Follow us

ISIS, Konsekuensi yang Tak Diharapkan dari Suriah

Rohan Gunaratna
2015-11-18
Email
Komentar
Share
Orang-orang berkumpul untuk mengenang korban serangan di dekat gedung pertunjukan Bataclan di Paris, dua hari setelah kelompok teroris menembak mati 89 orang disana, 15 November 2015.
Orang-orang berkumpul untuk mengenang korban serangan di dekat gedung pertunjukan Bataclan di Paris, dua hari setelah kelompok teroris menembak mati 89 orang disana, 15 November 2015.
AFP

Para veteran Afganistan membentuk peta terrorisme global dalam tiga tahun terakhir. Sekarang konsekuensi konflik Suriah menyetir ancaman terorisme global.

Serangan brutal di Paris, Jumat lalu berdampak langsung dan memiliki impak jangka panjang di dunia. Karena tidak mungkin bisa melindungi semua target di komunitas (soft target), serangan seperti yang terjadi di Paris tampaknya akan menjadi pola masa depan untuk jaringan ISIS, juga pesaingnya al-Qaeda dan kelompok  lainnya.

Paris tampaknya adalah awal dari konsekuensi konflik Suriah. Dengan banyaknya kelompok radikal dan individu dari Asia, Timur Tengah dan Afrika pergi ke Suriah untuk bertempur, sekembalinya mereka dari Suriah, negara-negara di Selatan akan tetap menjadi wilayah yang paling rentan.

Kemampuan pemerintah di negara-negara ini untuk memonitor pergerakan orang-orang  yang kembali dan melacak pengaruh mereka di dunia maya terbatas dibandingkan mitra mereka di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Dengan kebangkitan Asia, dan puluhan kelompok yang  menyatakan sumpah setia mereka kepada kepemimpinan ISIS, bisa diprediksi bahwa ancaman ini berdampak ke wilayah Asia Pasifik.

“Peringatan bagi mereka yang mau belajar”

Aksi di Paris menewaskan 129 orang dan melukai 352 (99 dalam kondisi kritis) di kafe, stadion dan tempat pertunjukan. Serangan itu mengambil model serangan di Mumbai (26 – 29 November, 2008), dimana 10 penyerang bunuh diri menewaskan 166 orang dan melukai ratusan orang di dua hotel, stasiun kereta api, kafe, dan rumah sakit.

Baik di Paris dan Mumbai, pelakunya bersenjata otomatis dan menyandera korban sebelum membunuhnya dengan tragis. Rencana serangan itu dilakukan tidak di negara bersangkutan tapi di negara tetangga mereka, Belgia dalam kasus Perancis dan Pakistan pada kasus India, membuat sulit untuk dideteksi.

Dalam serangan Paris, ISIS mengklaim kelompok teroris itu sebagai “kelompok yang setia kepada tentara Khilafah” dan “menyasar ibukota prostitusi dan kebejatan.”

Menurut Kelompok Intelejen SITE, ISIS juga mengatakan, “Kedelapan saudara mereka yang menggunakan rompi peledak dan dipersenjatai dengan senjata  otomatis, menargetkan tempat-tempat yang sudah dipilih secara akurat di jantung kota Paris, termasuk Stadion Stade de France dimana pada saat itu berlangsung pertandingan antara tim Jerman dan Perancis,  yang juga dihadiri oleh ‘si bodoh dari Perancis’,  Francois Hollande.”

Untuk  pembenaran terhadap serangan di tempat konser Bataclan, ISIS mengatakan, “Ratusan orang murtad telah berkumpul dalam pesta prostitusi hura-hura di sana, dan di wilayah ke-10, ke-11, dan ke -18 [menunjuk ke wilayah pembagian kota Paris]…”

Dan diakhiri dengan pernyataan, “Biarkan Perancis dan mereka yang berjalan di jalannya tahu bahwa mereka akan tetap berada di urutan pertama sasaran ISIS… Serangan ini adalah yang pertama dari badai serangan lainnya dan menjadi peringatan bagi mereka yang mau belajar.”

Jaringan ISIS Eropa mengoyak Perancis, ketika negara itu mulai meningkatkan pengawasan dan operasi udaranya di atas wilayah yang dikontrol ISIS.

Sebuah titik balik

Serangan di Paris menunjukkan kapasitas ISIS melakukan penyerangan jauh dari pusat mereka di Irak dan Suriah. Kebrutalan mereka mencerminkan difusi pola pikir dan metodologi ISIS; jangkauan mereka menyasar pada ancaman yang terus berlangsung yang berasal dari segmen diaspora Perancis dan komunitas migran yang telah menjadi radikal dan dimiliterisasi, didorong oleh perkembangan di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Tidak seperti di AS, diaspora Muslim dan migran di Eropa tinggal di wilayah kantong-kantong. Bagian kecil dari diaspora itu  telah sangat dipengaruhi oleh ideologi al-Qaeda dan ISIS.

Eropa selalu memberikan prioritas yang lebih tinggi pada pemenuhan hak asasi manusia di atas faktor keamanan. Tetapi serangan Paris minggu lalu,  kemungkinan akan menjadi titik balik dalam perang Eropa melawan terorisme. Serangan itu bisa jadi memperkuat seruan  untuk diberlakukannya undang-undang yang keras untuk penahanan pencegahan, termasuk mencegah masuknya para migran. Sampai ketika terjadi serangan itu, migran dari Suriah dan Iraq menerima respons yang bervariasi di Eropa. Kini, Jerman mungkin akan ditekan untuk bergabung dengan seluruh Eropa dan mengidentifikasikan diri dengan konsep membentengi Eropa.

Seperti Mumbai, Serangan di Paris adalah serangan”hybrid”, kombinasi,  dimana teroris  menggabungkan dua hal - serangan bersenjata dan bunuh diri. Ketika teroris melakukan serangan bersenjata  yang dikombinasikan dengan bunuh diri, satuan polisi biasa tidak siap untuk merespons. Mereka tidak dilatih untuk menghadapi teroris yang dipersenjatai dengan senjata otomatis, mengenakan rompi bunuh diri dan melakukan penyanderaan.  Untuk melawan teroris yang sangat terlatih, dengan niat membunuh dan bersedia mati, negara memerlukan pasukan khusus. Pemerintah di seluruh dunia perlu meningkatkan dan memperluas tim tanggap khusus mereka untuk melawan gelombangi terorisme ini.

Target lunak

Dalam serangan di Paris, teroris melihat celah dalam langkah-langkah keamanan yang dikembangkan Perancis setelah penembakan Charlie Hebdo pada Januari tahun 2015. Sementara Perancis memusatkan perlindungan pada target diplomatik dan pemerintah, ISIS menyerang soft targets; masyarakat dan tempat-tempat hiburan.

Serangan itu memperlihatkan tantangan kita dalam melindungi sasaran-sasaran di  masyarakat. Pemerintah perlu menetapkan strategi untuk mengembangkan program yang melibatkan  komunitas untuk menjangkau masyarakat, penduduk dan pengunjung untuk melaporkan aktivitas yang mencurigakan.

Setiap aksi terorisme  memerlukan sebuah siklus kegiatan sebelum terjadinya serangan: propaganda, perekrutan, penggalangan dana, pengadaan barang, transportasi, tempat perlindungan, training, komunikasi, perjalanan, penggunaan beberapa identitas, pengamatan target, dan latihan. Dengan meningkatkan kewaspadaan publik dan menjaga kesiagaan kita, dukungan terhadap kaum ekstrimis dan teroris serta kegiatan operasional mereka dapat dideteksi pada tahap sebelum serangan.

Tidak akan ada serangan teroris yang berhasil kecuali komunitas di sekitarnya memungkinkan. Teroris mengindoktrinasi dan merekrut anggota masyarakat. Komunitas adalah sumber dasar dari para teroris. Teroris dan pemerintah bersaing untuk mempengaruhi masyakat. Jika ideologi teroris dan ekstrimis menyebar dalam komunitas, maka  masyarakat akan bersimpati, mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan kaum teroris dan ekstrimis melawan masyarakat dan negara.

Setiap keberhasilan serangan teroris adalah sebuah kegagalan intelijen. Setelah  dua kali diserang pada 2015, pemerintah dan masyarakat Perancis akan menyerukan reformasi sistem keamanan dan intelejen. Ini harus mencakup langkah-langkah yang tidak hanya meningkatkan personil intelejen tetapi juga teknik yang digunakan.

Kemajuan dalam enkripsi telah membantu komunikasi ISIS yang tidak terbaca oleh pemerintah. Pemerintah harus mengeluarkan undang-undang untuk memastikan perusahaan- perusahaan Silicon Valley merancang produk mereka dengan memungkinkan badan-badan keamanan nasional memantau komunikasi teroris.

Dampak pada Asia

Baik negara-negara Barat dan Timur berada di bawah ancaman ISIS. Tidak ada satu negara pun yang kebal.

Ditantang oleh kesuksesan ISIS di Paris, kelompok-kelompok yang bersaing dengan ISIS, terutama al-Qaeda, tampaknya akan menyerang kawasan tidak hanya di Eropa. Dengan kemudahan travel dan komunikasi antara Timur Tengah, Afrika Utara dengan Asia, ancaman terorisme ini semakin berkembang. Ideologi ISIS beresonansi dengan sejumlah kecil Muslim di seluruh dunia, dari Toronto ke Paris, dari Jakarta sampai Sydney.

Pemerintah Asia-Pasifik harus berbagi teknik-teknik  terbaik  mereka untuk membangun kapasitas penanggulangan terorisme. Pemerintah yang maju dalam melawan terorisme perlu memperkuat kemitraan yang ada dengan badan-badan antiteroris yang muncul di Asia Tenggara, dan memperluas hubungan dengan mereka di Timur Tengah dan Afrika.

Selain itu, strategi juga harus dimulai pada keterlibatan masyarakat dan rehabilitasi teroris. Pemerintah di wilayah ini harus berinvestasi lebih banyak dalam melawan propaganda ekstrimis dan teroris secara online. Ibaratnya lari, kecepatan propaganda ideologi ISIS ini melesat kencang sementara pemerintah merangkak.

Perancis bukanlah pengecualian: pemerintah di seluruh dunia tidak siap dan belum siap menjawab tantangan yang ditimbulkan ISIS, kelompok mereka dan jaringan mereka yang tumbuh di dalam negeri. Serangan mereka merupakan konsekuensi dari kegagalan sistem internasional menyusun dan melaksanakan strategi global untuk menstabilkan zona konflik dan memerangi “setan” produk sampingan mereka, terorisme global.

Setiap keberhasilan serangan teroris adalah serangan terhadap kemanusiaan. Dunia harus berdiri bersama untuk memerangi terorisme yang dilakukan oleh kelompok maupun individu.

Rohan Gunaratna adalah pimpinan International Center for Political Violence and Terrorism Research di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura. Opini yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah milik dari penulis dan bukan dari BeritaBenar

Tampilan selengkapnya