Bali Segera Buka Kembali Pariwisata

Untuk wisatawan nusantara akan dibuka akhir Juli, dan untuk wisatawan manca negara pada pertengahan September 2020.
Ronna Nirmala
Jakarta
2020-07-06
Share
200706_uluwatu_inside.jpg Teater terbuka tempat pementasan tari kecak di Pura Uluwatu, Bali, yang biasanya selalu penuh saat sore hari, tampak lengang di tengah pandemi virus corona, 7 April 2020. Pariwisata Bali akan segera kembali dibuka pada akhir Juli 2020.
Anton Muhajir/BenarNews

Bali berencana membuka kembali sektor pariwisata untuk menghidupkan kembali ekonomi provinsi yang mengandalkan diri dari pariwisata yang cukup terpuruk selama pandemi COVID-19, demikian menurut pejabat setempat.

“Kita harus terus berupaya dengan sebaik-baiknya menangani COVID-19, seraya dalam waktu bersamaan kita mesti mulai melakukan aktivitas demi keberlangsungan kehidupan masyarakat,” kata Gubernur Bali I Wayan Koster, dikutip dari situs resmi Pemprov pada Senin (6/7).

Koster mengatakan akan ada tiga tahapan pembukaan aktivitas warga sebelum aktivitas sektor pariwisata Pulau Dewata tersebut kembali normal.

Dilansir dari situs resmi Pemprov Bali, tahap pertama akan dimulai pada Kamis (9/7), dengan membuka kembali kegiatan di sektor kesehatan, pemerintahan, adat dan agama, keuangan, perindustrian, logistik, transportasi, UMKM, pasar tradisional, restoran, warung, pertanian hingga konstruksi.

Tahap kedua, pintu pariwisata Bali akan dibuka untuk wisatawan dalam negeri per 31 Juli 2020. Sementara tahap ketiga, pelaksanaan aktivitas pariwisata secara luas akan dibuka, termasuk untuk wisatawan mancanegara, pada 11 September 2020.

Gugus Tugas COVID-19 mengumumkan kasus terkonfirmasi positif di Bali pada Senin (6/7) bertambah 50, sehingga totalnya menjadi 1.900 kasus, sementara total kasus secara nasional adalah 64,958. Pada hari yang sama angka kematian di Bali bertambah 3 menjadi 23 kasus, sedangkan kasus total kematian di tanah air disebabkan COVID-19 per hari tersebut adalah 3.241.

Berdasarkan peta risiko yang diterbitkan Gugus Tugas COVID-19, sebagian besar wilayah di Bali masuk dalam kategori zona risiko sedang COVID-19, dengan Denpasar, Bangli, dan Karangasem sebagai wilayah dengan kategori risiko tinggi penyebaran COVID-19.

Beberapa wilayah lain di Indonesia juga sudah mulai membuka tempat wisata domestiknya dengan tetap memberlakukan protokol kesehatan pencegahan COVID-19, seperti pembatasan jarak fisik, pemakaian masker di tempat umum dan mencuci tangan.

Berbagi beban ekonomi dengan BI

Sementara itu Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sepakat melakukan pembagian beban atau burden sharing pembiayaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam program Penyelamatan Ekonomi Nasional (PEN) akibat pandemi COVID-19, Senin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, untuk menanggulangi dampak pandemi COVID-19, pemerintah membutuhkan tambahan pembiayaan hingga Rp903,46 triliun yang berasal dari pelebaran defisit sebesar Rp1.039,2 triliun atau setara 6,34 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari kebutuhan tersebut, BI bersama Kementerian Keuangan akan bersama-sama menanggung bunga atas utang yang muncul dari kebutuhan pembiayaan yang terbagi dalam tiga kategori.

“Sekali lagi saya tekankan langkah ini diambil pemerintah dan BI akibat dari kondisi yang sangat extraordinary. Kami hati-hati dan jaga reputasi Kemenkeu dan BI sebagai penjaga fiskal yang prudent,” kata Sri Mulyani dalam telekonferensi bersama Gubernur BI Perry Warjiyo, Senin.

Meyakini risiko tertular kecil

Sementara itu survei ketahanan sosial yang dilakukan Laboratorium Nanyang Technological University (NTU) Singapura bersama Lapor COVID-19 menemukan sebanyak 77 persen warga DKI Jakarta yakin bahwa risiko mereka tertular COVID-19 sangat kecil.

Survei NTU dan Lapor Covid-19 yang dilakukan selama 29 Mei-20 Juni 2020 terhadap 206.550 responden di DKI Jakarta juga mengindikasikan bahwa warga DKI Jakarta belum siap memasuki era kenormalan baru.

Pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan tingginya kepercayaan diri masyarakat DKI Jakarta terhadap risiko penularan COVID-19 adalah bentuk penyampaian edukasi yang tidak maksimal.

“Tanpa informasi yang kuat, orang tidak akan mengerti,” kata Pandu.

“Jangan terus-terusan disebut normal. Perilaku penduduk itu cukup 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Itu sudah mengurangi risiko di tengah kondisi yang tidak normal ini,” tukasnya.

Pernyataan Kementerian Pertanian dikecam

Sementara itu pernyataan Kementerian Pertanian akan segera memproduksi kalung eucalyptus yang diklaim berpotensi menangkal virus corona dikecam para pakar kesehatan yang menilai belum ada bukti ilmiah bahwa kandungannya dapat mencegah penularan.

Anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, meminta pemerintah berhati-hati dalam menyebarkan informasi tersebut karena bisa menyesatkan masyarakat.

“Pemerintah jangan gegabah meski promosinya datang dari Kementan. Ada-ada saja, nanti masyarakat mengira kita bisa antisipasi virus pakai kalung, seperti pakai jimat jadinya,” kata Hermawan kepada BenarNews, Senin.

Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, mengatakan kalung atau produk lain berbahan dasar eucalyptus ini tidak bisa diperlakukan seperti vaksin.

“Klaim seperti antivirus seharusnya tidak dibuat karena akan menyebabkan persepsi yang salah,” kata Herawati, dalam wawancara yang ditayangkan KOMPAS TV.

Sebelumnya Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan, Fajdry Jufry mengatakan kementerian berencana memproduksi produk berbahan eucalyptus melalui tiga varian, yakni inhaler (hisap), roll on (usap), dan kalung untuk membantu pencegahan COVID-19.

Fadjry mengakui bahwa produk berbahan eucalyptus ini bukanlah antivirus, namun, produk turunannya sudah banyak digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk gangguan pernapasan.

Selain itu, hasil pengujian produk ini kepada 16 pasien positif COVID-19 didapatkan pengakuan bahwa efek yang timbul setelah penggunaan antara lain melegakan pernapasan, mengencerkan dahak, meredakan nyeri dan mual, hingga menenangkan, kata Fajdry.

“Kami tidak mengklaim kalung ini dapat berfungsi sebagai anti-COVID-19, tetapi memang memiliki potensi untuk seperti itu,” kata Fadjry seraya menambahkan, “kalaupun tidak punya khasiat untuk membunuh virus corona, anggap saja ini kita menggunakan minyak kayu putih.”

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya