Follow us

Melestarikan Budaya Betawi di Tengah Gemerlap Jakarta

Ahli sejarah berharap festival seperti ini bisa rutin digelar untuk kelestarian budaya penduduk asli ibukota.
Zahara Tiba
Jakarta
2017-07-31
Email
Komentar
Share
Seorang warga membuat dodol Betawi ketika berlangsung Festival Condet di Jakarta Timur, 29 Juli 2017.
Seorang warga membuat dodol Betawi ketika berlangsung Festival Condet di Jakarta Timur, 29 Juli 2017.
Afriadi Hikmal/BeritaBenar

Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak tampak ragu-ragu mendekati kios emping melinjo seluas 3x2 meter persegi di kawasan Condet, Kramatjati, Jakarta Timur, Minggu sore, 29 Juli 2017.

“Mpok, ini emping Bang Ucup, ya?” tanya si ibu.

“Iya, mau beli berapa kilo?” ujar Yusni, sang penjual.

Emping Bang Ucup atau Pak Yusuf memang terkenal di kalangan para pelanggannya hampir dua dekade sejak sang empunya mulai berdagang.

Yusni, yang tak lain adalah putri Yusuf, mengatakan empingnya merupakan salah satu ciri khas Condet, yang merupakan kawasan cagar budaya Betawi, sejak 1976.

Banyak pelanggannya memesan emping buatan keluarganya untuk dikirim ke luar negeri.

“Kebanyakan TKW (Tenaga Kerja Wanita). Mungkin buat melepas rindu kampung halaman,” ujar Yusni kepada BeritaBenar di tengah kesibukannya melayani pembeli.

Yusni mengaku, emping mereka masih asli dibuat dari buah melinjo, tanpa campuran tepung seperti yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional.

Hanya saja kendala yang kini dirasakan keluarganya adalah biaya bahan baku melonjak, karena kurangnya pasokan.

“Dulu bahan baku berlimpah, karena tanah-tanah belum jadi perumahan,” katanya.

Beruntung, masih ada pemilik tanah yang rela menjaga lahannya untuk ditanami pohon melinjo demi menjaga pasokan buah melinjo.

“Jadi ada kerjasama antara pemilik lahan dengan penjual emping,” ujarnya.

Emping melinjo Pak Yusuf adalah salah satu produk khas Condet yang masih eksis di tengah gemerlap dan modernisasi ibukota Jakarta.

Produk ini adalah salah satu yang banyak dicari warga saat acara Festival Condet yang digelar di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, pada 29-30 Juli 2017.

Ribuan pengunjung hadir untuk menikmati penganan dan minuman khas Betawi yang sebagian besar sudah sulit ditemui, seperti dodol Betawi, asinan Betawi, wajik Betawi, kerak telor, kue kering kembang goyang, dan bir pletok.

Yusni bersyukur Festival Condet kedua tahun ini digelar makin meriah. Pada tahun sebelumnya, festival hanya digelar sepanjang 300 meter dari Jalan Buluh saja. Sementara tahun ini menjadi 2,5 kilometer.

“Pengunjung banyak tahu kios emping saya. Penjualan juga meningkat dari tahun lalu,” ujarnya, tanpa bersedia menyebut omzet yang diraih selama dua hari festival.

Ajang pelestari budaya

Ketua Panitia Festival Condet, Fandi Maulana, mengatakan tujuan utama gelaran festival untuk melestarikan budaya Betawi yang makin terlupakan, khususnya makanan, dan sekaligus ajang silaturahim antarwarga.

“Banyak kuliner Betawi yang sudah nggak ada. Padahal itu ciri khas budaya Betawi. Kita minta waktu dua hari ke Pemda untuk menggelar acara ini,” kata Fandi ketika ditemui BeritaBenar.

“Kebanyakan warga di sini sekarang pendatang. Ini ajang untuk silaturahim juga.”

Tak hanya kuliner, festival juga memperkenalkan budaya Betawi lain, seperti pencak silat dan batu akik pandan.

“Batu akik pandan ini ciri khas orang Betawi. Coraknya beda dengan batu akik lain,” tutur Fandi seraya menunjukkan ulir-ulir bersisik di cincin batu akik miliknya.

Lewat ajang budaya ini, Fandi berharap masyarakat mampu melestarikan kebudayaan Betawi, sehingga unsur-unsur negatif yang berpotensi merusak kehidupan masyarakat bisa ditepis.

“Lewat silat, shalat, dan silaturahim, saya rasa hal-hal negatif bisa dihindari,” ucapnya.

Tak hanya di Condet, acara serupa juga digelar di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada 28-30 Juli 2017.

Acara yang digelar sejak tahun 2008 ini juga diharapkan dapat melestarikan budaya Betawi di tengah gemerlap Jakarta dan “gempuran” berbagai budaya dari luar.

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana menyempatkan diri hadir dalam penutupan acara ini, Minggu, 30 Juli 2017.

"Merawat kearifan lokal itu penting. Peradaban dari negara lain sangat mendesak kita," kata Jokowi seperti dikutip dari laman Tempo.co.

170731_ID_Insert_betawi.jpg

Pak Yusuf berada di kios emping melinjo miliknya di kawasan Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, 29 Juli 2019. (Afriadi Hikmal/BeritaBenar)

Disambut baik

Kedua acara ini pun disambut baik warga ibukota dan juga anggota parlemen. Anggota DPRD DKI Jakarta, Steven Setiabudi Musa, mengatakan kedua festival tersebut harus menjadi kalender kegiatan Pemerintah Provinsi DKI.

“Ini menandakan Pemprov DKI telah memberikan tempat yang terhormat bagi warga Betawi,” ujarnya kepada BeritaBenar.

Ahli sejarah Jakarta, Alwi Shahab. mengatakan kegiatan-kegiatan seperti ini harus rutin digelar untuk melestarikan budaya masyarakat Betawi yang terkesan seperti terpinggirkan, mulai dari kuliner hingga adat istiadat.

“Budaya Betawi merupakan budaya paling lama di Jakarta, sejak Indonesia masih dijajah oleh Belanda,” ujar sosok yang akrab dipanggil Abah Alwi ini kepada BeritaBenar.

“Meskipun ada budaya modern, tetapi masih tetap disenangi masyarakat luas sampai sekarang. Warga begitu hebatnya menyambut festival ini.”

Festival seperti ini, lanjut Alwi, menunjukkan warga Jakarta tidak menjauhi budaya Betawi yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

“Betawi adalah budaya yang paling banyak mendapat sorotan, karena bergerak di masyarakat. Sebagian besar penduduknya masih di akar rumput. Ini harus kita hormati. Mudah-mudahan budaya Betawi bergerak terus sehingga tidak hilang karena pengaruh budaya-budaya luar,” pungkas Alwi.

Tampilan selengkapnya