Follow us

Hujan Ekstrem Picu Bencana Banjir dan Longsor di Bali

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa turut mengunjungi korban untuk memberikan bantuan logistik dan santunan.
Anton Muhajir
Bangli
2017-02-13
Email
Komentar
Share
Prosesi penguburan para korban tanah longsor di Desa Songan, Kabupaten Bangli, Bali, 13 Februari 2017.
Prosesi penguburan para korban tanah longsor di Desa Songan, Kabupaten Bangli, Bali, 13 Februari 2017.
Anton Muhajir/BeritaBenar

Kidung kematian mengalun di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Senin siang, 13 Februari 2017. Enam pria dan satu perempuan duduk melingkar, melantunkan doa-doa yang dibaca dari lontar.

Mereka berdoa di antara ribuan pelayat berpakaian adat Bali di kaki Gunung Batur, sekitar 2 jam perjalanan dari ibukota Denpasar. Di samping mereka, tujuh jenazah berbungkus kain kafan dijejerkan.

Cuaca mendung dan sesekali gerimis menyelimuti suasana duka di Songan. Desa di tepi Danau Batur, danau terluas di Bali, sedang berduka. Tujuh warganya menjadi korban tanah longsor, Jumat dini hari pekan lalu.

Sejak pekan lalu, hujan deras mengguyur. Saking derasnya, tebing-tebing sekitar desa tak mampu menahan tanah yang kemudian longsor menghancurkan rumah-rumah di bawahnya, terutama di Banjar Bantas, salah satu dusun.

Ni Luh Nistra, seorang warga Dusun Bantas, mengatakan hujan mengguyur desanya, sejak Selasa lalu. Puncaknya Kamis malam, hujan lebih deras tumpah tanpa henti.

“Suara petir juga terus terdengar sepanjang malam,” tuturnya kepada BeritaBenar.

Tengah malam, sekitar pukul 1 dini hari, dia mendengar gemuruh tanah longsor di atas tempat tinggalnya. Nistra melihat longsor menghantam rumah tetangga yang masih keluarganya, Jero Wirtana.

Dia dan suaminya lari ke rumah itu. Mereka mendengar suara minta tolong dari dalam rumah yang penuh tanah itu.

Wirtana, yang terlindung lemari, masih bisa tertolong. Tapi tidak dengan istrinya, Jero Balian Resmi maupun anak-anak mereka, Jero Balian Kadek Sriasih, dan Komang Agus Putra Santi. Ketiganya meninggal malam itu juga.

Bencana merata

Malam itu longsor tak hanya membunuh anak istri Wirtana tapi juga empat orang lain. Di areal seluas 10 hektar yang dikelilingi tebing itu tinggal 20 kepala keluarga. Total yang meninggal dunia tujuh orang dari tiga keluarga.

Pada saat yang sama longsor juga terjadi di tiga desa lain di Kintamani yaitu Awan, Sukawana, dan Subaya. Jumlah korban meninggal empat orang di Desa Awan, satu orang di Desa Sukawana dan Desa Subaya. Total ada 13 orang yang tewas.

Namun, bencana itu tidak hanya terjadi di Bangli, kabupaten paling rawan di Bali tapi juga hampir merata di berbagai kabupaten terutama daerah bagian hulu.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, hujan deras yang ekstrem memang berlangsung sejak Kamis malam hampir menyeluruh di Bali terutama di daerah hulu. Akibatnya sebanyak 760 warga harus mengungsi.

Bencana longsor terjadi hampir di semua kawasan ketinggian, seperti Seririt (Buleleng), Baturiti dan Pupuan (Tabanan), serta Tianyar (Karangasem).

Selain longsor, juga terjadi bencana banjir. Jumat dini hari itu, banjir bandang terjadi di Desa Galungan, Kecamatan Sawan, Buleleng. Akibatnya 15 rumah hancur, 27 rusak berat dan ringan. Sebanyak 200 kepala keluarga terisolir karena jalan terputus.

Hal serupa juga terjadi di desa-desa lain sekitar Songan, termasuk Dusun Alengkong di balik perbukitan Gunung Batur.

Kepala Dusun Alengkong, I Nengah Mandiasa mengatakan akibat longsor, desa mereka terisolir karena semua jalan tertutup tanah longsor.

“Situasi kami sekarang sangat rumit. Tidak bisa keluar desa termasuk untuk mencari sembako,” katanya melalui sambungan telepon.

Mandiasa berharap bisa segera mendapatkan bantuan, terutama makanan.

Semua lokasi itu berada di ketinggian di atas 500 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan lebih dari 30 derajat.

“Dari semua tempat itu, Bangli memang daerah paling rawan,” kata Gede Sudiartha, Ketua Forum Pengurangan Bencana Bali.

Gede yang juga Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) menjadi Koordinator Posko Bencana di Songan.

Menurutnya, banyaknya longsor karena tiga faktor. Pertama karena derasnya curah hujan. Menurut catatan BPBD Bali, hujan ekstrem Kamis malam mencapai intensitas 145 mm per hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geosisika (BMKG) mendefinisikan hujan sedang 20-50 mm perhari, hujan lebat 50-100 mm perhari, dan di atas 100 mm perhari sebagai hujan sangat lebat.

Kedua, struktur tanah yang umumnya berupa tanah vulkanik dan berpasir. Kintamani memang berada di daerah vulkanik Gunung Batur yang hingga masih tercatat sebagai gunung berapi aktif.

Ketiga, tingkat kemiringan perbukitan yang mengelilingi Gunung Batur namun menjadi tempat tinggal sebagian warga. Kepala Desa Songan I Ketut Artawan mengakui banyak warga desanya yang tinggal di daerah rawan bencana.

“Meskipun sudah diberi peringatan, mereka tetap tidak mau pindah karena leluhurnya sudah tinggal di sana sejak ratusan tahun lalu,” ujarnya.

Menurut Artawan, hal yang diperlukan untuk mencegah bencana dengan membangun jalan di atas pemukiman agar lebih kuat dan tidak longsor.

Bantuan

Hingga Senin siang, bantuan untuk korban longsor di Kintamani terus mengalir. BPBD Bali bersama PMI Bali, Dinas Sosial, dan TNI terus mengirimkan bantuan ke desa-desa terisolir di kaki Gunung Batur.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa ikut mengunjungi korban untuk memberikan bantuan logistik dan santunan. Dia juga mengunjungi lokasi longsor di Dusun Bantas.

"Mari jadikan musibah ini sebagai peringatan dini bagi kita semua untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi bencana," katanya.

Tampilan selengkapnya