Follow us

Rayakan Budaya Jawa dalam Karnaval Batik

Solo Batik Carnival tak hanya tampil di daerah asalnya, tapi juga di sejumlah wilayah lain di Indonesia, bahkan diundang dalam kancah internasional.
Kusumasari Ayuningtyas
Solo
2017-07-19
Email
Komentar
Share

Solo Batik Carnival digelar kembali pada 14-16 Juli 2017. Gelaran budaya untuk mempromosikan batik yang diwujudkan dalam kostum aneka warna pesertanya ini, pertama kali diselenggarakan pada 2008 saat Joko “Jokowi” Widodo menjabat Walikota Solo.

Ketua Yayasan Solo Batik Carnival, Susanto, mengatakan kegiatan ini memang bertujuan melestarikan batik sebagai kekayaan budaya Indonesia.

Pada setiap penyelenggaraan, kegiatan ini selalu mengangkat tema berkaitan dengan kebudayaan Jawa, seperti Wayang, Topeng, Sekar Jagad, Keajaiban Legenda, Mustika Jawa Dwipa, dan Jatayu.

Dalam satu dasawarsa penyelenggaraannya, seluruh tema yang pernah ada sepanjang perhelatan acara itu dimunculkan menjadi enam sub-tema dengan topik utama Astamurti Kawijayan, yang berarti kejayaan tradisi dan budaya Jawa.

Total peserta kali ini berjumlah 450 orang, dimana 50 di antaranya mengenakan kostum batik modifikasi bentuk simbolis dari enam sub-tema yang ditampilkan.

Sedangkan 400 peserta lain adalah barisan pengiring. Jalur yang dilintasi sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu sepanjang 4,2 kilometer di Jalan Slamet Riyadi.

Tidak hanya di Solo, ajang ini pernah juga tampil di daerah lain di Indonesia. Malah beberapa kali diundang untuk tampil di kancah internasional, kata Susanto.

Tahun 2013, Solo Batik Carnival yang mengusung tema Wonderful Indonesia tampil di Tournament of Roses Pasadena, California, Amerika Serikat, dan mendapat tropi sebagai kendaraan hias dengan presentasi hiasan bunga paling menarik dan inovatif.

Sebelumnya pada Februari 2010, Solo Batik Carnival juga mengikuti Cingay Parade di Singapura dan Festival Tongtong di Den Haag, Belanda.

Tampilan selengkapnya