Follow us

Pariwisata Bali Mati Suri akibat Pandemi COVID-19

Pakar: pandemi memperlihatkan rentannya perekonomian jika hanya mengandalkan pariwisata.
Anton Muhajir
Badung, Bali
2020-04-08
Email
Komentar
Share
Seorang turis melewati spanduk penutupan tempat wisata di Pantai Kuta, Bali, 7 April 2020.
Seorang turis melewati spanduk penutupan tempat wisata di Pantai Kuta, Bali, 7 April 2020.
Anton Muhajir/BenarNews

Bayu Saputra, pekerja harian pariwisata di Bali, sudah hampir sebulan tidak bekerja setelah dirumahkan karena sepinya tamu di tengah pandemi virus corona, walau bulan ini seharusnya dia diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah klub pantai.

"Mau bagaimana lagi. Semua beach club di sana sekarang tutup semua," kata Bayu, 20 tahun, yang mengaku mendapat gaji bulanan Rp 2,9 juta plus tip Rp 350.000 bila bekerja.

Kini Bayu hanya membantu neneknya berjualan di warung. "Sambil nunggu pariwisata Bali hidup kembali," katanya.

Sebagai daerah yang sangat bergantung kepada pariwisata, Bali mengalami pukulan berat akibat pandemi COVID-19.

Selain karena tidak ada lagi penerbangan internasional yang beroperasi, juga karena ada larangan kunjungan dan transit terhadap warga asing yang dikeluarkan pemerintah pada 31 Maret 2020 dan berlaku sejak 2 April 2020 hingga pandemi dinyatakan berakhir.

Pada hari-hari biasa, Pura Uluwatu di Desa Pecatu, Kabupaten Badung adalah tempat populer untuk turis di Bali. Tiap hari, sekitar 7.000 turis berkunjung ke pura berlokasi di ujung Bali bagian selatan ini.

Namun, pada Selasa (7/4) tak ada satu pun turis di tempat wisata yang menjual pesona pura di ujung tebing dengan laut lepas di bagian bawahnya tersebut.

Hanya monyet-monyet penghuni Pura Uluwatu memenuhi hutan kecil di kawasan itu. Ribuan monyet itu memang jadi salah satu daya tarik Pura Uluwatu selain tari kecak tiap sore dan pura di atas tebing setinggi kira-kira 50 meter.

Begitu pandemi COVID-19 terjadi juga di Bali dengan meninggalnya seorang warga negara asing (WNA) pada 10 Maret 2020, Gubernur Bali I Wayan Koster langsung mengimbau tempat-tempat wisata di Bali untuk tutup. Namun, imbauan itu baru benar-benar diterapkan sejak 21 Maret 2020, termasuk di Pura Uluwatu.

“Kadang-kadang masih ada turis yang memaksa (mau masuk), tapi karena sudah ada instruksi dari pemerintah, kami tidak berani,” kata Wayan Mosin Ardana, Pengelola Pura Uluwatu.

Menurut Mosin, sejak pandemi COVID-19 muncul di Bali, jumlah turis di Pura Uluwatu terus turun. Pada hari normal, antara 4.000 sampai 6.000 turis berkunjung ke sini. Pada saat musim ramai bisa 7.000 hingga 8.000.

“Penurunan mulai terasa sejak Februari. Terakhir sampai sekitar 1.500 sebelum kemudian ditutup sama sekali,” katanya.

Hingga Rabu (8/4) tercatat dua orang meninggal di Bali karena COVID-19. Keduanya adalah warga negara asing. Sebanyak 49 orang tercatat positif virus corona, dan 18 diantaranya sembuh, di provinsi tersebut. Hingga berita ini ditulis, pemerintah mencatat 2.956 kasus positif di seluruh Indonesia dengan 240 korban meninggal.

Teater terbuka tempat pementasan tari kecak di Pura Uluwatu, Bali, yang biasanya selalu penuh pada saat sore hari, tampak lengang di tengah pandemi virus corona, 7 April 2020. [Anton Muhajir/BenarNews]
Teater terbuka tempat pementasan tari kecak di Pura Uluwatu, Bali, yang biasanya selalu penuh pada saat sore hari, tampak lengang di tengah pandemi virus corona, 7 April 2020. [Anton Muhajir/BenarNews]

Cukup enam bulan

Tanpa tamu sama sekali, pendapatan Pura Uluwatu pun terhenti. Padahal, biaya operasional mereka tiap bulan bisa sampai Rp 623 juta, termasuk untuk menggaji 116 staf dan memberi makan sekitar 1.000 ekor monyet di Pura Uluwatu. “Selain gaji staf, biaya paling banyak justru untuk makanan monyet. Bisa sampai Rp 75 juta per bulan,” katanya.

Menurut Mosin, tiap bulan mereka bisa mendapatkan pemasukan kotor hingga Rp 4 miliar hingga Rp 5 miliar. Pendapatan itu kemudian dibagi ke pemerintah, desa adat, pengelola pura, dan gaji pegawai. Di luar itu, ada pula pemain kecak, terbagi dalam dua grup, yang totalnya sebanyak 90 orang.

Dalam sebulan, pemain kecak ini bisa mendapatkan upah sampai Rp 10 juta tiap orang meskipun bukan pekerjaan utama, hanya 2 jam tiap kali pentas dua hari sekali.

“Dengan kejadian ini kita jadi down. Sebelumnya bisa dapat pemasukan sekian, sekarang nol. Ini jadi perhatian teman-teman,” kata Mosin.

Meskipun demikian, menurut Mosin, pihak pengelola objek wisata Pura Uluwatu mengaku masih bisa membiayai operasional pura dan gaji pegawai hingga enam bulan ke depan karena simpanan yang mereka miliki. “Saya berharap segera diputuskan kapan bisa dibuka lagi. Kalau sekarang kan belum ditentukan sampai kapan,” katanya.

Pukulan berat

Bahkan, sebelum adanya larangan kunjungan terhadap orang asing, jumlah turis asing di Bali sudah berkurang drastis.

Pada Maret, menurut data Kanwilkum HAM Bali berdasarkan Imigrasi, terdapat sekitar 170.000 warga asing berkunjung ke Bali. Padahal, pada tahun lalu tiap bulan ada sekitar 523.000 turis asing ke Bali.

Pada bulan yang sama tahun lalu, jumlah turis asing ke Bali mencapai hampir 450.000. Adapun total kunjungan turis asing selama 2019 sebanyak 6.275.210 orang.

“Sekarang tidak ada turis sama sekali di Bali. Ini sejalan dengan pandemi global COVID-19,” kata Putu Astawa, Kepala Dinas Pariwisata Bali.

Mati surinya pariwisata Bali itu tergambar di tempat-tempat pariwisata lain. Di Pantai Kuta, lokasi paling tersohor di Bali, nyaris tak terlihat ada kehidupan. Saat ini, pantai berpasir putih itu ditutup sama sekali. Semua pintu masuk dipasangi kayu, papan selancar, kursi, ataupun barang-barang lain dilengkapi pengumuman penutupan.

“Dampaknya sangat besar. Karena pemasukan kan dari tamu. Kalau tidak ada mereka, cari makan pun susah,” kata Heri Aditya, pemilik penyewaan sepeda motor di Pantai Kuta.

Tempat-tempat lain pun serupa, seperti Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, Nusa Penida, dan seterusnya. Di antara semua tempat tersebut, Kabupaten Badung memang paling terasa karena daerah ini merupakan lokasi pusat-pusat pariwisata berada, seperti Nusa Dua, Uluwatu, Kuta, dan Canggu.

Sebagai gambaran, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, dari 2.864 restoran di Bali, 823 di antaranya berada di Badung. Sedangkan dari 507 hotel berbintang di Bali, 386 atau sekitar 76 persen di antaranya ada di Badung. Karena itulah, Badung pun mengalami dampak paling besar.

Revenge travelling

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung Agung Rai Suryawijaya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dampak COVID-19 memang sangat terasa. Dia membandingkan pada Maret 2019, tingkat hunian hotel berkisar 65 hingga 70 persen, tetapi pada Maret tahun ini hanya sekitar 20 persen.

Dibandingkan bom Bali dan erupsi Gunung Agung pun sangat parah. “Ini kan tidak bisa diprediksi sampai kapan berakhirnya. Saya yakin akan banyak yang unpaid leave,” katanya Suryawijaya.

Kekhawatiran Suryawijaya itu sudah terjadi. Menurut data Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, hingga 5 April 2020 lalu, setidaknya 6.777 pekerja di bidang pariwisata yang sudah dirumahkan. Mereka terdiri dari 5.953 dari industri pariwisata, 381 pekerja daya tarik wisata, dan 443 dari desa wisata. Adapun jumlah yang diputus hubungan kerja sebanyak 208 orang.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung Made Badra banyak pelaku bisnis pariwisata di Bali yang saat ini sedang berada di tahap bertahan. Mereka memikirkan segala cara untuk agar bisa mempertahankan bisnisnya di tengah wabah.

Badra menambahkan pandemi COVID-19 akan mengubah pola pariwisata global. “Selepas krisis ini, saya kira empat bulan setelah kondusif akan muncul faktor lain yang menentukan minat turis untuk bepergian, seperti kondisi kesehatan di negaranya, keyakinannya pada situasi yang membaik, serta kebijakan di negara tujuan,” katanya.

“Setelah menjalani karantina di negaranya, mereka pasti ingin segera menghilangkan kepenatannya dengan revenge travelling,” lanjutnya.

Sementara itu, peneliti pariwisata dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Nyoman Sukma Arida menyatakan, terpuruknya pariwisata Bali saat ini seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi Bali.

“Dari kejadian COVID-19 kita belajar betapa rentannya membangun perekonomian hanya andalkan pariwisata. Pariwisata tak bisa diandalkan dalam segala situasi. Dia harus didukung sektor lain yang juga tumbuh kuat, terutama pertanian dan industri kecil,” kata doktor pariwisata alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Tampilan selengkapnya