Follow us

Anak-anak Rohingya Saksi Mata Kebrutalan Tentara Myanmar

Pemerintah Myanmar menyangkal pasukannya melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas Muslim Rohingya.
Jesmin Papri
Cox's Bazar, Bangladesh
2017-01-25
Email
Komentar
Share
Anak-anak Rohingya di kamp pengungsi Kutupalong di distrik Cox’s Bazar, tenggara Bangladesh, 18 Januari 2017.
Anak-anak Rohingya di kamp pengungsi Kutupalong di distrik Cox’s Bazar, tenggara Bangladesh, 18 Januari 2017.
Jesmin Papri/BeritaBenar

Anak-anak Rohingya, laki-laki dan perempuan berusia 11 dan 12 tahun menceritakan pengalaman mereka menyaksikan kebrutalan pasukan keamanan Myanmar. Mereka melihat saudara kandung mereka dibakar hidup-hidup, sehingga mereka melarikan diri dari negara bagian Rakhine di Myanmar dalam beberapa minggu terakhir.

Seorang koresponden BeritaBenar mewawancarai setidaknya 19 anak selama berada di kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar, sebuah distrik di bagian tenggara Bangladesh dimana berdasarkan estimasi PBB, terdapat sekitar 65.000 Muslim Rohingya yang telah melarikan diri dari Rakhine sejak awal Oktober 2016.

“Anggota militer merenggut saudara laki-laki saya dan membunuhnya, menyulut api ke rumah kami, dan menyiksa para perempuan,” ujar Tasmin Khatun (11), dengan menggunakan sebuah istilah yang merujuk pada perkosaan terhadap perempuan.

“Kami bersembunyi dalam hutan dekat tempat kami. Saya masih gemetar ketakutan setiap ingat kejadian itu. Saya tidak bisa tidur di malam hari,” ujar gadis Rohingya itu kepada BeritaBenar di kamp Kutupalong yang menampung pengungsi-pengungsi tidak terdaftar di subdistrik Ukhiya.

Pasukan keamanan Myanmar dituduh telah melakukan kekejaman terhadap populasi warga Rohingya, antara lain dengan pembunuhan yang ditargetkan, pemerkosaan, dan membakar rumah-rumah sambil melakukan pembersihan etnis, setelah terjadi pembunuhan sembilan penjaga perbatasan Burma oleh tersangka militan bulan Oktober lalu.

Pemerintah Myanmar menyangkal kritikan keras dari komunitas internasional dan mengatakan bahwa pasukannya tidak melakukan tindakan brutal seperti itu terhadap anggota kelompok minoritas Muslim Rohingya.

Minggu lalu, BeritaBenar melaporkan bahwa 17 dari 54 perempuan Rohingya yang diwawancara di kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah memerkosa mereka.

Dilempar ke kobaran api

Abdul Malek, seorang pemuda Rohingya yang berada di kamp pengungsi Leda di subdistrik Teknaf, mengatakan bahwa dia menyaksikan pasukan keamanan Myanmar melempar saudara laki-lakinya ke rumah keluarga mereka yang sedang dilalap api.

“Militer melempar saudara saya ke api.... Mereka telah membunuh semua orang dengan membakar,” ujar Abdul kepada BeritaBenar.

Dia dan seluruh anggota keluarganya berhasil kabur dengan melompat ke sungai di tengah semburan peluru yang ditembakkan pasukan keamanan ke arah mereka, ujar Abdul.

Zohur Ali, 12, seorang pengungsi di kamp Kutupalong, menceritakan insiden yang sama dan mengatakan bahwa pasukan keamanan merenggut dua adiknya dari pangkuan ibunya dan melemparkan mereka ke api yang sedang membakar rumah mereka.

“Zohur terus menangis dalam tidurnya. Saya tidak tahu apakah dia bisa pulih dari situasi ini,” kata Ibunda Zohur, Rahima Khatun (35), kepada BeritaBenar.

Nazim Uddin, 12, yang kehilangan ibunya saat melahirkan beberapa bulan lalu, mengatakan bahwa “beberapa hari lalu”, pasukan keamanan Myanmar menangkap dan memukuli ayahnya, sebelum dia bersama empat saudara kandungnya dan seorang paman kabur menyeberangi perbatasan.

Ia juga mengatakan bahwa dua saudaranya, Md Yeasin (2) dan Umme Salma (4), yang sedang dia peluk, masih terus trauma atas kejadian itu.

Perhitungan masih dilakukan

Seorang pejabat di kantor badan pengungsi PBB (UNHCR) di Dhaka, mengatakan pihaknya masih melakukan verifikasi jumlah warga Rohingya yang diperkirakan ada 65.000 yang telah tiba di Bangladesh bagian tenggara sejak Oktober lalu.

Angka tersebut tidak termasuk setidaknya 300.000 pengungsi Rohingya yang sudah lama tinggal di Cox’s Bazar sejak melarikan diri dari kekerasan di Rakhine beberapa tahun lalu.

“Kami terus melakukan survei untuk menentukan jumlah warga Rohingya yang baru datang. Sejauh ini, kami telah mencatat 12.000 pendatang baru termasuk diantaranya 5.000 anak,” ujar pejabat UNHCR tersebut, yang tidak bersedia disebutkan namanya, kepada BeritaBenar.

Ali Hossain, deputi komisioner di distrik Cox’s Bazar, mengatakan kepada BeritaBenar bahwa pemerintah setempat belum menghitung jumlah warga Rohingya “yang baru masuk Bangladesh.” Namun dia menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan imunisasi terhadap anak-anak dibawah lima tahun di kamp-kamp itu dan memberikan mereka dosis vitamin A.

170123-BD-rohingya-inside.jpg

Seorang bayi Rohingya sedang divaksinasi di kamp Kutupalong, 18 Jan 2017. [Jesmin Papri/BeritaBenar]

Md Alam, seorang pemimpin di Blok B di kamp Leda, mengatakan bahwa para pejabat menemukan kesulitan untuk memberikan makan bagi semua anak yang ada di kamp-kamp itu.

“Mana ada waktu untuk  mengurus masalah mental mereka?” ujarnya kepada BeritaBenar.

“Anak-anak ini hancur mentalnya karena telah mengalami kenyataan yang mengerikan; mereka sangat membutuhkan konseling untuk perbaikan mental mereka. Tapi dimana kesempatannya? Banyak dari mereka yang tidak dapat makan untuk bertahan,” ujar C.R. Abrar, pakar masalah pengungsi dan profesor di Universitas Dhaka, kepada BeritaBenar.

Tampilan selengkapnya