Follow us

Festival Kuliner Raja Mataram

Melalui festival kuliner diharapkan masyarakat tertarik untuk ikut melestarikan peninggalan sejarah masa lalu.
Kusumasari Ayuningtyas
Klaten
2017-02-24
Email
Komentar
Share

Ada banyak cara melestarikan kebudayaan leluhur. Salah satu contohnya adalah lewat Festival Kuliner Raja-Raja Mataram yang diselenggarakan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Selasa, 22 Februari 2017, di pelataran Candi Sojiwan, Kebondalem Kidul, Kabupaten Klaten.

Masakan yang dipilih bukan sembarangan, tetapi sajian yang dulu hanya boleh disantap raja dan pemimpin wilayah yang telah diangkat jadi Sima atau orang berjasa kepada raja. Sajian khusus ini disebut rajamangsa atau mahamangsa.

Rajamangsa yang disajikan sesuai relief-relief yang ada di Candi Prambanan dan Candi Borobudur serta candi-candi sekitarnya yang merupakan bangunan cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram. Tidak semua rajamangsa bisa disajikan dalam festival ini karena ada perubahan nilai, budaya, dan keyakinan.

Beberapa makanan yang tidak disajikan meski ada dalam relief candi, misalnya kura-kura, kambing bunting, babi hutan dikebiri, anjing dikebiri, penyu, ikan taluwah dan ikan asin.

Sedangkan makanan yang disajikan sesuai relief candi di antaranya hadangan harang (sate lilit daging kerbau), hadangan madhura (daging kerbau masak manis), dundu puyengan (belut dibentuk melingkar), maneka kuluban (sayur-sayuran rebus dengan bumbu wijen hitam) serta phalamula (umbi-umbian rebus). Sedangkan minuman yang disaji adalah nalaka rasa (minuman sari tebu), jati wangi (minuman sari melati) dan kinca (minuman sari asam).

Beberapa makanan mulai sulit ditemui saat ini seperti nasi jali yaitu nasi dari jagung jali yang dimakan dengan campuran aren dan air gula merah. Sejumlah umbi-umbian yang mulai langka seperti enthit dan lembong yang bentuknya menyerupai jahe tetapi berukuran besar tetap dipamerkan.

Pengkaji Festival Kuliner Raja-Raja Mataram, Riris Purbasari, melihat bahwa festival ini menjadi bukti bahwa dunia kepurbakalaan dan sejarah masa lalu bisa dikolaborasikan dengan aktivitas kekinian. Dampak positif yang diharapkan, warga bisa mengenal dan merasa memiliki sehingga tertarik untuk ikut melestarikan.

Tampilan selengkapnya