Aktivis Lingkungan Menduga Alih Fungsi Hutan Sebabkan Banjir Bandang Batu Malang

Hingga saat ini enam dilaporkan tewas dan tiga warga belum ditemukan.
Eko Widianto
2021.11.05
Malang
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Aktivis Lingkungan Menduga Alih Fungsi Hutan Sebabkan Banjir Bandang Batu Malang Jenazah salah seorang korban banjir bandang diantar warga sebelum dimakamkan, di kota Batu, Malang, Jawa Timur, 5 November 2021.
Eko Widianto/Benarnews

Aktivis lingkungan menduga banjir bandang di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, pada Kamis (4/11) yang menewaskan setidaknya enam orang dan tiga orang lainnya hilang, disebabkan oleh kerusakan hutan lindung di lereng Gunung Arjuno akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan wisata buatan.

“Sekitar 90 persen tutupan hutan lindung di lereng Gunung Arjuno telah habis,” kata Rosek Nursahid, ketua ProFauna, kelompok lingkungan hidup dan konservasi setempat, kepada BenarNews, Jumat (5/11).

Hutan lindung, katanya, telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian dengan komoditas aneka sayuran seperti kol, wortel dan kentang selama bertahun-tahun.

“Saat curah hujan tinggi, tanah tergerus menutupi jalan air di Pusung Lading, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji,” ujarnya menyebut wilayah di sekitar lokasi banjir.

Selain itu, aneka pohon ukuran raksasa yang tumbang akibat kebakaran hutan dua tahun lalu turut menutup aliran sungai.

Pernyataan yang sama disampaikan manajer kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Wahyu Eka Setiawan, yang menyebut kerusakan hutan di Kota Batu telah terjadi selama 20 tahun terakhir.

Wahyu menunjukkan citra satelit yang memperlihatkan 348 hektar hutan primer di Kota Batu hilang. Data eksistensi lahan hijau pada 2012 seluas 6.034 hektar, namun pada 2019 tersisa 5.279 hektar.

Hasil analisisnya, sekitar 150 hektar kawasan hutan di hulu Sungai Brantas di wilayah itu berubah menjadi ladang pertanian, sementara ruang terbuka hijau hanya sekitar 12-15 persen.

“Alih fungsi hutan menjadi penyebab menurunnya wilayah resapan dan tangkapan air,” kata Wahyu.

Hal ini diperparah pada revisi Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Batu. Dalam Perda revisi RTRW tersebut, yang menurutnya, tidak menjelaskan perlindungan kawasan esensial dan dilakukan dengan tidak transparan.

Selain itu revisi Perda RTRW mengancam kawasan konservasi di hulu sungai Brantas, lantaran sebagian kawasan diberi peluang untuk diubah menjadi tempat wisata buatan, dan pertanian, kata Wahyu.

“Perda RTRW tidak sensitif bencana dan masa depan lingkungan hidup Kota Batu,” katanya.

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso mengklaim RTRW digunakan sebagai panduan penataan kawasan, dan justru melindungi dan mencegah bencana alam seperti banjir dan tanah longsor dengan melibatkan Perum Perhutani dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan.

“Tim bagian hukum, masih melakukan kajian,” katanya.

Sebuah escavator membersihkan bekas banjir bandang dan batang pohon raksasa teronggok di pelataran rumah warga, di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 5 November 2021. [Eko Widianto/Benarnews].
Sebuah escavator membersihkan bekas banjir bandang dan batang pohon raksasa teronggok di pelataran rumah warga, di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 5 November 2021. [Eko Widianto/Benarnews].

Kehilangan anak cucu

Selain enam korban jiwa dan tiga orang yang masih dilaporkan hilang, banjir yang menghantam pemukiman di kaki Gunung Arjuno itu setelah air meluap di Sungai Brantas menyusul hujan deras di daerah itu mengakibatkan 22 rumah rusak dan sebanyak 142 orang mengungsi, demikian laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu.

Jenazah Mahendra Feri, 27, dan anaknya Alverta Shenazia Alarvisa Vindra, 3, ditemukan terpisah 200 meter di aliran sungai sejauh lima kilometer dari rumahnya, Jumat.

“Feri saat itu momong anaknya di rumah. Tiba-tiba air bah menerjang rumah,” kata Sulaimat, 53, ayah dari Feri.

Air bercampur lumpur, kayu gelodongan dan batu menerjang rumah yang berada di tepi sungai Paron anak sungai Brantas. Lima orang berada di rumah tersebut saat itu; Sulaimat, Feri bersama istrinya Devisatul Istiqamah dan anaknya Vindra, dan anak kedua Sulaimat, Linda Ariesta.

“Rumah ambruk. Kepala saya tertimpa atap rumah,” kata Sulaimat.

Air bercampur lumpur menggenangi wajahnya selama sekitar tiga menit. Setelah surut, ia hanya melihat cahaya dan mendengar suara menantunya Istiqamah.

Perlahan-lahan ia merangkak keluar dan menggandeng Istiqamah keluar rumah. Linda Ariesta juga berhasil menyelamatkan diri. Sementara Feri dan Vindra hanyut terseret banjir. Linda dan Istiqamah masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Rumah yang dibangun sejak 1994 kini rata dengan tanah. Seluruh harta benda hasil kerja kerasnya ludes, hanyut terseret banjir. Termasuk sepeda motor dan tiga ekor sapi peliharaannya. “Harta bisa dicari, saya kehilangan anak dan cucu,” kata Sulaimat.

Dengan kepala berbalut perban, Sulaimat menyambut jenazah anak dan cucunya, yang kemudian dimakamkan di pemakaman umum setempat.

Banjir Bandang Batu 4: Warga setempat melintasi jembatan darurat dari anyaman bambu di atas sungai Paron di Desa Bulukerto, Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, setelah jembatan yang menghubungkan antar desa hanyut terseret banjir, 5 November 2021. [Eko Widianto/BenarNews].
Banjir Bandang Batu 4: Warga setempat melintasi jembatan darurat dari anyaman bambu di atas sungai Paron di Desa Bulukerto, Bumiaji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, setelah jembatan yang menghubungkan antar desa hanyut terseret banjir, 5 November 2021. [Eko Widianto/BenarNews].

Pernyataan Menteri Siti Nurbaya

Banjir bandang ini terjadi tidak lama setelah pernyataan kontroversial Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dalam twitternya minggu ini yang mengatakan “Pembangunan besar-besaran di era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi.”

Cuitan Menteri Siti ini merupakan respons atas kesepakatan Deklarasi Glasgow dalam KTT Perubahan Iklim COP26 di Skotlandia, yang memuat komitmen untuk menghentikan deforestasi bagi lebih dari seratus negara dunia yang menandatanganinya termasuk Indonesia.

Menteri Siti menegaskan alasannya dengan mencuit “Kalau konsepnya tidak ada deforestasi, berarti tidak boleh ada jalan, lalu bagaimana dengan masyarakatnya, apakah mereka harus terisolasi? Sementara negara harus benar-benar hadir di tengah rakyatnya.”

Cuitan Siti Nurbaya itu banyak menuai kecaman netizen Indonesia dan peristiwa banjir bandang ini tak ayal dikaitkan dengan pernyataan menteri tersebut.

“Pernyataan Siti Nurbaya dijawab langsung sama alam,” cuit Astu Prasidya dalam twitternya dengan melampirkan video banjir bandang menerpa “kampung warna-warni” yang menjadi salah satu ikon wisata Kota Batu.

"@SitiNurbayaLHK pembangunan tidak boleh berhenti atas nama banjir bandang akibat deforestation dan karbon ya Bu. Pokoknya Ibu & Jokowi paling top!” Cuit pemilik akun lainnya, Zaeroby.

‘Bisa membuka mata penduduk dan Pemda’

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso menjelaskan banjir terjadi setiap tahun di Kota Batu, namun tak pernah terjadi banjir bandang sebesar Kamis kemarin. Mengenai penyebab banjir, Punjul menyebut tim teknis telah melakukan kajian.

Sedangkan untuk pola pertanian di kawasan hulu Sungai Brantas, Punjul menunjuk Kementerian Pertanian untuk menata pola tanam petani setempat dan melarang pertanian di lahan yang berkemiringan lebih dari 45 derajat.

Tanaman harus menggunakan metode terasering untuk mengurangi tanah longsor, ujarnya.

Direktur Utama Perusahaan Umum Jasa Tirta 1 Raymond Valiant menjelaskan banjir bandang melewati saluran alami dan kemudian saluran bergabung ke Sungai Brantas, sehingga air yang mengangkut tanah, batu, batang pohon dan material lain mengalir dan masuk ke sungai Brantas.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi November sampai Januari 2022 intensitas hujan meningkat sekitar 20 sampai 70 persen lebih tinggi sehingga “berpotensi banjir dan tanah longsor.”

Sementara itu Rosek Nursahid, ketua ProFauna, berharap bencana banjir bandang bisa membuka mata penduduk dan Pemerintah Kota Batu untuk menghentikan alih fungsi hutan lindung menjadi lahan pertanian dan wisata.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya