Tokoh Muslim pembaharu Indonesia Ahmad Syafii Maarif meninggal pada usia 86 tahun

Buya Syafii dikenal sebagai tokoh yang memajukan keberagaman, toleransi beragama, dan banyak dipuji karena kesederhaannya.
Dandy Koswaraputra
2022.05.27
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Tokoh Muslim pembaharu Indonesia Ahmad Syafii Maarif meninggal pada usia 86 tahun Ahmad Syafii Maarif
[Akun instagram Maarif Institute @maarifinstitute]

Ahmad Syafii Maarif, cendekiawan Muslim sekaligus tokoh pembaharu Islam di Indonesia meninggal dunia, Jumat (27/5), pada usia 86 tahun setelah dirawat sejak Sabtu pekan lalu di Rumah Sakit Muhammadiyah Gamping di Yogyakarta.

Mantan pemimpin Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di dunia dengan jumlah anggota sekitar 60 juta, meninggal pada pukul 10.15 WIB akibat sakit, kata Abd. Rohim Ghazali, direktur eksekutif Maarif Institute, lembaga yang didirikah oleh ikon intelektual Islam itu.

Buya Syafii – panggilan akrab Ahmad Syafii Maarif – merupakan sosok cendekiawan, guru bangsa, dan mantan ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah pada era reformasi 1998 hingga 2005, kata Abd. Rohim.

“Selama hidupnya, Buya Syafii memang dikenal sebagai sebuah pribadi sederhana yang jiwanya selalu gelisah,” kata Abd. Rohim dalam keterangan tertulis, menambahkan bahwa Guru Bangsa ini pernah menegaskan bahwa “Indonesia harus tetap bertahan satu hari sebelum kiamat.”

Presiden Joko “Jokowi” Widodo menyebut Syafii Maarif sebagai tokoh pejuang keberagaman usai bertakziah dan menyampaikan belasungkawa di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta.

“Beliau adalah kader terbaik Muhammadiyah yang selalu menyuarakan tentang keberagaman dan selalu menyuarakan tentang toleransi umat beragama dan Beliau juga selalu menyampaikan pentingnya Pancasila bagi perekat bangsa,” ucap Jokowi saat menyampaikan sambutan dalam prosesi penghormatan terakhir.

Buya memang dikenal sebagai tokoh Islam moderat yang tiada lelah menebarkan toleransi dalam kebhinekaan Indonesia.

“Islam yang damai, Islam yang konstruktif, dan Islam yang mengayomi bangsa ini dengan tanpa membeda-bedakan suku, agama dan lain-lain. Itu Islam yang benar, keislaman harus satu nafas dengan ke-Indonesiaan dan kemanusiaan,” demikian salah satu pernyataan tokoh yang selepas memimpin Muhammadiyah ini, aktif dalam komunitas Maarif Institute.

Para pemuka agama lain, termasuk Katolik dan Protestan, juga menyampaikan duka cita atas wafatnya Syafii.

"Atas nama pribadi Bapak Kardinal Ignatius Suharyo dan umat Katolik KAJ, kami mengucapkan turut berduka mendalam atas kepergian Bapak Bangsa Buya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif kepada keluarga Buya Syafii Maarif dan keluarga besar Pimpinan Pusat Muhammadiyah," kata Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Romo Adi Prasojo.

"Semoga Beliau husnul khatimah diterima amal ibadah dan diampuni kesalahannya. Selamat jalan Bapak Bangsa Buya terkasih," kata Adi.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom mengenang Syafii sebagai tokoh yang rendah hati dan mau bergaul dengan orang dari semua kalangan.

"Ke mana pun kami undang, Beliau selalu naik kereta api. Tidak butuh dijemput," kenang Gomar, seperti dikutip jpnn.com.

"Beliau selalu mengatakan ‘saya bisa berjalan sendiri tanpa harus dijemput’," kata Gomar, yang juga mengaku Syafii sering diundang ke acara PGI.

Syafii, yang lahir di Sumatra Barat pada 31 Mei, 1935, meraih penghargaan hak asasi manusia Ramon Magsaysay pada tahun 2008 atas kontribusinya pada upaya memajukan pluralisme. 

“Syafii mengingatkan umat Islam bahwa Islam mengajarkan kesetaraan semua orang, memimpin dialog antar agama, dan mengingatkan akan bahaya provokator yang menyebar ketakutan dan kebencian,” demikian pernyataan Ramon Magsaysay Foundation yang berbasis di Manila, Filipina.

Buya Syafii dikenal berani menyampaikan kritik secara objektif dan lugas tanpa menutup-nutupi sesuatu jika hal itu memang dinilai tidak baik.

"Jika benteng pertahanan Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama) sampai bobol dimasuki oleh teologi kebenaran tunggal (Wahabisme) ini, maka Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar di muka bumi akan berubah menjadi ladang pertumpahan darah, dan di ujungnya negeri ini akan masuk museum sejarah karena eksistensinya telah dibinasakan oleh anak-anaknya sendiri yang tergiur oleh 'misguided Arabism' (Arabisme yang kesasar jalan) dalam bentuk radikalisme dan terorisme,” demikian Buya Syafii dalam sebuah kesempatan.

Syafii merupakan anak dari kepala suku dan saudagar bernama Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, sementara ibunya, Fathiyah, wafat ketika dirinya baru berusia 18 bulan.

Setelah usai menamatkan pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Balai Tangah, Lintau di Sumatra Barat, Syafii yang saat itu berusia 19 tahun merantau ke Yogyakarta dan kemudian melanjutkan pendidikan ke Madrasah Muallimin di kota tersebut sampai tahun 1956.

Menginjak usia 21 tahun, Syafii berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru di sebuah kampung bernama Pohgading sampai tahun 1957.

Syafii melanjutkan pendidikan sarjana muda di Universitas Cokroaminoto dan menyelesaikan gelar sarjananya di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP Universitas Negeri Yogyakarta, sebelum kemudian meraih gelar master dari Universitas Ohio di Amerika Serikat dan gelar doktornya diraih dari Universitas Chicago.

Syafii menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah selama tujuh tahun dan juga pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Hingga akhir hayatnya tokoh nasional Buya Syafii aktif menuliskan pemikiran-pemikirannya di berbagai media.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.