Follow us

Terpidana Teroris Malaysia Tidak Menyesali Masa Lalunya

Polisi Malaysia mengawasi pelaku pemboman Plaza Atrium Jakarta itu walaupun tidak memiliki alasan untuk menangkapnya.
Muzliza Mustafa dan Hadi Azmi
Johor, Malaysia
2019-02-08
Email
Komentar
Share
Taufik Abdul Halim menjawab pertanyaan saat diwawancara di Johor, Malaysia, 27 Januari 2019.
Taufik Abdul Halim menjawab pertanyaan saat diwawancara di Johor, Malaysia, 27 Januari 2019.
Hadi Azmi/BeritaBenar

Pihak berwenang menggambarkannya sebagai ahli bom - dan dia mengaku berada dibalik pemboman Plaza Atrium di Jakarta, 18 tahun lalu. Namun demikian, Taufik Abdul Halim tidak menyatakan penyesalannya saat mengingat bagaimana ia mencoba meledakkan bom di kompleks perbelanjaan tersebut.

Bom yang disembunyikan di dalam kotak Dunkin Donuts itu meledak sebelum waktunya dan menghancurkan kaki kanan Taufik, dan pecahan bom itu melukai enam orang lainnya.

“Saya tidak menyesal dengan apa yang terjadi,” kata Taufik kepada BeritaBenar yang diwawancara selama dua jam,

Dia bercerita tentang masa lalunya, problem yang harus ditanggung salah satu dari dua anak perempuannya sebagai seorang anak teroris dan apa yang menyebabkan ia yang berkebangsaan Malaysia itu melakukan serangan di Indonesia.

"Dalam Islam, memang kita dilarang mengapa-apakan wanita, anak kecil dan semua itu, tetapi apabila kami melakukan serangan dan mereka terbunuh, apa yang boleh kami buat? Bukan itu yang kami mahukan tetapi sudah terkena,"katanya dalam bahasa Melayu. "Mereka terdampak oleh serangan kami bukan karena kami sengaja melakukannya," katanya.

Taufik, yang pulang ke Malaysia pada 2014 setelah 12 tahun mendekam di balik terali di Indonesia mengatakan ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk membuat bom.

‘Itu semua keputusan saya’

Tetap saja, militansi mengalir dalam darah beberapa kerabat Taufik: Kakak iparnya, Zulkifli bin Hir (alias "Marwan") terbunuh pada 2015 dalam penggerebekan di Filipina selatan, yang juga menyebabkan kematian 44 anggota polisi.

Marwan dicurigai memimpin kelompok teror Kumpulan Mujahidin Malaysia, seperti dilaporkan oleh Departemen Luar Negeri AS pada 2007, yang menawarkan hadiah $ 5 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya. AS menuduh Marwan terlibat dalam serangan bom mematikan di Filipina.

Saudara laki-laki Marwan, Rahmat Abdhir, dipenjara di Amerika pada 2008 karena membiayai kegiatan teror, menurut laporan media. Sepupu Marwan,

Mohamad Nazir Lep, yang diduga anggota kelompok militan Jemaah Islamiyah dan al-Qaeda, juga salah satu dari dua warga Malaysia yang masih ditahan di fasilitas penahanan Teluk Guantanamo.

Tapi Taufik, 43, mengatakan dia tidak pernah dipengaruhi oleh Marwan, bertentangan dengan klaim polisi Indonesia.

“Itu semua adalah keputusan saya sendiri dari awal. Mereka melakukan cara mereka, saya memiliki cara saya sendiri,” ujarnya.

“Seperti ketika saya mau pergi ke Maluku, saya beritahu dia (Marwan) kalau saya mau pergi. Dia tidak minta saya pergi ke sana. Dia tahu saya akan pergi tetapi saudara-saudara atau orangtua saya tidak tahu," kata Taufik.

Pihak berwenang Indonesia mengatakan Taufik telah meletakkan bom di kotak donat, dan membawanya ke PlazaAtrium ketika bom itu meledak sebelum waktunya.

Bom itu dimaksudkan untuk diledakkan di sebuah gereja di dalam area mal, kata Taufik, memberikan rincian yang sebelumnya tidak dilaporkan sehubungan pemboman itu.

"Ada beberapa orang dalam kelompok kami," katanya. "Misi awal kami tidak untuk melancarkan serangan (di mal itu) tetapi untuk membunuh orang yang menjadi pemimpin dan provokator dalam konflik sektarian di Maluku."

Taufik merujuk pada konflik mematikan yang meletus antara Muslim dan Kristen di Maluku termasuk di beberapa daerah di ibukota Ambon, pada akhir 1990-an.

Dia mengatakan target awal pemboman telah diketahui, "jadi kami harus melakukan sesuatu, dan merubah rencana." Anggota kelompoknya mengirimkan bom di tiga tempat sasaran lainnya, termasuk sebuah gereja, katanya, tetapi orang yang ditugaskan untuk membawa bom tersebut takut.

“Oleh itu, saya memutuskan untuk membawa bom itu sendiri," katanya, “tetapi, bom meledak sebelum tiba di tempat sasaran.”

“Saya ingin lari, tetapi saya sadar kaki saya sudah tidak ada,” tambahnya.

Taufik Abdul Halim menggunakan kaki palsu saat wawancara dengan BeritaBenar di Johor, Malaysia, 27 Januari 2019. [Hadi Azmi/BeritaBenar]

Karena cedera serius, Taufik harus dirawat di rumah sakit di bawah penjagaan ketat. Tiga bulan kemudian, pihak berwenang mendakwanya sebagai pelaku ledakan tersebut dan kaitannya dengan serangan teror lainnya.

Taufik awalnya dijatuhi hukuman mati, tetapi kemudian hukumannya diperingan  menjadi 20 tahun penjara setelah pengacaranya mengajukan banding.

Taufik mendapat pengawasan ketat polisi sejak ia dideportasi ke Malaysia setelah menjalani hukuman di Indonesia. Lima petugas polisi hadir ketika BeritaBenar mewawancarainya di lokasi yang dipilih dan dibayar oleh polisi.

Sekitar 50 terpidana teroris dan simpatisan ISIS berada di bawah pengawasan polisi Malaysia secara nasional sejak 2013, menurut Ayob Khan Mydin Pitchay, direktur unit khusus kepolisian antiteroris.

"Pasukan kami sentiasa memantau Taufik untuk memastikan dia tidak kembali kepada kegiatan lamanya," kata Ayob kepada BeritaBenar, yang mengatakan bahwa polisi Malaysia tidak mempunyai alasan untuk menangkap Taufik kerana dia tidak terlibat aktivitas kriminal di negara asalnya tersebut.

Kehidupan setelah penjara

Setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 2014, Taufik kembali ke Malaysia dan memulai kehidupan baru dengan istrinya yang berkebangsaan Indonesia, yang dinikahinya saat di penjara. Dia diyakini bekerja sebagai petani dan tinggal bersama kedua putri mereka.

Taufik adalah orang bebas yang dapat mengunjungi kerabatnya kapan saja. Tapi dia mengeluh tentang udara bebas yang dihirupnya.

“Orang melihat kehidupan di penjara sebagai sulit, tetapi sebenarnya, hidup bebas adalah lebih sulit," katanya.

"Sulit melalui kehidupan hari demi hari. Kini, apa yang saya pikirkan adalah orangtua saya, anak-anak, isteri dan kakak adik saya.”

Taufik, yang mengenakan kemeja berkerah ungu dan sarung selama wawancara, mengatakan tidak ada yang berani menanyakan tentang masa lalunya, meskipun ia tahu bahwa para tetangga di desanya mengetahui sejarahnya.

“Saat di masjid, anak-anak sering bertanya tentang apa yang terjadi pada kaki saya dan bertanya apakah kaki saya putus karena ledakan," kata Taufik yang memelihara janggut. "Dari situlah saya tahu bahwa mereka tidak mungkin tahu tentang hal ini jika mereka tidak diberitahu."

Sepanjang wawancara dia menyampaikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dengan suara nyaris tak terdengar; ledakan bom pada tahun 2001 tampaknya mepengaruhi pendengarannya.

Dia memakai kaki palsu, tetapi berjalan dengan penuh percaya diri saat dia masuk dan keluar ruang wawancara.

Dia mengatakan bahwa meskipun dia bisa mentolerir persepsi orang tentang dia dan masa lalunya, namun tidak dengan putrinya yang berusia 13 tahun.

“Suatu hari, dia pulang ke rumah sambil menangis. Dia diejek. Ada yang mengatakan sesuatu tentang saya. Katanya saya adalah bakas narapidana," kata Taufik. "Saya beritahu dia, tidak semua orang yang dipenjara itu jahat."

Saat dia menjawab pertanyaan, Taufik tetap tenang. Dia tidak menyangkal apa yang telah dia lakukan, bahkan memberikan gambaran tentang masa remajanya ketika keluarganya tinggal di wilayah Kashmir yang dilanda kekerasan, dan bagaimana dia akhirnya menjalani pelatihan militer pada tahun 1994 di sebuah kamp Lashkar-e-Taiba (LeT), sebuah kelompok militan yang didukung Pakistan.

Para militan melatihnya cara menggunakan senapan serbu, katanya, dan dia juga menerima pelatihan di sebuah kamp yang dikendalikan oleh al-Qaeda di Afghanistan. Tetapi dia menolak klaim dari pihak berwenang bahwa dia adalah seorang ahli bom.

"Saya tahu bagian-bagian bom dan saya tahu apa yang digunakan untuk membuat bom, tetapi saya tidak pernah membuat bom," kata Taufik.

Bahkan dia juga tidak membuat bom yang dibawanya di Jakarta , klaimnya.

“Ada kelompok lain yang memasangnya dan kami hanya memastikan bom itu diantar ke lokasi yang sudah ditentukan," katanya.

Namun dia mengatakan dia telah menerima konsekuensi perbuatannya sebagai seorang mantan militan.

Ditanya apakah, jika diberi kesempatan, ia akan mengubah sesuatu sehubungan dengan masa lalunya, Taufik balas menatap serius dan tanpa kata-kata:

"Kalau, kalau, kalau…," katanya, "itukan berkhayal."

"Apa yang ada sekarang, itu yang saya perlu lakukan, itu saja. Saya harus melihat kenyataan,"katanya. "Sekarang ini saya berada kampung dengan hanya satu kaki, jadi saya akan melakukan apa yang saya perlu lakukan, apa saja yang saya bisa lakukan."

Nani Yusof di Washington ikut berkontribusi dalam laporan ini.

Tampilan selengkapnya