Cina Akan Investasi 71 Triliun Rupiah untuk Pabrik Baterai di Indonesia

Miliki cadangan nikel terbesar, Indonesia ingin menjadi produsen baterai litium dunia.
Ronna Nirmala
Jakarta
2020-12-15
Share
Cina Akan Investasi 71 Triliun Rupiah untuk Pabrik Baterai di Indonesia Seorang pekerja melakukan proses peleburan nikel di sebuah pabrik smelter di Soroako, Sulawesi Selatan, 30 Maret 2019.
AFP

Perusahaan produsen baterai asal Cina sudah menandatangani komitmen pembangunan pabrik baterai litium di Indonesia dengan nilai investasi sebesar $5 miliar yang akan dimulai pada 2021, demikian pejabat di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Selasa (15/12). 

Komitmen dengan nilai setara hampir 71 triliun rupiah itu diteken China Contemporary Amperex Technology (CATL) bersama PT Aneka Tambang (Antam) dengan kesepakatan bahwa 60 persen nikel yang dihasilkan harus diproduksi menjadi baterai terlebih dahulu sebelum diekspor, sebut Wakil Menteri Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Septian Hario Seto. 

“Ini adalah permintaan kita. Kita juga tidak mau, jangan sampai mereka dapat nikel dari kita tapi proses baterainya di luar negeri. Saya pikir teman-teman BUMN, Antam, sudah membuat negosiasi yang bagus dengan CATL,” kata Seto dalam diskusi virtual bertajuk Indonesia Mining Outlook 2021

Jika lancar, maka produksi baterai CATL dan Antam bisa dimulai pada 2024. Bukan hanya membangun pabrik, Seto juga mengatakan CATL berjanji akan mengajak sejumlah perusahaan produsen mobil listrik Cina untuk ikut membangun pabriknya di Indonesia. 

“Beberapa waktu lalu saya juga bertemu mereka di Yunan, mereka juga berkomitmen membawa pabrikan-pabrikan mobil listriknya ke sini,” kata Seto. 

Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang mencapai 21 juta metrik ton.

Pada 2019, industri nikel mengalami oversupply dengan produksi mencapai 52,76 juta ton-- naik 138 persen dari tahun sebelumnya--akibat pemberlakuan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019 yang melarang ekspor nikel dalam bentuk mentah.

Pemerintah saat ini juga tengah melakukan finalisasi negosiasi dengan perusahaan produsen baterai asal Korea Selatan, LG Chemical (LG Chem), lanjut Seto. 

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebelumnya mengatakan pemerintah mengincar nilai investasi mencapai 9,8 miliar dolar AS (setara Rp140,7 triliun) pada LG Chem melalui pembangunan industri baterai kendaraan listrik terintegrasi smelter yang diperkirakan bisa menyerap hingga 14.000 pekerja di Indonesia. 

Akhir pekan lalu, Presiden Joko “Jokowi” Widodo juga mengundang Kepala Eksekutif Tesla, Elon Musk, untuk ikut berinvestasi dalam pembangunan pabrik nikel di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah. 

LG dan CATL merupakan dua perusahaan teknologi baterai yang paling maju saat ini di dunia, kata Seto.

“Jadi kalau kita bisa dapat tiga nama ini masuk ke Indonesia, juga bikin pabrik mobil listrik di sini adalah salah satu langkah yang sangat baik,” kata Seto. 

Kendati demikian, Seto mengakui bahwa Indonesia saat ini tengah bersaing dengan Thailand dan India dalam merebut investasi dari Tesla. 

“Tapi dengan cadangan nikel yang kita miliki, harusnya kita bisa menang. Tinggal nanti masalah birokrasi, kecepatan implementasi yang jadi kunci,” katanya. 

Pemerintah memang berambisi untuk menjadikan Indonesia sebagai penghasil baterai litium yang menjadi bahan baku kendaraan listrik terbesar di dunia. 

Sejauh ini Indonesia baru mengantongi investasi kendaraan listrik dari Hyundai Motor Company (HMC) sebesar 1,55 miliar dolar AS yang akan berlangsung hingga 2030. Hingga Oktober 2020, proses pembangunan pabrik milik perusahaan asal Korea Selatan itu telah berjalan hingga 60 persen, sebut pejabat HMC Asia Pacific kepada CNBC Indonesia. 

Indonesia bakal menjadi pusat pengembangan dan produksi baterai litium ketiga milik CATL selain di Cina dan Jerman. CATL saat ini tengah bermitra dengan beberapa produsen kendaraan listrik ternama seperti Tesla, Hyundai, Honda, Toyota hingga Volkswagen. 

Tahun lalu, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan pemerintah tengah bernegosiasi dengan sejumlah investor, salah satunya CATL, untuk ikut menanamkan modal dalam pembangunan pabrik baterai litium di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah.

Teknologi hijau

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan pemerintah menargetkan 53 smelter terbangun untuk mendukung penyediaan bahan baku baterai industri otomotif elektrik dan peningkatan nilai tambah mineral. 

“Kami terus mendorong penyediaan bahan baku baterai electric vehicle dengan target smelter pada 2024 sebanyak 53 unit yang total investasinya mencapai 20 miliar dolar AS,” kata Arifin dalam diskusi virtual, Selasa. 

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain nikel terbesar di dunia selama mampu menjawab tantangan hilirisasi dan teknologi pertambangan yang berkelanjutan. 

“Teknologi hilirisasi kita belum selesai. Sejauh ini baru tahap feronikel. Untuk nikel matte masih secondary, masih diolah dalam bentuk kasar,” kata Tauhid saat dihubungi BenarNews, Selasa. 

Tauhid melanjutkan, selain hilirisasi, Indonesia juga perlu mengedepankan produksi baterai dengan prinsip teknologi hijau jika ingin merangkul pasar yang lebih luas seperti di Eropa. 

“Ini akan menjadi tuntutan. Karena pasar Eropa lebih teliti soal ini. Pemerintah harus punya action plan untuk nikel, akan diapakan daerah bekas tambangnya?” kata Tauhid. 

“Kalau Cina memang cenderung tidak peduli dengan ini, mereka akan tampung sebanyak apapun produk kita. Mau itu kayu, batu bara, besi,” lanjutnya. 

INDEF mencatat hingga saat ini Indonesia baru memiliki tujuh smelter sebagai lokasi pengolahan dan pemurnian bijih tambang. Sementara, UU Minerba terbaru melarang ekspor hasil tambang dalam bentuk mentah. “Dengan mulai masuknya investor, artinya smelter harus dibangun lebih banyak lagi,” tambahnya. 

Tiga pekan lalu, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) baru saja meneken kerja sama peningkatan ekspor batu bara dengan China Coal Transportation and Distribution (CCTDA). Kontrak yang akan dimulai pada 2021 itu menyepakati pembelian batu bara senilai 1,46 miliar dolar AS atau setara Rp20,6 triliun selama tiga tahun. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang periode 2017, Indonesia mengekspor batu bara dengan nilai total setara 5,1 miliar dolar AS ke Cina atau meningkat 28,9 persen dari tahun sebelumnya. 

Wakil Menko Marves, Septian Hario Seto, mengakui pemerintah saat ini memang mengincar peningkatan penjualan yang lebih besar ke Cina, di tengah pembatasan ekspor batu bara yang cukup masif dilakukan negara maju lainnya.

Dalam kontrak antara APBI dan CCTDA, kata Seto, Indonesia bakal mengekspor sekitar 200 juta ton batu bara ke Cina. 

“Di dunia trennya batu bara dapat tekanan cukup keras. Tentu dari segi ekonomi tidak menguntungkan buat Indonesia karena kita eksportir terbesar,” kata Seto. “

Kita punya market yang cukup baik di sana (Cina). So far, selama diplomasi perdagangan masih bagus, saya personally tidak khawatir."

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya