Belajar Tatap Muka Berlanjut Meski 90 Sekolah di Jakarta Ditutup Karena COVID-19

Pemerintah mengatakan pembelajaran jarak jauh dilakukan jika kasus di sekolah capai di atas 5 persen.
Ronna Nirmala
2022.01.26
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Belajar Tatap Muka Berlanjut Meski 90 Sekolah di Jakarta Ditutup Karena COVID-19 Seorang anak menerima vaksin Sinovac COVID-19 di sebuah sekolah dasar di Jakarta pada 15 Desember 2021, sebagai bagain dari program pemerintah memvaksinasi anak-anak umur 5-11 tahun dalam penanggulangan COVID-19.
AFP

Kebijakan pembelajaran tatap muka dengan kapasitas penuh tidak akan dicabut meski 90 sekolah Jakarta ditutup menyusul adanya pelajar yang terinfeksi virus corona, kata juru bicara satuan tugas COVID-19. 

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19, Reisa Broto Asmoro, mengatakan penyebaran virus masih terkendali dan belum ditemukannya sekolah sebagai klaster penularan COVID-19.

Kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen hanya akan dihentikan bila peningkatan angka positive di atas 5 persen dari pelajar dan tenaga pendidik, ujar Reisa. 

“Kalau ditemukan tiga kondisi itu, PTM wajib ditutup, paling tidak selama 14 hari. Jadi, tentu seiring dengan peningkatan kasus ini, selalu dilakukan evaluasi bertahap yang disesuaikan dengan level PPKM,” kata Reisa kepada wartawan, merujuk pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat yang dievaluasi setiap pekan.

Pada Selasa, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengumumkan sebanyak 90 sekolah ditutup karena temuan penyebaran COVID-19 pada pelajar maupun tenaga pendidik sejak belajar tatap muka 100 persen dimulai pada 3 Januari tahun ini. 

Sekolah yang ditutup berada di Jakarta Timur (42), Jakarta Selatan (31), Jakarta Barat (9), Jakarta Pusat (5) dan Jakarta Utara (3). 

Dari jumlah itu, sebanyak 30 di antaranya merupakan sekolah menengah atas (SMA), disusul 25 sekolah dasar, 17 sekolah menengah pertama (SMP), 11 taman kanak-kanak, dan dua pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). 

Menurut data Kementerian Kesehatan, tingkat hunian rumah sakit di Jakarta untuk isolasi pasien COVID-19 pada 24 Januari sudah mencapai 33 persen, sementara ruang unit perawatan intensif (ICU) mencapai 10 persen.   

Tingkat hunian ruang isolasi untuk Provinsi Banten mencapai 10 persen sementara provinsi lain masih di bawah 10 persen. 

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim dalam keterangan tertulisnya, Rabu, mendesak Gubernur Jakarta Anies Baswedan untuk membatasi kegiatan belajar tatap muka di sekolah. 

“Guru-guru dan siswa di DKI Jakarta sudah berpengalaman menggunakan skema PTM terbatas, dengan metode campuran. P2G berharap Pemprov DKI Jakarta tidak meremehkan kondisi ini, jangan pula tunggu gelombang ketiga kasus COVID-19 memuncak,” kata Satriwan. 

Adapun status pembatasan kegiatan masyarakat di DKI Jakarta masih berada pada level 2, yang di antaranya mengatur perkantoran beroperasi maksimal 50 persen, tempat ibadah, supermarket, hingga pasar tradisional boleh buka dengan kapasitas maksimal 75 persen, hingga penerapan ganjil genap mulai Jumat pukul 12.00 hingga Minggu pukul 18.00 di fasilitas umum tertentu. 

“Untuk kategori Omicron memang kasus aktif di DKI Jakarta tinggi sehingga perlu mematuhi protokol kesehatan COVID-19 dan segera melakukan vaksin booster,” kata Riza. 

Kasus Omicron di DKI Jakarta per 24 Januari telah mencapai 10.488 kasus, dengan 1.715 kasus di antaranya merupakan kasus impor sementara sisanya adalah transmisi lokal. 

Tutup total di Tangerang

Sementara di Tangerang, pemerintah kota setempat memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah menyusul meningkatnya temuan kasus terkonfirmasi positif COVID-19. 

Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah mengatakan keputusan untuk mengembalikan kegiatan belajar-mengajar lewat daring diambil setelah hasil evaluasi yang dilakukan bersama dengan Dinas Pendidikan Kota Tangerang, organisasi profesi medis, hingga orang tua.

“Baru kemarin kebijakannya keluar, hari ini kita sosialisasikan, semoga bisa dipahami dalam rangka upaya bersama," kata Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah, Rabu. 

Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat kasus terkonfirmasi positif meningkat jadi 209 per Selasa, melonjak dari 37 temuan kasus pada 15 Januari. 

Di Jakarta, kasus terkonfirmasi positif tercatat sebanyak 3.509 atau naik 277 dalam satu hari, dengan angka kematian berjumlah total 3 orang. 

Akumulasi nasional pada Rabu, mencatat jumlah kasus terkonfirmasi positif bertambah 7.010 menjadi 4.301.193, disusul penambahan tujuh kematian menjadi 144.254 orang meninggal dunia. 

Pemda tingkatkan pengawasan

Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta pemerintah daerah meningkatkan pengawasan penerapan protokol kesehatan dalam pembelajaran tatap muka menyusul ditutupnya 90 sekolah di Jakarta. 

“Bagaimana kira-kira kelanjutan kebijakan dari pembelajaran tatap muka ini. Karena penyebarannya cepat dan bahkan diperkirakan Februari akan mencapai puncaknya dan sampai dengan awal Maret," kata Ma’ruf dalam rapat terbatas evaluasi PPKM.

Pihaknya mendorong pejabat terkait untuk memastikan pelaksanaan program vaksinasi berlangsung menyeluruh dan sesuai target sasaran utamanya lansia dan anak-anak. 

“Ini walaupun sekali lagi tingkat keparahan varian Omicron ini lebih ringan dibanding dengan Delta, tapi kalau jumlah bertambah terus, potensi penularan kepada, terutama yang komorbid, maka ini juga akan memberikan tekanan kepada fasilitas tenaga kesehatan yang ada,” kata Ma’ruf. 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan memprediksi puncak gelombang penyebaran virus COVID-19 dari varian baru Omicron bakal terjadi pada Februari hingga awal Maret 2022. 

“Hari ini, Inggris dan Afrika Selatan telah lewati puncak kasus Omicron dan juga negara lain sudah mulai terlihat tanda-tanda melandai seperti di Amerika Serikat dan Perancis,” ujar Luhut, yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali, dalam jumpa pers pekan lalu. 

“Tapi beberapa negara di Asia seperti di India, Thailand dan Filipina masih terjadi peningkatan kasus yang cukup tinggi,” kata Luhut,

Ia meminta publik untuk turut aktif merespons dan tidak menyepelekan gejala Omicron yang cenderung lebih ringan ketimbang varian lainnya. 

“Mengingat gejala Omicron yang ringan dan sulit dibedakan dengan batuk dan flu biasa, pemerintah mengimbau kepada masyarakat untuk segera melakukan testing bila merasakan gejala tersebut. Dan tidak pergi ke area publik atau melakukan isolasi mandiri jika terdapat gejala ringan seringan apapun,” tambah Luhut. 

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya