Follow us

Malaysia: 5 Nelayan Indonesia Diculik di Perairan Sabah

Pihak berwenang mencurigai kelompok yang menculik untuk tebusan bertanggung jawab atas penculikan pertama pada 2020 itu.
Zam Yusa & Noah Lee
Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu, Malaysia
2020-01-18
Email
Komentar
Share
Empat orang nelayan Indonesia yang diculik di perairan timur Sabah, Malaysia, oleh kelompok yang diduga sebagai anggota militan Islam di Filipina tiba di Jakarta, 13 Mei 2016.
Empat orang nelayan Indonesia yang diculik di perairan timur Sabah, Malaysia, oleh kelompok yang diduga sebagai anggota militan Islam di Filipina tiba di Jakarta, 13 Mei 2016.
AFP

Pihak berwenang pada Sabtu (18/1/2020) mengatakan mereka mencurigai kelompok penculik yang bertujuan menuntut tebusan dari Filipina Selatan telah menculik lima nelayan Indonesia dari perairan di Sabah timur Malaysia pada awal pekan ini.

Polisi Malaysia melaporkan penculikan terjadi sekitar pukul 8 malam pada 16/1/2020  ketika enam pria bertopeng dan bersenjata naik ke perahu yang berisi delapan orang di dekat pulau Tambisan dan kemudian menuju ke perairan Filipina. Pihak berwenang Filipina tidak segera memberikan komentar atas laporan itu.

Para penculik membawa kapten kapal yang diidentifikasi sebagai Arsyad Dahlan, 41, dan empat orang lainnya, Arizal Kastamiran, 29, La Baa, 32, Riswanto Hayano, 27, dan Edi Lawalopo, 53, sedangkan tiga nelayan lainnya, Abdul Latif, 37, Daeng Akbal, 20, dan Pian Janiru, 36, dilepaskan dan dibiarkan tetap berada di kapal mereka sendiri. Ketiganya kemudian kembali ke Sabah keesokan harinya.

Hazani Ghazali, kepala Komando Keamanan Sabah Timur, membenarkan insiden itu.

"Kami menduga ini dilakukan oleh kelompok penculik untuk meminta tebusan," katanya kepada BenarNews ketika ditanya apakah penculikan itu dilakukan oleh Kelompok Abu Sayyaf atau kelompok berbeda yang beroperasi dari pulau-pulau Filipina yang berbatasan dengan Malaysia.

Hazani mengonfirmasi laporan bahwa kapal penangkap ikan terdeteksi pada jam 9:10 malam waktu setempat. Ketika mereka kembali ke perairan Malaysia pada hari Jumat, tiga nelayan ditahan oleh polisi militer untuk diinterogasi tentang penculikan itu.

Pihak berwenang belum menentukan  kelompok yang bertanggung jawab atas penculikan yang merupakan kejadian pertama pada tahun 2020.

Abu Sayyaf diklaim atas serentetan penculikan di kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir di mana para pelaut dan nelayan Malaysia dan Indonesia disandera. Dalam kejadian sebelumnya para penculik menuntut uang tebusan untuk pembebasan tawanan mereka.

Bulan September lalu, tiga nelayan yang diyakini sebagai warga Indonesia diculik dari kapal mereka di lepas pantai timur Sabah dekat perbatasan dengan Filipina.

Sebelumnya pada bulan yang sama, polisi Malaysia mengatakan pasukan keamanan menembak mati dua tersangka anggota Abu Sayyaf dalam tembak-menembak di laut lepas pantai negara bagian Sabah.

Founded in the early 1990s, Abu Sayyaf is notorious for kidnappings, bombings and beheadings carried out in the southern Philippines over the past two decades. The group, based in and around Jolo and Basilan islands in the southwestern part of the Philippines, has been blacklisted by the United States as a foreign terrorist organization.

Didirikan pada awal 1990-an, Abu Sayyaf dikenal kekejamannya dengan melakukan penculikan, pemboman dan pemenggalan kepala yang dilakukan di Filipina selatan dalam dua dekade terakhir. Kelompok yang bermarkas di dan sekitar pulau Jolo dan Basilan di bagian barat daya Filipina, telah dimasukkan dalam daftar hitam oleh Amerika Serikat sebagai organisasi teroris.

Jam malam diberlakukan di Sabah dalam berapa bulan terakhir ketika pihak berwenang mengambil langkah untuk membatasi pergerakan kelompok-kelompok bersenjata yang terlibat dalam kejahatan penculikan untuk tebusan.

Malaysia menandatangani perjanjian dengan Filipina dan Indonesia pada tahun 2017 untuk meluncurkan patroli trilateral di kawasan tersebut yang bertujuan mengurangi risiko penculikan dan aksi terorisme lainnya.

Tampilan selengkapnya