Follow us

Antisipasi Teroris Susupi Demonstrasi Hasil Pemilu, 9 Terduga Militan Ditangkap

Pakar terorisme meyakini para terduga merancang serangan serentak di Jakarta, Surabaya, dan Medan.
Rina Chadijah & Yovinus Guntur
Jakarta & Surabaya
2019-05-15
Email
Komentar
Share
Sekelompok polisi berpeci dan bersorban (kiri) berjaga di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menghalangi masuknya sejumlah pendukung kandidat presiden Prabowo Subianto (kanan) yang berunjuk rasa terkait apa yang mereka tuduhkan sebagai kecurangan Pemilu, di Jakarta, 10 Mei 2019.
Sekelompok polisi berpeci dan bersorban (kiri) berjaga di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menghalangi masuknya sejumlah pendukung kandidat presiden Prabowo Subianto (kanan) yang berunjuk rasa terkait apa yang mereka tuduhkan sebagai kecurangan Pemilu, di Jakarta, 10 Mei 2019.
AFP

Kepolisian menangkap sembilan orang terkait duugaan terorisme di sejumlah lokasi terpisah di Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim), dalam upaya antisipasi kemunginan aksi teror oleh kelompok militan dengan memanfaatkan unjuk rasa menolak hasil penghitungan suara Pemilu minggu depan.

“Penangkapan ini untuk melaksanakan tindakan preventive strike terhadap terduga pelaku terorisme,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Mabes Polri, Brigjen Pol. Dedi Prasetyo kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 15 Mei 2019.

Dia menambahkan para terduga teroris itu ditangkap dalam penggerebekan di sejumlah tempat, sehari sebelumnya.

“Saat ini mereka masih dimintai keterangan untuk didalami keterlibatannya,” ujar Dedi.

Sebelumnya Dedi sempat mengatakan bahwa sejumlah terduga teroris yang ditangkap sejak awal bulan ini berdasarkan data intelejen akan menggunakan situasi kerusuhan yang mungkin terjadi saat pengumuman resmi hasil Pemilu, 22 Mei nanti.

“Karena sudah ada indikasi. Mereka (teroris) sepakat melakukan serangan saat massa berkumpul di KPU (Komisi Pemilihan Umum). Ini perlu kami antisipasi secara maksimal,” ujar Dedi minggu lalu.

Indikasi rencana aksi teror ini juga dinyatakan pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Lhokseumawe di Aceh, Al Chaidar, yang meyakini para terduga yang ditangkap itu memiliki keterkaitan dengan terduga teroris yang ditangkap sebelumnya.

Menurutnya, para terduga teroris itu akan melancarkan serangan serentak di tiga kota besar yakni Jakarta, Medan dan Surabaya, dengan sasaran kerumunan massa di sekitar KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

“Saat ini mereka mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat bom. Tanggal 21 Mei akan dibawa ke tiga kota tadi, dengan sasaran kerumunan massa di sekitar KPU dan Bawaslu, yang rencananya akan aksi demo saat penetapan hasil Pemilu 2019 pada 22 Mei,” kata Chaidar kepada BeritaBenar.

Polisi mengatakan para terduga militan yang ditangkap itu memiliki keterkaitan dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok militan yang terafiliasi ISIS dan telah dimasukkan sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

Menurut Chaidar simpatisan JAD diperkirakan mencapai 5.000 orang di Jatim, tapi hanya puluhan saja yang siap dijadikan pengantin atau eksekutor bom bunuh diri.

Jumlah pengikut JAD di Jatim adalah terbesar di Indonesia, yang diperkirakan mencapai 37 ribu simpatisan. Berdasarkan investigasi pihak berwenang, JAD berada di belakang aksi terorisme empat tahun terakhir di Tanah Air.

Mengantisipasi kerusuhan pasca pengumuman hasil Pemilu, awal minggu ini pemerintah telah menyiapkan sekitar 32.000 personel polisi dan militer untuk menjaga ibukota, demikian kata Dedi.

Hingga hari ini, merujuk data di laman KPU, perhitungan suara pemilihan presiden telah mencapai 83,5 persen dari total 813.350 tempat pemungutan suara (TPS) yang ada.

Pasangan Joko "Jokowi" Widodo-Ma’ruf Amin tercatat mengumpulkan sekitar 71 juta suara atau 56 persen suara yang berarti unggul 12 persen dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Namun demikian kubu Prabowo-Sandi tidak menerima hasil perhitungan suara sementara KPU itu maupun hasil data hitung cepat sejumlah lembaga independen yang memenangkan Jokowi.

Kubu Prabowo menuduh telah terjadi kecurangan secara massif dalam Pemilu dan badan pemenangan Prabowo beberapa kali mengancam akan mengerahkan massa turun ke jalan untuk melancarkan apa yang mereka sebut “People Power” jika Prabowo kalah.

Sebagian besar pernah ke Suriah

Dedi menuturkan, dari sembilan yang ditangkap itu, tujuh diantaranya pernah berangkat ke Suriah.

“Mereka semua memiliki sejumlah kemampuan serta semangat jihad yang tinggi,” kata Dedi.

Dari tangan mereka, Densus 88 menyita sejumlah barang bukti berupa handphone, ATM, flashdisk, laptop, hardisk, serta beberapa catatan pribadi.

Menurut Dedi, penangkapan para terduga teroris tersebut merupakan bagian dari pengembangan tertangkapnya delapan terduga teroris di Bekasi, Jawa Barat, pada 2 hingga 8 Mei 2019 lalu.

Dari sembilan yang tertangkap kemarin, hanya seorang ditangkap di Jatim dan sisanya ditangkap di Jateng.

Di Jateng mereka ditangkap di beberapa lokasi terpisah yaitu Grobogan, Sukoharjo, Sragen, Kudus, Jepara, dan Semarang.

Saat beli pulsa

Terduga teroris yang ditangkap di Jatim, JP, diciduk saat membeli pulsa di satu counter HP di Desa Tanjung Tani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa malam. Turut dibawa, istri dan anak terduga teroris itu.

“Saya belum bisa memastikan apakah perempuan tersebut terlibat atau tidak,” kata Kasubag Humas Mapolres Nganjuk, AKP Sudarman, yang  menyebutkan JP sempat melawan petugas berpakaian preman saat hendak ditangkap.

JP disebut bukan warga Nganjuk, tetapi berasal dari Bekasi, Jawa Barat.

Di mata tetangganya, JP adalah sosok yang pendiam dan sopan.

Imam Syafii (26), warga setempat mengatakan, JP juga sering mengumandangkan adzan di masjid dan berbaur baik dengan jamaah lain.

“Orangnya biasa dan cenderung pendiam. Kalau yang perempuan memakai cadar,” ujarnya.

Sementara seorang terduga yang ditangkap di Sukoharjo, Jateng, yang beinisial A alias David (24), sehari-hari dikenal sebagai penjual es dawet.

Nur Alim, tetangga A sekaligus Ketua RT Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, mengatakan A kesehariannya jarang salat berjamaah bersama warga meski ia ditangkap usai salat subuh di mushalla.

“Sempat ikut kultum, tidak ada perlawanan, dia malah tersenyum ke arah kami yang masih mengikuti kultum ketika dimasukkan ke dalam mobil,” ujar Alim.

Kusumasari Ayuningtyas di Surakarta, Jawa Tengah, dan Arie Firdaus di Jakarta turut berkontribusi dalam artikel ini.

Tampilan selengkapnya