Setelah 12 Tahun, Ledakan Bomb Bali Masih Menghantui Noni

oleh Zahara Tiba
2015.03.24
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150324-bali-candle-620.jpg Seorang perempuan Indonesia mengambil bagian dalam acara candelight di Jakarta untuk korban bom Bali, 16 Oktober 2002.
AFP

Tragedi Bom Bali pertama yang melantakkan Kuta, salah satu tujuan wisata terkenal di Bali, bukan saja membuat Luh Putu Noni Marheni menjadi anak yatim. Selama bertahun-tahun, dia terus lari dari kenyataan bahwa sosok paling dikaguminya di dunia, ayahnya, Ketut Sumerawat, tewas dalam tragedi tersebut.

Sumerawat adalah seorang sopir yang bekerja dengan restoran lokal di Kabupaten Kuta dan sebagian besar waktu yang digunakan untuk membawa wisatawan berkeliling mengunjungi daerah wisata di pulau Bali. Dia meninggal karena bom yang meledak di dekat klub malam di Kuta Bali pada tanggal 12 Oktober 2002.

Sebagai putri pertama di keluarganya, Noni yang saat itu masih berusia sepuluh tahun, tahu benar bagaimana rasanya mendapat kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya, terutama dari sang ayah. Noni, saat ini berusia 22 tahun, berbagi cerita dengan BenarNews tentang tragedi tersebut.

Bapak itu bisa dibilang satu-satunya orang yang paling bisa mengerti saya. Dia sayang sama keluarga. Dia lucu. Dia ayah, sekaligus teman bagi saya. Dia segalanya.

Saya masih duduk di kelas empat sekolah dasar di Singaraja. Kami waktu itu tinggal di rumah nenek sementara Bapak kerja di Kuta. Sore itu saya lihat ibu menangis. Lalu saya lihat paman dari keluarga ayah datang. Dia jarang sekali berkunjung ke kampung ibu. Itulah saat saya tahu pasti ada yang salah. Yang saya ingat adalah waktu ibu bilang bahwa bapak sudah meninggal.

Saya tidak langsung percaya. Rasanya ini tidak mungkin dan karena itu kami masih tetap menunggunya pulang selama berbulan-bulan. Dia bahkan tidak pulang untuk merayakan Galungan. Rasanya aneh. Saya bahkan menemui seorang dukun peramal. Dia bilang Bapak saya masih disembunyikan. Saya lega mendengarnya. Jadi saya tetap menunggu dia pulang.

Saya masih menyimpan harapan itu, sementara upacara-upacara ritual pun digelar untuk memperingati kematian Bapak.

Setiap hari saya menanti Bapak kembali sambil mendatangi warung langganan tempat dia menghabiskan waktu luang bersama tetangga dulu.

Saya biasanya duduk diam di sana sampai malam. Lalu ibu menjemput saya dan bilang, “Ayo masuk, sudah malam. Kenapa masih di luar?” kata Ibu.

Saya masuk dan masih berharap Bapak akan pulang besok. Bukan hanya saya yang mengalami kesedihan ini, tetapi juga dua adik perempuan saya, Kadek Wina Pawarni, dan Komang Sustapeni.

Itu saya lakukan sampai kelas tiga Sekolah Menengah Pertama.

Kami lalu memutuskan untuk pindah ke Sanur setahun kemudian. Saya masih tetap berharap bisa bertemu dengan Bapak di sana. Saya tidak naik kelas. Saya harus mengulang lagi di kelas lima. Keluarga dan teman-teman mengingatkan saya untuk belajar dengan baik demi masa depan saya. Tapi kata-kata mereka seperti mental saja, tidak berarti.

Saya seperti hidup di dalam gelembung, di dalam penjara. Saya tahu ada banyak orang di luar sana, tapi saya terjebak di dalam. Saya merasa sangat kesepian dan semuanya di sekeliling saya seperti gelap. Saya merasa tidak ada lagi harapan.

Masa depan saya hancur, yang ada hanyalah kebencian terhadap orang-ornag yang tidak bertanggungjawab yang meyebankan ledakan tersebut. Saya mengutuki tindakan mereka.

Tetapi lama-lama saya sadar bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Saya coba menghadapi kenyataan. Saya kangen sekali sama bapak... (terisak)

Saya sadar hidup harus terus berjalan. Saya menyelesaikan pendidikan berkat dukungan beasiswa yang disediakan sebuah yayasan yang fokus membantu anak-anak keluarga korban bom.

Tapi saat ini saya sedang ambil cuti kuliah di LP3I Denpasar dan fokus ke pekerjaan. Saya sekarang bekerja sebagai staf pemasaran sebuah perusahaan.

Saya juga menjalankan bisnis online bersama beberapa teman. Menarik ya apa yang bisa dilakukan internet saat ini. Kita bisa melakukan apapun di internet termasuk bisnis online. Penghasilannya lumayan, bisa buat bantu keluarga beli kebutuhan sehari-hari dan dibagi ke kedua adik saya.

Menyelesaikan kuliah adalah prioritas utama saya. Saya sadar bahwa kalau mau dapat posisi yang lebih baik di tempat kerja, saya harus punya pendidikan yang cukup tinggi.

Selain itu yang lebih penting, saya harap tidak ada lagi ancaman terorisme, jadi tidak perlu lagi ada anak-anak yang menderita seperti kami. Saya hanya ingin hidup damai. Dari pengalaman hidup saya terorisme hanya menyebabkan penderitaan dan rasa sakit.

Saya kehilangan orang yang paling saya cintai. Karena itu kita semua harus bersatu melawan terorisme. Saya harap tidak ada lagi ancaman serangan teroris, tidak ada lagi anak-anak harus menderita karenanya seperti yang pernah kami alami.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya