Indonesia Catat Angka Kematian Harian COVID-19 Tertinggi dalam 4 Bulan Terakhir

Menkes sebut kasus kematian COVID menyasar tiga golongan: lansia, belum vaksin dan pasien komorbid.
Ronna Nirmala
2022.02.11
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Indonesia Catat Angka Kematian Harian COVID-19 Tertinggi dalam 4 Bulan Terakhir Petugas menyemprotkan disinfektan di dalam ruang kelas yang kosong setelah kasus COVID-19 ditemukan di sebuah sekolah di Medan, Sumatra Utara, Jumat, 11 Februari 2022
AP

Kasus kematian akibat virus COVID-19 mencapai 100 orang dalam satu hari, lonjakan tertinggi dalam lebih dari empat bulan, sementara kasus aktif melebihi 300.000, demikian data Kementerian Kesehatan pada Jumat (11/2). 

Angka terkonfirmasi positif COVID-19 harian pada Jumat juga melonjak hingga 40.489, dengan DKI Jakarta menjadi provinsi dengan temuan kasus harian untuk positif dan meninggal dunia tertinggi.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan saat ini sudah ada 14 wilayah Rukun Tetangga (RT) di Jakarta yang masuk zona merah, yang berarti memiliki risiko penularan sangat tinggi. Di zona itu, seluruh fasilitas umum ditutup dan akses keluar masuk akan dibatasi. 

Adapun 216 RT lainnya berstatus zona oranye (sedang) dan 5.490 RT dengan zona kuning atau risiko penularan rendah. 

“Kami minta perhatian dari seluruh warga untuk lebih hati-hati dan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan dilaksanakan secara baik, patuh, taat, disiplin, dan bertanggung jawab,” kata Riza, dalam rekaman video yang dibagikan kepada jurnalis, Jumat. 

Pada Kamis, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sejauh ini kasus kematian akibat virus COVID-19 menyasar pada tiga golongan yakni pasien lanjut usia, belum menerima vaksin, dan memiliki penyakit penyerta atau komorbid. 

“69 persen belum vaksin lengkap atau sama sekali,” kata Budi, dalam keterangan pers yang ditayangkan pada kanal YouTube Sekretariat Presiden. 

Pada saat puncak COVID-19 menyerang Indonesia pada Juli tahun lalu yang disebabkan oleh varian Delta, angka kematian harian mencapai lebih dari 2000 jiwa dan kasus infeksi harian mencapai lebih dari 55.000.

Budi memprediksi angka penularan COVID-19 dari varian Omicron akan memuncak dalam satu bulan ke depan. Pemerintah berjanji akan berfokus pada perbaikan layanan kesehatan untuk memitigasi lonjakan pasien yang membutuhkan perawatan intensif. 

Data yang dimiliki kementerian hingga Kamis, menunjukkan sebaran varian Omicron telah menjangkit 1.988 orang, dengan sekitar 400 di antaranya membutuhkan perawatan di rumah sakit baik dari gejala ringan dan sedang hingga yang membutuhkan oksigen. 

Akumulasi nasional menunjukkan hingga saat ini total tempat tidur isolasi yang terisi berada di rentang 8.000an atau di bawah 10 persen dari total 80 ribuan kasur yang disiapkan. Kendati demikian, angka keterisian di DKI Jakarta saat ini telah mencapai 45 persen, kata Budi.

“Jadi akan pakai patokannya kedaruratan, lebih melihat faktor rumah sakit,” katanya.

Pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk tetap taat pada protokol kesehatan ketat dan meminta pasien yang terkonfirmasi positif namun tidak bergejala serius untuk melakukan perawatan mandiri di rumah. 

Masyarakat juga dapat mengandalkan fasilitas konsultasi kesehatan melalui layanan telemedicine yang diluncurkan kementerian pada dua pekan lalu. 

Pemerintah pada pekan lalu, mengumumkan peningkatan status kewaspadaan COVID-19 pada sejumlah wilayah di Jawa dan Bali, seiring peningkatan kasus positif dan tingkat okupansi rumah sakit (bed occupancy rate/BOR).

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan peningkatan status kewaspadaan diterapkan untuk Jakarta serta kota-kota penunjang di sekitarnya, Bandung, Yogyakarta dan Bali.

Menurut Luhut yang juga Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, beleid tersebut efektif berlaku mulai 8-14 Februari 2022.

Ratusan dokter terpapar

Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan pada Jumat, jumlah dokter umum residensi yang positif COVID-19 telah mencapai 521 orang. 

Angka itu berkisar 3,8 persen dari total 13.631 dokter umum yang tengah menjalani pendidikan dokter spesialis di Indonesia, kata Zubairi dikutip dari CNN Indonesia. 

Kendati demikian, mayoritas dokter residen tersebut tidak memiliki gejala berat bahkan beberapa di antaranya tanpa gejala. 

“Jadi sekarang ini memang benar terbukti bahwa Omicron tidak main-main, penyebarannya amat cepat. Dan yang memprihatinkan adalah infeksi ada pada tenaga kesehatan,” katanya. 

Juga pada pekan ini, Persatuan Perawat Nasional Indonesia mencatat telah ada 135 tenaga kesehatan di Indonesia yang terinfeksi COVID-19 pada periode 1-10 Februari 2022. 

Hermawan Saputra, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, mengatakan pemerintah perlu melakukan intervensi yang signifikan untuk mencegah kelumpuhan fasilitas kesehatan akibat penyebaran Omicron yang lebih masif. 

“Jangan sampai fokusnya hanya ke fasilitas kesehatan saja. Karena faskes tidak akan bergerak tanpa nakes,” katanya. 

Ia memahami pada tahun ini Indonesia memiliki sejumlah agenda penting bertaraf multinasional seperti MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, hingga rangkaian pertemuan dalam agenda G20. 

“Kalau tetap bersikeras agendanya jalan, maka yang harus diperketat, dikendalikan secara tegas dan konsekuen, adalah pengawasan pada pintu masuk dan keluar kedatangan dari luar dan dalam negeri,” tutur Hermawan. 

Sebanyak 730 dokter meninggal dunia karena tertular ataupun mengalami kelelahan sejak pandemi COVID-19 menjangkit pada Maret 2020 hingga berakhirnya gelombang lonjakan kasus akibat varian Delta pada September 2021. 

Data PB IDI menyebut sebagian dokter yang gugur berasal dari Jawa Timur dengan 165 orang, disusul Jawa Barat (111), Jawa Tengah (103), dan DKI Jakarta (95). 

Hingga saat ini sekitar 134 juta atau 49 % dari total 270 juta penduduk Indonesia telah menerima vaksin COVID-19 kedua. Jumlah ini berada di bawah rata-rata angka vaksinasi COVID-19 secara global yaitu 54,2%. Sekitar 6,6 juta penduduk Indonesia telah menerima vaksin booster dan total sekitar 68,6 % penduduk Indonesia telah menerima vaksin pertama.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya