Follow us

Ditengah Keterpurukan, ISIS Membuka Provinsi Baru di Asia Tenggara

Militan di Asia Tenggara telah lama menuntut dibentuknya wilayat (provinsi) ISIS di wilayah asal mereka.
Komentar oleh Zachary Abuza
2018-07-23
Email
Komentar
Share
Seorang tentara Filipina berjaga-jaga di dekat kubah Masjid Agung yang rusak di Marawi, di Filipina selatan yang dikuasai militan pro-ISIS selama lima bulan pada tahun 2017 oleh militan pro-Islam, 7 April 2018.
Seorang tentara Filipina berjaga-jaga di dekat kubah Masjid Agung yang rusak di Marawi, di Filipina selatan yang dikuasai militan pro-ISIS selama lima bulan pada tahun 2017 oleh militan pro-Islam, 7 April 2018.
Felipe Villamor/BeritaBenar

Kantor berita Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) al-Naba baru-baru ini mengumumkan reorganisasi besar kelompok ekstremis tersebut. Di Irak dan Suriah, 22 wiliyatnya (provinsi) telah ditata ulang menjadi hanya dua provinsi, yang mencerminkan fakta bahwa mereka telah kehilangan lebih dari 80 persen wilayah mereka. Tetapi mereka tampaknya telah menambahkan sebuah provinsi baru di Asia Tenggara: Wilayat Sharq Asiyya, sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu militan ISIS di Asia Tenggara.

Militan di Asia Tenggara pertama kali menyatakan bai'at atau janji setia kepada ISIS pada pertengahan 2014. Isnilon Hapilon dari Kelompok Abu Sayyaf, dan Santoso dari Mujahidin Indonesia Timur, adalah beberapa orang pertama yang melakukannya.

Para Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro (yang mundur dari Front Pembebasan Islam Moro), dan Ansuar Khalifa Filipina (AKP), dan Grup Maute, juga melakukannya. Mantan pemimpin spiritual pro-Al Qaeda Jemaaah Islamiyah, Abu Bakar Ba'asyir dan Aman Abdurrahman, menyatakan bai'at dari penjara Indonesia, yang menyebabkan keretakan di antara militan Indonesia.

Sangat penting untuk dicatat bahwa kebangkitan ISIS, yang terjadi di Irak dan Suriah pada pertengahan 2014, memainkan peran fundamental dalam menghidupkan kembali jaringan teroris di seluruh Asia Tenggara.

JI

Di Indonesia, Jamaah Islamiyah (JI) sebagian besar tidak mempunyai pemimpin dan terpecah berdasarkan strategi dan taktik. Juga terjadi perdebatan intens atas penargetan: Satu faksi ingin meniru radikalisme Al Qaeda di Irak dan mengintensifkan penargetan mereka terhadap Barat. Yang lain menentang strategi itu, bukan sebagai kesalahan secara etis, tetapi sebagai kontraproduktif, yang menyebabkan terjadinya penahanan massal. Tidak ada pihak yang muncul sebagai pemenang.

Pada 2009-2010 ditempuh usaha untuk menjembatani perbedaan itu, tetapi aparat keamanan Indonesia berhasil mematahkan usaha tersebut dan membunuh atau menangkap lebih dari 120 anggota JI, termasuk Ba'asyir.

Pasukan keamanan memberi ruang agar JI tetap ada, melalui masjid dan madrasahnya, selama itu tetap fokus pada kegiatan dakwah. Setiap upaya untuk menghidupkan kembali kelompok tersebut atau merekrut pemimpin baru sebagian besar gagal karena kesulitan beroperasi dalam lingkungan yang tidak bersahabat seperti itu: pasukan keamanan Indonesia telah secara efektif membendung kelompok tersebut.

Di Filipina, Abu Sayyaf, yang cenderung terombang-ambing antara terorisme yang dimotivasi secara ideologis dan kriminalitas, kembali ke metode penculikan untuk meminta uang tebusan, tidak berkontribusi banyak. Sebagian besar kelompok Moro telah gagal mendapatkan kekuasaannya, karena proses perdamaian antara pemerintah dan MILF berjalan lancar. Hanya setelah serangan Mamasapano yang gagal pada Januari 2015 yang membuat proses perdamaian dihentikan, kelompok-kelompok pinggiran ini meningkatkan rekrutmen mereka dan menjadi kelompok yang lebih dikenal. .

Jadi munculnya ISIS memberikan raison d'etre- alasan baru, dan yang lebih penting, sebagai alat pemasaran. Militan bisa menjadi kekuatan yang tampaknya tak terhentikan. Mereka lebih fokus pada sektarianisme dan kebrutalan militan ISIS. Sementara penggerebekan terus berlangsung di dalam negeri, generasi baru melakukan perjalanan ke Irak dan Suriah untuk “join the caravan”, istilah mereka untuk berjihad dan hijrah memperjuangkan tujuan Islam.

Khatibah Nusantara

Pada akhir 2014, ada cukup banyak orang dari Asia Tenggara di Suriah untuk membentuk kelompok khusus yang berbahasa Melayu, Khatibah Nusantara. Dari sebagai tentara, Khatibah Nusantara mulai membuktikan keberadaannya dalam pertempuran melawan Peshmerga Kurdi.

Dan media sosial ISIS yang impresif dibuat khusus untuk para pemuda Asia Tenggara. Pada akhir 2014, ISIS menampilkan orang-orang Asia Tenggara dalam propaganda mereka, dan meningkatkan publikasi dan multi-media dalam bahasa Melayu. Video perekrutan lainnya muncul, dan e-zine mingguan Al-Fatihin mulai diproduksi pada Juli 2016. Saluran Pro-ISIS di Telegram terus berkembang. Pada akhir 2014, ada saran bahwa ISIS akan mendirikan sebuah provinsi di Asia.

Lebih dari 1.000 orang Asia Tenggara melakukan perjalanan ke Irak dan Suriah, meskipun hanya beberapa ratus yang militan; sisanya adalah perempuan, anak-anak, dan pekerja kemanusiaan. Banyak yang dijanjikan gaji besar dan pekerjaan di khilafah. Sebagian besar ditipu, sementara perempuan sering diperlakukan sebagai material. Banyak lagi yang lainnya yang yang dipulangkan oleh otoritas Turki.

Tidak diakui

Namun militan Asia Tenggara gagal mendapatkan pengakuan yang mereka harapkan dari kepemimpinan ISIS. Mungkin dikarenakan militan pro-ISIS di Asia Tenggara tidak memiliki rekam jejak yang fantastis pada awalnya. Serangan ISIS besar pertama adalah serangan terhadap Starbucks Jakarta pada Januari 2016. Ada laporan tentang kepemimpinan Asia Tenggara yang ditegur karena hanya menjadi jihadis secara online, tidak bisa mengatur serangan secara signifikan.

Pada awal 2016 ISIS akhirnya mengakui pernyataan bai'at dari sejumlah militan Asia Tenggara, menyatakan bahwa Isnilon Hapilon dari kelompok Abu Sayyaf menjadi emir, dan kelompok pro-ISIS lainnya menjadi "tentara".

Keinginan untuk keberhasilan dan fokus dalam membangun proyek khilafah mereka, membuat Asia Tenggara yang terlalu jauh tidak menjadi prioritas. Tetapi ada kemungkinan ISIS hanya menunggu kelompok atau pemimpin mana yang muncul. AKP  misalnya, dianggap memiliki kemungkinan itu, tetapi dengan kematian pemimpin mereka, kelompok itu jatuh ke dalam kekacauan. Sebaliknya, Mautes muncul tiba-tiba.

Propaganda ISIS memang mencoba untuk mendemonstrasikan bagaimana kelompok-kelompok Filipina dan pejuang asing bisa bersama, seperti melakukan pelatihan bersama. Namun ISIS tidak pernah menyatakan Asia Tenggara sebagai wiliyat.

Bahkan dengan pengepungan Marawi, dari Mei hingga Oktober 2017, ISIS tidak pernah menyatakan wilayat. Memang, ada bukti yang menunjukkan bahwa Hapilon dan Mautes mengepung wilayah pusat dengan populasi terbesar sebagai sesuatu yang dapat mereka klaim kepada pimpinan ISIS untuk bisa dideklarasikan sebagai wilayat, yang tentu saja akan membantu mengonsolidasikan otoritas mereka sendiri.

Pengepungan Marawi terjadi ketika ISIS kehilangan sebagian besar wilayahnya sendiri di Irak dan Suriah. Ini memiliki dua efek langsung: Pendukung Asia Tenggara didorong untuk berperang di Mindanao, daripada di Irak atau Suriah. Ini penting karena militan luar sering mampu menjembatani perbedaan parokial dan membuat kelompok di Filipina bekerja sama dengan satu sama lain.

Secara individual banyak dari kelompok ini adalah pinggiran, tetapi mereka benar-benar dapat menjadi lawan tangguh bagi pemerintah ketika mereka bekerja sama, seperti yang kita lihat di Marawi.

Kedua, Asia Tenggara menjadi lebih penting dalam hal media pusat ISIS, meskipun berkurang, karena mulai mengubah strateginya menjadi pemberontakan global. Organ media pusat ISIS menghasilkan film dokumenter impresif di Marawi, sebagai bagian dari seri "Di dalam Kekhilafahan”.

Menuju pemberontakan global

Karena ISIS telah mengubah strateginya secara penuh ke sebuah pemberontakan global, Asia Tenggara memiliki peran signifikan lainnya. Bukan untuk mengatakan bahwa akan ada lebih banyak serangan di Asia Tenggara, tetapi akan ada lebih banyak tekanan pada militan di sana untuk melakukannya. Mereka telah mendorong terjadinya ini selama sekitar empat tahun.

Ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tertentu: akankah lebih banyak sumber daya mengalir ke kelompok-kelompok Asia Tenggara? Akankah organ media pusat meningkatkan liputan tentang mereka dan media bahasa lokal? Akankah para pemimpin ISIS mendorong kerjasama yang lebih besar di antara kelompok-kelompok, atau sebuah komando dan kontrol yang lebih bersatu?

Tetapi yangjuga harus menjadi pertanyaan adalah apakah mereka memiliki kapasitas. Para pemimpin ISIS yang paling penting, baik di Suriah dan Asia Tenggara telah terbunuh, atau diyakini tewas. Ini termasuk Mohammed Lutfi Arrifin, Bahrum Naim, Bahrumsyah, Isnilon Hapilon, Salim Mubarak Attamimi (Abu Jandal), dan Mautes. Aman Abdurrahman baru-baru ini dijatuhi hukuman mati, dan Abu Bakar Ba'asyir masih di penjara.

Ada banyak orang lain di pinggiran, tetapi pasukan keamanan Indonesia, Malaysia, dan Singapura semuanya telah meningkatkan operasi penanggulangan terorisme (CT) mereka, membuat para militan yang bersenjata tersebut tidak memiliki kekuatan dan sumber daya.

Filipina jelas masih merupakan mata rantai yang lemah, tetapi semoga dengan implementasi perjanjian damai dengan MILF, mereka akan perlu membuktikan diri dengan menindak militan pro-ISIS, yang bagaimanapun juga, menantang MILF untuk kepemimpinan.

ISIS telah memperlihatkan dengan jelasbahwa mereka tidak akan meninggalkan kekhalifahan mereka, terlepas dari kerugian teritorial mereka. Khilafah telah bermetamorfosis, dan akan mencakup wilayah-wilayah baru, seperti Asia Tenggara. Tetapi untuk menjadi jelas, tidak semua tampaknya berada dalam misi yang sama dalam kepemimpinan ISIS, dimana beberapa saluran Telegram ISIS masih belum menggunakan label "wilayat" dalam referensi untuk Asia. Tetapi ketika ISIS sepenuhnya mengadopsi model pemberontakan, kita diingatkan betapa efektif pemberontakan telah dilancarkan di hutan-hutan Asia Tenggara.

Zachary Abuza adalah seorang profesor di National War College di Washington dan penulis buku “Forging Peace in Southeast Asia: Insurgencies, Peace Processes, and Reconciliation.” Opini yang disampaikan di sini adalah miliknya sendiri dan tidak mencerminkan opini Departemen Pertahanan Amerika Serikat, the National War College atau BeritaBenar.

Tampilan selengkapnya