Follow us

Sepekan Pasca Bom Medan, Polri Tahan 60 Lebih Terduga Militan

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan sudah menutup sejumlah aliran dana yang diduga untuk terorisme.
Rina Chadijah
Jakarta
2019-11-19
Email
Komentar
Share
Polisi berjaga di depan gerbang Polrestabes Medan, Sumatra Utara, pasca bom bunuh diri yang menewaskan pelaku dan melukai 6 orang lainnya, 13 November 2019.
Polisi berjaga di depan gerbang Polrestabes Medan, Sumatra Utara, pasca bom bunuh diri yang menewaskan pelaku dan melukai 6 orang lainnya, 13 November 2019.
AP

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus melakukan upaya pencegahan dengan menangkap 68 terduga militan dalam sepekan terakhir menyusul aksi bom bunuh diri di Medan, Sumatra Utara (Sumut), dan sekaligus bagian dari pengamanan menjelang Natal dan Tahun Baru 2020.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Muhammad Iqbal mengatakan, langkah penindakan dengan menangkap puluhan terduga teroris di sejumlah daerah sebagai pencegahan serangan teror menjelang akhir tahun yang direncanakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Jadi ini update penangkapan menjelang Natal dan Tahun Baru. Ini komitmen kami dalam rangka menghadapinya. Istilahnya ini preventive strike," kata Iqbal kepada wartawan, di Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 19 November 2019.

Menurutnya, mereka yang telah ditahan terbanyak berada di Medan, yaitu berjumlah 27 orang dan diyakini memiliki keterlibatan langsung dengan aksi bom bunuh diri yang dilakukan Rabbial Muslim Nasution (24) di Mapolrestabes Medan, Rabu pekan lalu.

Di luar jumlah tersebut, dua terduga militan – NP dan K – ditembak mati karena berupaya menyerang petugas saat hendak ditangkap Densus 88 di Kabupaten Deli Serdang, Sabtu lalu.

Iqbal menambahkan dua dari empat orang yang sebelumnya ditangkap di Aceh, karena diduga terkait kasus bom bunuh diri di Medan, telah dibebaskan.

“Dua dipulangkan karena tak terbukti. Jadinya hanya dua orang (yang ditahan),” katanya.

Selain itu, Densus 88 juga menciduk puluhan terduga teroris di sejumlah daerah dengan rincian Jabodetabek sebanyak tiga orang, Banten lima orang, Jawa Tengah 11 orang, Riau lima orang, Jawa Barat 11 orang, Kalimantan satu orang, Jawa Timur dua orang,  dan Sulawesi Selatan satu orang dalam sepekan terakhir.

“Pascakejadian Medan sudah kami tangkap 71 orang, lanjut penyidikan 68 orang. Meninggal tiga orang, satu pembom bunuh diri dan dua mengancam nyawa petugas karena melawan,” ujar Iqbal.

Ia tak merinci lebih detil keterlibatan mereka dalam aksi teror, tapi berjanji akan membeberkan peran para terduga teroris itu dalam ekspose gelar perkara dalam waktu dekat.

Deportan dari Turki?

Sementara itu, terduga teroris berinisial AMD (35) diciduk ketika sedang berbelanja dengan istri dan anaknya di Kelurahan Pagak, Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin.

AMD yang baru tiga bulan tinggal di Kelurahan Kersikan, Kecamantan Bangil, Pasuruan, sehari-hari diketahui sebagai penjual onderdil sepeda motor dan akrab bergaul dengan warga sekitar.

Meski memegang KTP Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, Pasuruan, AMD sudah tak tinggal di desa itu sejak 2018.

Lurah Gempeng, Arfian Fachrudin mengatakan berdasarkan informasi dari warga bahwa ADM pernah pergi ke Suriah, tapi hanya sampai di Turki, yang kemudian dideportasi ke tanah air.

"Dia pernah mau dikirim ke Suriah, tapi sampai di Turki dikembalikan," kata Arfian, seperti dilansir Detik.com.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes. Frans Barung Manggera membenarkan penangkapan terduga teroris itu, tapi menolak mengomentari lebih jauh peran dan keterlibatan ADM dalam kasus terorisme.

“Silahkan ditanyakan ke Densus. Itu wilayahnya mereka,” katanya saat dihubungi BeritaBenar.

Patut diwaspadai

Pengamat terorisme Universitas Malikussaleh Lhokseumawe di Aceh, Al Chaidar, mengatakan JAD secara struktur memang telah lemah dengan banyaknya aksi penangkapan para pimpinan mereka.

“Namun sel-sel lapis ketiga dan keempat yang namanya tidak dikenal muncul memimpin dan menggantikan mereka yang ditangkap,” ujarnya saat dihubungi.

“Beberapa nama yang ditangkap disebut juga pernah ke Suriah. Saya kira harus terus diawasi mereka,” ujar Al Chaidar, menambahkan.

“Sasarannya juga masih polisi karena selama ini polisi dianggap thoghut atau musuh karena telah banyak menangkap dan menewaskan teman-teman mereka,” ujar pengamat terorisme Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak.

Dana teroris

Sementara itu, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kiagus Ahmad Badaruddin menyebut pihaknya sudah menutup sejumlah aliran dana yang diduga akan dipakai untuk kegiatan terorisme.

"Yang dimatikan sudah banyak, tapi dia kan nggak mungkin mencantumkan nama (misalnya dari) JAD dengan jelas. Jadi kadang-kadang ada yang sudah dimatikan tapi kemudian ada yang hidup lagi," katanya kepada wartawan.

PPATK, tambahnya, menemukan berbagai modus aliran dana jaringan teroris seperti bersumber dari luar negeri, dibagikan di luar negeri, baru dibawa ke Indonesia.

"Teroris sekarang bahkan tidak hanya menerima dari dalam negeri, tapi juga di luar negeri nanti baru dibagikan dari sana atau dibawa, banyak teknisnya," ujarnya seraya menyebut pihaknya akan terus mendeteksi aliran dana mencurigakan.

Tampilan selengkapnya