Persenjataan Santoso Dipasok dari Filipina

Keisyah Aprilia
Palu
2016-04-06
Share
160406_ID_Santoso_1000.jpg Seorang polisi mengamati senjata dan amunisi milik kelompok Santoso yang disita dalam gelar kasus di Kantor Polda Sulteng di Palu, 20 Mei 2015.
Keisyah Aprilia/Berita Benar

Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Polda Sulteng) memastikan persenjataan milik kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin Santoso alias Abu Wardah dipasok dari Filipina.

Kapolda Sulteng, Brigjen. Pol. Rudy Sufahriadi mengatakan, Rabu, 6 April, bahwa hal itu diketahui berdasarkan pengakuan seorang anak buah Santoso yang ditangkap tim Densus 88 anti-teror Mabes Polri di Manado bulan Mei tahun lalu dan dikonfirmasi kembali oleh seorang pengikut Santoso lainya yang ditangkap baru-baru ini dalam Operasi Tinombala, operasi untuk menangkap anggota MIT.

"Semua informasi ini kami dapat dari pengakuan anak buah Santoso berinisial W alias I. Apalagi saat ditangkap, W hendak memasok lagi senjata dari Filipina untuk MIT di Poso," kata Rudy.

Dari pengakuan W diketahui bahwa ia ditugaskan Santoso mengambil senjata seharga Rp130 juta pada akhir 2014 yang dipesan dari kelompok Anshorut Khilafah di Filipina Selatan yang merupakan pemasok peralatan MIT. Serah terima senjata itu dilakukan di tengah laut dekat Mindanao.

Senjata itu berupa satu M-16, empat magasen M-16, 200 amunisi kaliber 5,56 mm, satu barret 50 Snipar, 20 butir amunisi barret, satu granat, dan roket peluncur granat serta 16 amunisi pistol FN 45.

"W diberikan senjata yang sudah dipesan Santoso. Senjata laras panjang dimasukkan dalam karung. Sedangkan amunisi dan bahan peledak diisi dalam ransel bercampur dengan pakaian,” jelas Rudy.

"Semua peralatan perang yang dibeli W sudah diserahkan ke Santoso. Namun dalam penyergapan dan baku tembak beberapa kali di Poso Pesisir semua peralatan perang itu ditemukan dan kini diamankan untuk barang bukti," terang Rudy.

W tertangkap

Mei 2015, Santoso kembali memerintahkan W untuk mengambil persenjataan yang telah dipesannya. Saat itu, Santoso memesan dua M-16, sepucuk senjata sniper, dua pucuk uzi, dan amunisi.

"Dari pengakuan W, Santoso mengirim uang pada Abu Syarifah (amir Anshorut Khilafah) sebanyak Rp220 juta. Namun ketika W tiba di pelabuhan Manado saat hendak menyeberang ke Mindanao, dia ditangkap tim Densus," jelas Rudy.

Dari pengusutan polisi, diketahui bahwa W pernah menjadi peserta pelatihan militer tahun 2013 angkatan Al Mudamir Grup yang diikuti sekitar 16 orang dan dilatih oleh M alias Black yang merupakan ahli bahan peledak dan merangkai bom.

"Sedangkan Santoso dalam pelatihan yang dipusatkan di Gunung Biru, Desa Lape, Kecamatan Pesisir Utara itu bertindak sebagai pemberi tausiyah dan bongkar pasang senjata," jelas Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Hari Suprapto.

Menurutnya, W juga terlibat serangkaian aksi MIT seperti perencanaan penembakan Iptu. Daud di Gowa, Sulawesi Selatan, mendistribusikan amunisi ke kelompok militan bersenjata Bima, Nusa Tenggara Barat.

"Yang paling mencolok dari W karena dia dipercaya Santoso sebagai bendahara MIT. Saat ini W sedang menjalani penahanan setelah divonis 6,5 tahun kurungan penjara di Jakarta," tandas Hari.

Rilis 29 DPO

Wakapolda Sulteng yang juga Komandan Operasi Tinombala 2016, Kombes. Pol. Leo Bona Lubis merilis nama dan wajah terbaru anggota kelompok MIT yang dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Dari DPO itu, diketahui kekuatan kelompok yang terus diburu TNI/Polri kini tinggal 29 orang, termasuk tiga amir MIT yakni Santoso, Basri alias Bagong, dan Ali Kalora. Selain itu, terdapat tiga perempuan asal Bima dan dua etnis Uighur, China.

"Semua yang dirilis merupakan data terbaru. Kami meminta dukungan masyarakat membantu menyebar foto-foto ke-29 DPO agar menjadi waspada dan memberikan informasi jika melihat atau menemukan mereka ke pihak kepolisian terdekat," tutur Leo.

Dia menambahkan meski 29 DPO yang dirilis, tapi tak tertutup kemungkinan jumlah pengikut MIT akan bertambah karena pergerakan mereka tidak seluruhnya diketahui oleh aparat keamanan.

"Jumlah 29 orang ini diketahui nama dan wajahnya berdasarkan keterangan anggota MIT yang ditangkap hidup selama Operasi Tinombala berlangsung," jelas Leo.

Sejak Operasi Tinombala 2016 digelar awal tahun ini, sebanyak 10 anggota MIT telah tewas dan beberapa lagi ditangkap. Aparat keamanan juga menyita sejumlah senjata anak buah Santoso. Selain itu, seorang anggota Brimob tewas dalam kontak senjata, 9 Februari lalu.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya