Follow us

Abu Walid, “Teroris Global” Asal Indonesia Tewas di Suriah

Kusumasari Ayuningtyas
Klaten
2019-01-29
Email
Komentar
Share
Foto yang diambil tanggal 27 Januari, 2019, di Desa Baghouz, Suriah, menunjukkan asap dari lokasi dimana prajurit Arab dan Kurdi dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berperang dengan grup ISIS. Dibantu ollen koalisi serangan uddar AS, sekutu yang dipimpin oleh suku Kurdi telah berhasil memojokkan para ekstremis tersebut ke tempat sempit di pinggir sungai Eufrat di provins Deir Ezzor.
Foto yang diambil tanggal 27 Januari, 2019, di Desa Baghouz, Suriah, menunjukkan asap dari lokasi dimana prajurit Arab dan Kurdi dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berperang dengan grup ISIS. Dibantu ollen koalisi serangan uddar AS, sekutu yang dipimpin oleh suku Kurdi telah berhasil memojokkan para ekstremis tersebut ke tempat sempit di pinggir sungai Eufrat di provins Deir Ezzor.
AFP

Muhammad Saifuddin alias Mohammed Yusop Karim Fais alias Abu Walid, seorang warga Indonesia yang oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (Kemenlu AS) ditetapkan sebagai “teroris global” telah tewas di Suriah.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamli membenarkan kabar kematian Abu Walid dan foto yang tersebar adalah sosok yang disebut-sebut tokoh penting kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Meskipun kita meyakini karena foto-foto meninggalnya ada, tapi kita konfirmasi ke kawan-kawan yang di sana,” ujarnya saat dikonfirmasi BeritaBenar, Selasa, 29 Januari 2019,

Kabar tewasnya Abu Walid awalnya beredar dari grup WhatsApp beranggotakan para militan ISIS yang kemudian menyebar ke banyak pihak, akhir pekan kemarin.

Dalam foto tampak seorang pria kurus memakai gamis hitam mengenakan ikat kepala coklat terbaring di tanah dengan berlandaskan kain selimut merah.

Wajah dalam foto itu terlihat sangat jelas dengan mulut sedikit agak terbuka sehingga memperlihatkan giginya.

Hamli mengaku tidak tahu pasti sumber pertama foto tersebut, tapi pihaknya mendapat informasi intelijen dan para mantan narapidana teroris yang terhubung dengan BNPT tentang kematian Abu Walid.

“Saat menerima informasi, BNPT melakukan kroscek dengan para mantan pelaku tindak terorisme yang mengenali Abu Walid dan juga dilakukan konfirmasi melalui pihak ketiga kepada keluarga terkait kebenaran kabar itu,” katanya.

Mengenai penyebab kematian, Hamli mengatakan karena perang yang memang sudah diberitakan media-media di Suriah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi mengaku belum tahu secara lengkap kabar kematian Abu Walid.

“Info sudah ada, tetapi kami masih menunggu informasi resmi dari Densus 88,” ujarnya singkat.

Sedangkan Muinudinillah Basri, kakak kandung Abu Walid, memastikan Abu Walid sudah meninggal, adiknya yang selama ini tak diketahui keberadaannya.

“Kelihatannya sudah meninggal beneran, saya terima kabar dari (teks) WA (Whatsapp) dan di situ ada fotonya beliau wafat,” ujar Muin saat dikonfirmasi, Senin.

Terkait detail bagaimana adiknya tewas, Muin mengaku tidak tahu.

Dia juga tidak berani memastikan di mana istri dan anak Abu Walid yang ikut menyusul ke Suriah.

Sejak bebas dari hukuman penjara di Filipina sekitar tahun 2013-2014, Muin mengaku tidak berkomunikasi lagi dengan adiknya.

“Dia terakhir kontak keluarga, tiga tahun lalu. Saat itu dengan ibu, saya tidak pernah,” ujarnya, yang meyakini mayat Abu Walid telah dikuburkan di sana dan tak ada mungkin dipulangkan ke Indonesia.

Mudah dikenali

Pakar dan peneliti terorisme di Asia Tenggara, Sidney Jones juga memastikan Abu Walid memang sudah tewas karena wajah dalam foto mudah dikenali.

“Saya kira benar, apalagi kalau lihat fotonya, gigi yang patah sudah menjadi ciri khas dia,” tuturnya kepada BeritaBenar.

Sidney menambahkan selain dari WhatsApp, ia juga mendapat pesan dari temannya yang memonitor media tentang konflik di Suriah.

“Kami yakin benar bukan hanya dari perincian yang ada, tapi juga dari wajah orang yang meninggal tentu bisa merubah foto, photoshop dan lain sebagainya. Tapi kali ini saya yakin benar walaupun nggak bisa dibuktikan seratus persen,” katanya yang menolak memerinci sumber dia memperoleh pesan tersebut.

Mengenai penyebab kematian Abu Walid, Sidney mengaku tidak tahu pasti.

Tetapi dia menduga kematian sosok yang diketahui memiliki peran cukup penting dalam kelompok ISIS terkait dengan pemberitaan dari Almasdarnews yang dipublikasikan pada 23 Januari 2019.

Dalam berita tersebut disebutkan tentang upaya infiltrasi perbatasan oleh kelompok ISIS yang digagalkan Pasukan Hashd Al-Sha’abi dari Irak.

Dalam pertempuran itu, sedikitnya 43 militan ISIS tewas seiring gagalnya usaha mereka untuk menyusup ke Irak dari Suriah.

Militan senior

Abu Walid adalah seorang militan senior yang cukup dikenal di kalangan jihadis karena telah terlibat dalam jaringan garis keras sejak konflik Ambon pada 1999.

Kembarannya yaitu Muhammad Nurudin alias Abu Walad tewas di Ambon tahun 2000.

Mereka dikenal sebagai ‘Si kembar Walad dan Walid.’

Setelah serangan Bom Bali I tahun 2002, Walid pergi ke Filipina. Di sana, dia ditangkap oleh Pemerintah Filipina karena kepemilikan senjata ilegal dan bahan peledak.

Bebas dari Filipina, Walid sempat pulang ke Indonesia tetapi kemudian pergi lagi dan kali ini berangkat ke Suriah hingga akhirnya dikabarkan menjadi orang kepercayaan pimpinan ISIS, Abubakar Al-Baghdadi.

Pada 24 November 2016 beredar video di grup Telegram yang sebenarnya sudah dirilis sejak 21 Juni 2016 yang menampilkan sosok Abu Walid dengan ciri khas badannya yang kecil dan kurus.

Setelah diberi kesempatan berbicara lima menit, di akhir video Abu Walid menyembelih sandera yang berlutut di hadapannya.

Akhir Agustus 2018, Kemenlu AS menetapkan Abu Walid sebagai seorang teroris global, yang saat itu diyakini masih hidup dan berada di Suriah.

Sofyan Tsauri, seorang bekas napi terorisme karena terlibat dalam pelatihan paramiliter di Aceh, mengakui bahwa dia cukup mengenal sosok Abu Walid dan sepak terjangnya di dunia terorisme.

Sofyan mengaku ikut menyebarkan informasi tewasnya Abu Walid setelah dia menerima pesan dari para anggota ISIS yang tergabung dalam beberapa grup media sosial.

“Saya mendapat berita itu Jumat tengah malam. Paginya, saya share tetapi di grup ISIS baru ramai Minggu karena banyak yang tidak kenal Abu Walid karena ISIS kebanyakan anak-anak baru,” ujar Sofyan.

Tampilan selengkapnya