Follow us

Radikalisme Melalui Media Sosial dan Teror Surat di Ambon

Di Ambon, teror surat dikirim ke sejumlah bank untuk meminta uang, disusul dengan penemuan bungkusan berisi ancaman.
Kusumasari Ayuningtyas & Tajudin Buano
Klaten & Ambon
2016-12-21
Email
Komentar
Share
Polisi menyita sejumlah barang bukti usai menggeledah rumah seorang terduga teroris di Sukoharjo, Jawa Tengah, 11 Desember 2016.
Polisi menyita sejumlah barang bukti usai menggeledah rumah seorang terduga teroris di Sukoharjo, Jawa Tengah, 11 Desember 2016.
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

Sebuah kajian menyatakan generasi muda mudah terpengaruh paham radikal melalui media sosial, sementara itu selama sepekan terakhir terjadi dua kali teror di Ambon, Maluku, yang belum terungkap motifnya.

Heru Prasetya dari Jaringan GUSDURian Indonesia menyebutkan, konsekuensi perkembangan teknologi informasi membuat seseorang terpengaruh radikalisme melalui media sosial seperti dialami beberapa terduga teroris yang ditangkap Densus 88, belakangan ini.

Hasil pemetaan internet dan media sosial yang dilakukan bersama International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) selama sebulan terakhir, menemukan penyebaran paham radikal dilakukan melalui internet.

“Pesan-pesan ekstrimisme sangat mudah didapat dan beredar dengan cepat,” ujarnya kepada BeritaBenar, Selasa, 20 Desember 2016.

Jaringan GUSDURian dan INFID juga mengamati 10 situs terindikasi radikal yang punya ranking alexa, situs yang mencatat peringkat lalulintas pengunjung suatu situs. Situs-situs yang diamati banyak memuat ekstrimisme dengan menampilkan Muslim tertindas di beberapa negara.

“Hal ini semakin diperburuk dengan banyaknya orang yang dianggap pintar, tapi menyebarkan berita yang belum teruji kebenarannya,” ungkap Heru.

Ia menambahkan, penyebaran berita-berita tersebut dilakukan tanpa melalui proses penalaran.

Manajer Advokasi INFID, Beka Ulung Hapsara, menyebutkan bahwa komunikasi generasi muda berusia 15 hingga 30 tahun makin buruk sejak munculnya internet dan media sosial.

Dari 1.200 responden di enam kota besar di Indonesia – Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Pontianak, dan Makasar— 60 persen berinteraksi dan mengakses internet dan media sosial.

“Peran keluarga sangat penting karena anak yang memiliki komunikasi baik dengan orang tua lebih sulit dipengaruhi informasi (radikal) seperti itu,” ujar Beka kepada BeritaBenar.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad Windan di Solo, Jawa Tengah, Dian Nafi, menyatakan lingkup sosialisasi generasi muda semakin menyempit di tengah gempuran paham radikalisme melalui media sosial.

“Orang tua harus mengawasi mereka agar tidak terseret paham radikal,” tuturnya.

161221_ID_inset.jpg

Polisi mengamankan lokasi penemuan bungkusan yang diduga bom di depan Bank Maluku di Ambon, 19 Desember 2016. (Tajudin Buano/BeritaBenar)

Surat teror

Sementara itu, teror surat dengan tujuan meminta uang pada sejumlah bank swasta dan bank daerah di Ambon terjadi Rabu, 14 Desember 2016. Kemudian, sebuah bungkusan plastik yang diduga bom ditemukan di depan kantor Bank Maluku Cabang Batu Merah, Senin, 19 Desember 2016.

Setelah diamankan polisi, dalam bungkusan itu ditemukan pipa plastik, kabel, selotip hitam, lilin mainan, kertas putih berisi alamat email shalahuddinalindunisy@gmail.com, disertai tulisan “Ancaman Pertama”.

Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Abner Richard Tatuh, mengatakan polisi belum tahu pengirim surat dan pelaku dibalik bungkusan tersebut meski beberapa orang sudah diperiksa.

Surat diantar tukang ojek ke bank-bank itu. Bank Mandiri adalah yang pertama mendapat surat. Isi surat-surat itu meminta uang Rp.500.000.000 dari setiap bank yang menerima teror.

Surat tertanggal 7 Desember 2016 yang diperoleh BeritaBenar, ditandatangani Shalahuddin Alindunisya, dengan informasi jabatan Koordinator Wilayah Timur simpatisan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Surat juga berisi ancaman pemboman jika permintaan tak segera dikabulkan.

Pihak bank segera melaporkan ke Polda Maluku.

“Memang nama di kertas dalam benda itu sama dengan yang ada di surat. Tapi bisa saja orang lain yang mengatasnamakan orang itu (Shalahuddin Alindunisy),” papar Tatuh.

Bukan ISIS

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, simpatisan ISIS memang diduga ada di Maluku. Tahun 2014, kepolisian daerah mengungkapkan, simpatisan ISIS muncul di Kecamatan Tehoru Maluku Tengah.

Selanjutnya, Februari 2016, polisi menangkap enam warga Kabupaten Seram Bagian Barat yang diduga menjadi simpatisan ISIS. Tetapi tidak terbukti setelah diperiksa.

Al Chaidar, pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe, Aceh, menilai teror surat dan bungkusan plastik di Ambon tak terkait ISIS.

“Bisa saja simpatisan, tapi bukan berarti struktural ISIS,” katanya kepada BeritaBenar melalui telepon.

Modus yang digunakan berupa surat juga tak menunjukkan ciri khas ISIS, misalnya, permintaan uang untuk ke Irak, Libya, dan Suriah karena pola itu tidak dipakai kelompok teroris tersebut.

“Sangat aneh itu, minta uang berangkat ke sana (Suriah). Itu bisa membuat mereka dideteksi dengan cepat dan gampang tertangkap,” jelas Chaidar yang juga dosen di universitas tersebut.

Menurutnya ISIS belum pernah merekrut pengikut di Maluku dan biasanya ISIS tidak memberikan peringatan terlebih dahulu.

“Selama ini kan dalam melancarkan serangannya, setahu saya, tanpa ada peringatan lebih dulu. Apalagi ada ancaman pertama, ancaman kedua dan sebagainya. Itu bukan gaya ISIS,” tambahnya.

Musuh bersama

Chaidar berharap, polisi segera mengungkap dan menangkap pelaku teror. Sebab, katanya, itu murni penipuan untuk memperkeruh suasana menjelang Natal dan Tahun Baru.

Aparat kepolisian daerah Maluku, kata Tatuh, sedang berupaya mengungkap dalang teror surat. Dia berharap masyarakat Maluku tak terpancing dan tetap beraktivitas seperti biasa.

Aktivis perdamaian, Abidin Wakano, mengatakan toleransi umat beragama di Maluku sangat tinggi sehingga dia yakin teror-teror tersebut tidak akan mempengaruhi, apalagi mengganggu aktivitas penduduk.

Abidin menyerukan semua komponen masyarakat dan umat beragama untuk melawan setiap upaya gerakan terorisme di Maluku dan menjadikan teroris sebagai musuh bersama.

“Mari membantu aparat keamanan mengungkap siapa pelakunya. Terorisme dalam bentuk apapun adalah musuh semua agama, musuh semua umat,” tuturnya.

Tampilan selengkapnya