebanyak 159 dinyatakan hilang dan hampir 22.000 jiwa mengungsi. Disamping itu bencana itu juga mengakibatkan rusaknya 924 rumah, 73 unit hotel/vila/penginapan, 434 perahu, 24 mobil, dan 41 sepeda motor.

Senada dengan BMKG, peneliti tsunami pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko menyebutkan air hujan bakal membuat badan Gunung Anak Krakatau semakin mudah longsor.

"Setelah runtuh, itu saya berasumsi bahwa kemiringan akan semakin curam dan hujan membuatnya semakin fragile," katanya kepada BeritaBenar, Rabu, 26 Desember 2018.

"Saya enggak bisa berandai-andai apakah makin besar atau makin kecil (tsunami). Tapi resiko itu ada. Apalagi sejak malam kemarin, eskalasi erupsi mulai kencang."

Pakar dan pejabat mengatakan tsunami pada Sabtu malam lalu itu disebabkan oleh runtuhnya lereng Anak Krakatau karena erupsi gunung tersebut, seluas 64 hektare dengan volume material diperkirakan mencapai 100-150 juta kubik.

"Itu sangat besar dan kencang (longsornya),” tambah Widjo.

Cuaca buruk hambat evakuasi

Cuaca buruk juga menghambat proses evakuasi pasca bencana yang menelan korban di lima kabupaten di pesisir Selat Sunda, yaitu Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten, serta Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran di Provinsi Lampung.

"Hujan lebat membuat sungai meluap dan menutup akses, seperti di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten," kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu.

"Banyak juga akses jalan yang sebelumnya sudah rusak, ditambah tsunami kini menjadi semakin sulit (dilalui)."

Sutopo menambahkan pemerintah saat ini fokus melakukan evakuasi dan penyaluran bantuan lewat jalur udara dan laut, terutama di kawasan yang terisolir akibat tsunami.

Ia mengatakan masa tanggap darurat di wilayah terdampak di Banten adalah 14 hari hingga 4 Januari 2019. Sedangkan di Lampung hingga 29 Desember 2018, yang bisa diperpanjang.

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho saat memberikan keterangan pers di Jakarta, 26 Desember 2018. (Arie Firdaus/BeritaBenar)
Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho saat memberikan keterangan pers di Jakarta, 26 Desember 2018. (Arie Firdaus/BeritaBenar)

Menjauhi pantai

Tsunami Selat Sunda datang tanpa didahului peringatan dari otoritas, yang disebabkan karena Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini tsunami akibat longsoran bawah laut atau aktivitas vulkanik, demikian kata Sutopo.

Mengantisipasi tsunami susulan di wilayah itu, BMKG telah memasang enam sensor seismometer yang telah dimodifikasi untuk mendeteksi getaran 3,4 magnitudo atau lebih yang disebabkan oleh aktivitas gunung Anak Krakatau.

Tiga alat sensor dipasang di Lampung dan tiga lainnya di Banten, dikatakan menjadi alat yang paling efektif saat ini untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau, demikian menurut Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, seperti dikutip di Tempo.

Bantuan luar negeri

Hingga hari keempat penanganan bencana, sejumlah negara telah mengutarakan niat untuk membantu Indonesia, seperti disampaikan pemerintah Australia dan India.

"Belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan dan semua yang terluka lekas pulih. India siap membantu," demikian dituliskan Perdana Menteri India Narendra Modi di akun twitternya, Senin.

Begitu juga kata Perdana Menteri Australia Scott Morrison lewat twitternya.

"Hari yang sangat sulit bagi teman-teman kami di Indonesia. Rasa duka cita kami kepada semua yang kehilangan orang yang mereka cintai. Seperti biasa, kami siap memantu sesuai kebutuhan," tulis Morrison.

Sebelumnya perwakilan Komisi Eropa dan perwakilan Amerika juga menyatakan kesiapan mereka membantu.

Menanggapi tawaran itu, Sutopo mengatakan Indonesia masih mampu menangani dampak bencana sejauh ini.

"Kalau dilihat dampak kerusakan tidak terlalu besar, sehingga kerugian ekonomi tidak terlalu besar. Jauh dibandingkan Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah lalu," katanya.

"Potensi nasional mencukupi penanganan bencana Selat Sunda."

Tampilan selengkapnya