Follow us

Bom Bunuh Diri dan Ideologi Kematian Mengajak Seluruh Keluarga

Analis menegaskan anak-anak yang diindoktrinasi oleh orangtuanya untuk melakukan bom bunuh diri adalah korban.
Kusumasari Ayuningtyas & Tria Dianti
Yogyakarta & Jakarta
2018-05-16
Email
Komentar
Share
Ratusan warga lintas agama berkumpul dalam aksi solidaritas melawan terorisme di Jakarta, 15 Mei 2018.
Ratusan warga lintas agama berkumpul dalam aksi solidaritas melawan terorisme di Jakarta, 15 Mei 2018.
AFP

Bom bunuh diri yang melibatkan keseluruhan anggota keluarga di Indonesia minggu ini mungkin adalah yang pertama kalinya di dunia dan bisa jadi merupakan perwujudan dari kekuatan indoktrinasi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) namun juga simbol semakin lemahnya organisasi ekstrim tersebut, demikian analis.

Empat anak berusia antara 9 hingga 18 tahun tewas dengan kedua orangtua mereka dalam aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya hari Minggu lalu.

Pada malam harinya sebuat bom rakitan meledak di sebuah rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur, menewaskan suami istri dan salah seorang dari keempat anak mereka.

Keesokan harinya, satu keluarga yang terdiri dari suami istri dan ketiga anak mereka mengendarai dua sepeda motor menekan tombol bom bunuh diri di gerbang Markas Polrestabes Surabaya, menewaskan keempat anggota keluarga, kecuali seorang anak perempuan mereka yang berusia 8 tahun.

“Mungkin ini pertama kalinya di dunia, orang tua mengajak anaknya untuk meledakkan diri. Serangan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Sidney Jones, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang berbasis di Jakarta, kepada BeritaBenar.

Bahkan ketika Jamaah Islamiyah (JI), jaringan teroris Alqaeda di Asia Tenggara pelaku Bom Bali pada tahun 2002, “keluarga ikut serta, tetapi hanya laki-laki dewasa yang boleh menjadi ksatria,” ujarnya.

Namun di tangan ISIS, konsep “jihad” diubah menjadi urusan keluarga.

“Khalifah dengan sengaja mendorong seluruh keluarga untuk bermigrasi - berhijrah - ke Suriah agar ayah bisa bertempur, wanita dapat mereproduksi, mengajar atau mengobati yang terluka, dan anak-anak dapat tumbuh sepenuhnya di ‘Negara Islam’,” ungkap Sidney, sehingga ISIS berharap bisa mengklaim sistem sebuah negara telah berjalan

Ia menyontohkan bagaimana narapidana terorisme, Saeful Anam alias Brekele, mengizinkan putranya yang berusia 12 tahun, Hatf (Saiful Rasul), pergi ke Suriah bersama kerabatnya pada Agustus 2016. Hatf tewas dalam pertempuran dengan ISIS dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-13.

Thayyep Malik, peneliti dari Yayasan Prasasti Perdamaian setuju bahwa jihad dengan kekerasan tidak hanya untuk kaum laki-laki tapi juga untuk “perempuan dan anak-anak.”

“Terkait orang tua yang tega mengajak anaknya melakukan pengeboman, itu kaitannya dengan ideologi, ideologi kematian. Meskipun itu pasti tidak mudah tentunya karena mereka masih manusia juga sebenarnya.”

Stanislaus Riyanta, seorang pengamat intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia melihat bahwa indoktrinasi ISIS sedemikian kuatnya sehingga mereka “terpancing sedikit saja akan melakukan tindakan balas dendam bahkan rela mati supaya bisa masuk surga.”

“Namun anak di sini adalah korban. Mereka tidak mengerti apa-apa, biasanya hanya terdoktrin ideologi orang tua. Ini sangat bahaya!” paparnya.

Sofyan Tsauri, mantan napi teroris yang menyuplai senjata untuk Dulmatin -teroris Bom Bali, dan sebelumnya pernah menjadi polisi, mengatakan orang tua yang melibatkan anaknya dalam aksi terorisme terobsesi kajian mesianistik, kajian akhir zaman.

“Mereka hanyut dalam ilusi, halusinasi, bahwa dunia ini fitnah. Mereka sering kali berkata ‘mari kita ke surga, bersama-sama, tidak ada rasa sakit,’”katanya.

Tapi penggunaan perempuan dan anak dalam bom bunuh diri juga memiliki pesan terselubung.

“Pesannya itu, kami telah berkorban bersama istri dan anak-anak kami, di mana kalian? Di mana para ksatrianya?” katat Sofyan, “tentu saja, tujuannya untuk membangun sugesti, membangkitkan kecemburuan kepada para kaum laki-laki Ansharut Daulah, ISIS.”

Sementara itu Yenni Wahid, Direktur Wahid Foundation, mengatakan bahwa perempuan yang tidak merdeka akan lebih mudah untuk diradikalisasi, seperti istri Dita Apriyanto, pelaku pengeboman di gereja-gereja di Surabaya.

“Dia mengikuti instruksi suaminya. Dia menuruti suaminya,” kata Yenny, “semakin banyak wanita independen membuat keputusan maka semakin baik dia sebagai penghalang untuk melindungi dirinya sendiri!”

Menurut Nava Nuraniyah, seorang analis IPAC, penggunaan perempuan dan anak memiliki manfaat strategis bagi ISIS.

Karena bias gender, polisi menganggap perempuan tidak seberbahaya laki-laki dalam melakukan aksi terorisme, ungkapnya.

“Kalau security check ke rutan [rumah tahanan], bagi wanita dan anak pemeriksaan hanya dua kali, sementara laki-laki lebih. Ini karena perempuan dianggap tidak berbahaya, dianggap tidak melakukan kekerasan apalagi kalau membawa anak.”

Ia juga menyoroti bagaimana ISIS “menjual” negara khilafah untuk menarik keluarga, jadi bukan hanya membutuhkan tentara tapi juga guru, tukang masak profesional, dan lainnya, sehingga orang-orang Indonesia yang ke Suriah pergi bersama keluarga mereka.

“Masalahnya dari situ kan nggak semua bisa ke Suriah ada yang stuck di sini sementara semangat untuk berjihad seluruh keluarga itu sudah sangat besar menancap,” kata Nava, “normal saja saat ada perintah oleh ISIS untuk lakukan penyerangan ke lokasi dimanapun, otomatis karena sudah bercita-cita berhijrah seluruh keluarga kemudian solusinya melakukan proxy seluruh keluarga. Hijrah langsung ke alam kubur!”

Namun Nava juga mengatakan penggunaan perempuan dan anak adalah gambaran semakin tidak berdayanya ISIS.

“Mungkin karena posisi organisasi mereka lemah sehingga kemudian memerintahkan perempuan sebagai pelaku,” pungkasnya.

Tampilan selengkapnya