Cina-Indonesia Sepakati Pembangunan Pelabuhan Ikan Nasional

Kedua negara pertegas lima poin kesepakatan termasuk vaksin dan 'Belt Road Initiative'.
Ronna Nirmala
Jakarta
2021-06-07
Share
Cina-Indonesia Sepakati Pembangunan Pelabuhan Ikan Nasional Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bersama dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi dalam pertemuan mereka di Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, Cina, 5 Juni 2021.
Kemenkomarves

Dukungan Beijing dalam sektor kemaritiman melalui pembangunan pusat penyimpanan ikan nasional menjadi salah satu dari lima konsensus kesepakatan Indonesia-Cina dalam pertemuan perwakilan kedua negara baru-baru ini, demikian kata pejabat di Jakarta pada Senin (7/6).

Dua hari sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersama dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menandatangani sejumlah kesepakatan dengan pejabat Cina terkait yang sekaligus menandakan pembentukan High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) di Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, Cina.

Terkait kerja sama di sektor perikanan tersebut, Erick Thohir mengatakan pusat penyimpanan ikan itu bakal berada di wilayah timur Indonesia dengan didukung sejumlah perusahaan pelat merah nasional lainnya. 

“Sebagai misi untuk mempertegas kedaulatan maritim dan perikanan, Indonesia akan membangun pelabuhan perikanan di Ambon sebagai bagian untuk menyukseskan program lumbung ikan nasional,” kata Erick dalam pernyataan tertulis yang diterima BenarNews, Senin. 

Sementara pihak Cina mengatakan kerja sama ini bakal memberikan manfaat lebih bagi nelayan kedua negara melalui peluang strategis “berkualitas tinggi”.

“Kedua belah pihak juga sepakat melakukan kerja sama pengembangan rumput laut ekologis dan proyek percontohan untuk desalinasi air laut,” demikian ditulis dalam situs Kementerian Luar Negeri Cina.   

Empat poin lainnya yang disepakati dalam pertemuan bilateral tersebut adalah dukungan pembangunan infrastruktur dalam koridor Belt and Road Initiative (BRI), kerjasama pengadaan vaksin, pertukaran budaya dan “mengkonsolidasikan solidaritas strategis untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama”.

“Saya percaya kita dapat terus memperkuat hubungan yang saling menguntungkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua negara, baik di masa kini maupun di masa mendatang,” kata Luhut dalam keterangan tertulis, Senin. 

Kereta cepat

Dari sektor infrastruktur, Cina berkomitmen untuk menuntaskan proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung sesuai dengan jadwal yakni pada akhir 2022. 

“Kedua belah pihak akan lebih menyelaraskan BRI dan visi Poros Maritim Global untuk memastikan penyelesaian kereta api cepat Jakarta-Bandung sesuai jadwal dan menetapkan tolok ukur untuk proyek tahap pertama yang dibangun bersama oleh kedua negara di bawah BRI,” sebut pemerinta Cina dalam  situs Kementerian Luar Negerinya.   

Nafasya Ramadini Maura, juru bicara Kemenkomarves, mengatakan kedua pihak belum mendetailkan proyek-proyek lain yang akan dikerjakan Indonesia-Cina maupun nilai investasinya.

“Belum ditentukan tetapi akan berhubungan dengan Proyek Strategis Nasional maupun program prioritas Indonesia. Area kerja sama juga dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan di masa mendatang berdasarkan kesepakatan antara kedua negara,” kata Nafasya kepada BenarNews. 

Koridor lebih jelas

Pengamat kemaritiman dari The National Maritime Institute (Namarin) - lembaga think-tank independen, Siswanto Rusdi, mengatakan komitmen kerja sama penguatan kemaritiman dengan Cina ini bakal menguntungkan Indonesia yang selama ini terkendala banyak hal dalam pengembangan sektor ini. 

“Cina sudah jelas memiliki keahlian di bidang ini, selain itu mereka juga punya dana untuk investasi. Di kita, dua hal itu kan jadi masalah,” kata Rusdi melalui sambungan telepon. 

Melalui kerja sama pembangunan pusat pengelolaan ikan, Rusdi mengatakan nelayan Indonesia bakal memiliki peluang untuk mengembangkan kapasitasnya yang turut berimplikasi pada perekonomian. 

Rusdi menambahkan, kerja sama ini turut memperjelas koridor “penangkapan” ikan oleh kapal Cina. 

“Ini akan membuka kesempatan untuk berunding antara Cina dan Indonesia di bidang penangkapan ikan yg selama ini sepertinya haram dibicarakan karena nasionalisme kita begitu sempitnya,” ujar Rusdi. 

Kerja sama vaksin

Selain komitmen di kemaritiman dan pembangunan, Cina kembali menyatakan dukungannya untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi vaksin COVID-19 di kawasan. 

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dalam keterangan pers dari Cina, Senin, mengatakan dalam pertemuannya dengan Menlu Cina Wang Yi, Indonesia meminta Beijing untuk segera mengirimkan tim agar dapat membahas secara detail perihal kerja sama tersebut. 

“Cina perlu menugaskan tim agar dapat membahas secara detail kerja sama kesehatan seperti yang dibahas saat kunjungan Menteri Luar Negeri Wang Yi ke Indonesia. Indonesia juga menyampaikan kesiapannya dalam menjadi hub bagi produksi vaksin di kawasan,” kata Retno. 

Selain memperdalam kerja sama pengembangan vaksin, Cina dan Indonesia juga bersama-sama menentang adanya nasionalisme vaksin yang menimbulkan kesenjangan bagi negara-negara berkembang dan mendukung adanya distribusi yang adil dan wajar di seluruh dunia. 

Intensif

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kedatangan Luhut dan Erick ke Cina untuk yang kedua kalinya pada tahun ini tidak bisa dipisahkan oleh ketergantungan kepentingan antara masing-masing pihak, lanjutnya. 

“Indonesia punya kebutuhan. Tapi secara politik, Cina juga punya kepentingan misalnya dalam hal BRI dan geopolitik. Cina juga sekarang sedang bertransisi untuk mengambil peran yang lebih besar dalam perekonomian global dari Amerika Serikat,” katanya. 

Investasi Cina di Indonesia tercatat meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sebut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sepanjang kuartal I/2021, realisasi investasi Cina berada di posisi kedua dengan nilai U.S.$1 miliar atau naik 13,6 persen dari periode sama pada tahun sebelumnya. 

Posisi pertama investor terbesar Indonesia masih diduduki Singapura dengan nilai U.S.$2,6 miliar. 

Tria Dianti di Jakarta turut berkontribusi dalam artikel ini.

 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya