Sape, Gitar Dayak yang Makin Eksis

Banyaknya kalangan muda yang tertarik, menandakan alat musik tradisional Dayak itu kian digemari dan menyimpan harapan kelestariannya.
Severianus Endi
Pontianak
2017-07-28
Share
170728_ID_Sape_1000.jpg Uyau Moris (kiri) memetik sape dalam acara budaya Dayak di Pontianak, Kalimantan Barat, 26 Juli 2017.
Severianus Endi/BeritaBenar

Alunan nada dari alat musik petik mengalun lembut pada siang yang terik, Rabu, 26 Juli 2017, di halaman Rumah Radakng – replika rumah betang Dayak – di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Gitar yang bentuknya tak umum sedang dimainkan dengan ritme mendayu, menyelingi pergantian acara yang sedang digelar.

Uyau Moris (26), pria Dayak Kenyah asal perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, satu dari empat musisi sedang memetik dawai-dawai sape.

Sape adalah sebutan alat musik petik tradisional yang bentuknya khas: panjang semeter, ramping dengan bagian ujung diberikan ornamen Dayak, seperti kepala burung enggang atau aneka ukiran.

"Sejak kecil aku terbiasa dengan sape, melihat kakek yang pemain sekaligus pembuat, jadinya tertular," tutur Moris kepada BeritaBenar, mengisahkan cerita yang menggiring dia belajar etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan lulus pada 2015.

"Dulu, pada awal-awal aku terjun ke musik tradisi, aku lihat antusias anak muda kurang. Akhirnya aku coba ubah konsep, memainkan lagu sedang populer. Hasilnya, anak muda banyak suka," tutur pria berambut panjang dan melubangi telinga seperti moyangnya.

Sejumlah rekaman ketika sedang memainkan instrumen lagu, juga cara membuat sape, telah diunggahnya di Youtube. Dia juga berencana mengunggah tutorial cara memetik alat musik warisan nenek moyang itu.

"Satu buah sape bisa aku bikin dua minggu, asal pengeringan kayunya cepat. Kadang dalam sebulan, bisa menyelesaikan enam sampai tujuh sape," tutur Moris yang kini menetap di Yogyakarta.

Kayu-kayu di Jawa ternyata tak banyak memberi pilihan untuk bahan pembuatan sape. Moris sering menggunakan kayu mahoni, sementara di Kalimantan umumnya kayu adau, meranti, atau cempedak atau nangka, yang teksturnya keras tapi ringan.

Internet versus kaset pita

Beda era, beda cara. Moris berkiprah di era internet yang memudahkan akses semua orang, sehingga sape kian "menjamur" beberapa tahun terakhir.

Bagaimana dengan para pendahulunya?

Dominikus Uyub, seniman sape Dayak Kayaan, satu di antara pendahulu yang berkiprah saat internet belum begitu dikenal. Pada 1996, dia meluncurkan album instrumentalia sape dalam bentuk kaset pita. Kala itu, warga belum antusias mengapresiasinya.

"Waktu itu sape belum dikenal. Beda sekarang, sudah menjamur," tutur Uyub, yang saat dihubungi BeritaBenar sedang berada di kampungnya di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu.

Uyub mengisahkan, sape pertama muncul dalam komunitas Kelompok Dayak Kayaan yaitu Kayaan, Kenyah, Punan, dan Bukat.

Menurut berbagai literatur maupun ujaran sastra lisan, sape diciptakan seseorang yang sedang berperahu dan mengalami musibah karam di tengah riam.

Konon, orang ini pingsan, terdampar di bebatuan, dan saat itulah dia mendengar alunan nada merdu dari hutan dan sungai dalam kondisi setengah sadar. Begitu terbangun, dia terinsprasi membuat alat musik petik dari kayu berbentuk perahu dan memasang senar, kemudian memetik dawainya menirukan nada-nada tadi.

Dalam bentuknya yang asli, sape hanya memiliki dua senar. Saat ini telah dimodifikasi menjadi tiga, empat, dan seterusnya sesuai kebutuhan panggung.

Tak hanya bermain, Uyub juga dikenal sebagai pembuat sape. Dia membutuhkan waktu dua hingga tujuh hari menyelesaikan pembuatan satu sape, yang tergantung bentuk dan jenis kayu, dibanderol antara Rp1 juta hingga Rp4 juta.

"Sape buatan saya siap dimainkan, karena saya juga menyetel grid-grid yang dibutuhkan serta menyesuaikan tegangan senarnya," tutur Uyub.

Ini berbeda dengan Yusuf (39), seorang pengrajin kayu di Pontianak. Dia mengaku hanya bisa membuat sape, namun tak bisa memasang grid-grid maupun senar karena tidak mengerti musik.

"Biasanya saya menerima permintaan pembuatan sape, dan bahan kayunya juga dari konsumen," katanya.

Mengalun di Aceh

Keunikan sape tak hanya melanda para seniman muda. Kalangan pegawai pemerintahan pun, seperti Edy Muaramang (37) menjadikan alat musik tradisional ini sebagai aktivitas harian. Bahkan ketika kantornya menyelenggarakan sebuah event pameran di Aceh, dia berinisiatif membawa sape-nya.

Di provinsi berjulukan Serambi Mekah itu, Edy mengaku terkesan banyak warga Aceh tertarik pada "gitar aneh" itu. Para pengunjung memintanya memetik nada lagu "Tanah Airku" dan menyanyi bersama.

"Anggapan umum tentang orang Aceh yang tertutup langsung sirna melihat antusiasme mereka. Mereka tahu saya orang Dayak dan beragama Katolik, sambutan mereka tetap hangat," ujar Edy, yang kala itu mengenakan busana etnik Dayak.

Fery Sape, seniman yang telah memanggungkan petikan sape di sejumlah negara. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Harmoni dengan alam

Sape bisa dibalut dengan pesan harmoni alam, menurut Elias Ngiuk (43), seniman Dayak Mualang, mantan peneliti sembilan tahun pada Institut Dayakologi di Pontianak. Sebab, bahan sape berupa kayu yang harus diambil dari alam, mengandung pesan setiap orang wajib menjaga hutan dan mengelolanya secara bijaksana.

"Pada masa lalu, sape hanya digunakan untuk musik ritual, dipetik dengan nada-nada lirih, bahkan terkesan magis dan umumnya dimainkan pada acara adat," tutur Elias, lulusan etnomusikologi, ISI Yogyakarta.

Sape juga mulai dikenal di mancanegara lewat Ferdinandus Lah (39). Pria Dayak Kayaan ini sudah memanggungkan petikan nadanya di sejumlah negara, di antaranya di China, Jepang, Ukraina, Dubai, bahkan Iran.

“Dulu saya mempelajari secara autodidak. Sewaktu saya masih kecil di kampung, sering mendengar suaranya yang terasa indah,” tutur Fery, yang populer dengan nama Fery Sape.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.