Indonesia Cetak Rekor Harian COVID-19, Impor Tabung Oksigen

Penggunaannya perlu intervensi dokter, ahli epidemiologi minta masyarakat jangan menyetok oksigen.
Tria Dianti
2021.07.06
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Indonesia Cetak Rekor Harian COVID-19, Impor Tabung Oksigen Para pekerja membersiapkan tabung oksigen untuk distribusi ke Semarang, Jawa Tengah, pada 6 Juli 2021, di tengah tingginya kebutuhan peralatan tersebut seiring dengan naiknya penderita COVID-19 yang disebabkan oleh varian Delta di Indonesia.
AFP

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengimpor 10.000 ribu tabung konsentrator oksigen dari Singapura untuk memenuhi kebutuhan pasien COVID-19 yang meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.

“Itu sekarang kita pesan 10 ribu dan sebagian sudah datang pakai pesawat Hercules dari Singapura dan juga kita akan ambil dari tempat lain bila kita rasa masih kurang,” kata Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Pandjaitan dalam konferensi pers virtual di Jakarta.

Sementara itu, Indonesia mencetak rekor harian jumlah kasus dan kematian tertinggi karena COVID pada Selasa (6/7). Satgas Penanganan COVID-19 mencatat terjadi penambahan kasus harian sejumlah 31.189, membuat total kasus terkonfirmasi menjadi 2 .345.018. Sementara 728 meninggal pada hari itu menjadikan hingga saat ini virus corona telah merenggut 61.868 jiwa sejak kasus pertama diketahui di Indonesia pada 2 Maret 2020.

Menyebarnya varian delta membuat angka COVID-19 di Indonesia semakin melonjak tajam, menjadikan Indonesia menempati urutan pertama di Asia Tenggara dengan kasus aktif lebih dari 300 ribu orang.

Sebagian besar rumah sakit telah mengeluhkan kekurangan tenaga kesehatan dan kekurangan oksigen. Sedikitnya 33 orang meninggal dunia di RS Sardjito Surabaya hari Minggu di tengah habisnya suplai oksigen. Pihak RS itu mengakui sempat kehabisan oksigen, namun mengatakan bahwa pasien meninggal karena memang sudah parah, bukan karena tidak mendapat suplai udara.

Luhut menjelaskan konsentrator oksigen ini dapat mengambil oksigen dari udara bebas yang diproses untuk kemudian dihirup oleh pasien COVID-19 bergejala ringan. Sementara di dalam negeri, pihaknya akan terus menyortir oksigen dari beberapa daerah lainnya di Indonesia.

“Kita buka juga oksigen yang ada di Cilegon (Jawa Barat), kemudian oksigen yang ada di Batam (kepulauan Riau) dan sekarang kita arahkan 100 persen oksigen yang dari industri untuk membantu dulu ke kesehatan untuk 2 minggu ke depan.”

“Sementara itu kita arahkan supaya oksigen ini bisa menolong orang yang sedang dirawat di ruang isolasi dan rawat intensif,” tambahnya.

Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan penyebab kelangkaan stok oksigen di beberapa daerah adalah karena distribusi yang belum maksimal.

“Kami menyadari ada isu terkait distribusi. Karena memang di Jawa Tengah adalah daerah paling sedikit produksi oksigennya, jadi kita harus ada logistik yang disalurkan ke sana,” katanya Senin.

Oleh karenanya, ia telah mendapatkan komitmen industri untuk meningkatkan kapasitas utilisasi produksi oksigen dari 638.900 ton per tahun menjadi 866.000 ton per tahun, dan akan sementara dialihkan untuk kebutuhan medis.

“Tadinya 75% digunakan untuk industri dan hanya 25% yang dipakai medis. Namun sekarang akan dialihkan semua untuk medis,” ujarnya.

Berdasarkan data Kemenkes, saat ini total kebutuhan oksigen untuk perawatan intensif dan isolasi pasien COVID-19 mencapai 1.928 ton per hari, sementara kapasitas yang tersedia ada 2.262 ton per hari.

LaporCovid-19, sebuah kelompok relawan, melaporkan sedikitnya 265 penderita COVID-19 meninggal dunia dengan kondisi sedang isolasi mandiri di rumah, saat berupaya mencari fasilitas kesehatan dan ketika menunggu antrian di instalasi gawat darurat di rumah sakit selama 1 bulan terakhir.

“Jumlah tersebut tentu belum mewakili kondisi sesungguhnya di komunitas, karena tidak semua orang melaporkannya ke LaporCovid-19, media sosial, atau diberitakan media massa,” kata LaporCovid-19 dalam rilis mereka.

Layanan gratis telemedicine

Budi juga memastikan kalau pemerintah akan bekerja sama dengan layanan aplikasi telemedicine untuk bisa menyediakan layanan gratis pada masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah.

Layanan ini resmi beroperasi pada hari ini bekerja sama dengan 11 platform dan aplikasi layanan medis seperti Alodokter, Halodoc, KlikDokter, Good Doctor dan KlikDokter.

“Pasien COVID-19 yang sedang isoman juga bisa mendapatkan konsultasi dan obat gratis tanpa harus mengantri di rumah sakit. Ini bertujuan untuk mengurangi beban tenaga kesehatan di rumah sakit. Mereka bisa lebih memprioritaskan pasien dengan gejala sedang dan berat,” kata dia.  

Pihaknya juga terus mendorong percepatan vaksinasi di masyarakat untuk menekan penularan virus COVID-19 dengan memasang target baru 5 juta vaksinasi per hari jika memungkinkan.

“Juli ini 1 juta vaksinasi, kemudian target Agustus 2 juta per hari dan perintah Presiden kalau perlu dinaikkan sampai 5 juta per hari,” kata Budi.

Ia memastikan pada Juli, akan datang 31 juta dosis vaksin dan pada Agustus akan datang lagi 45 juta vaksin.

Hingga Selasa, sebanyak 14,2 juta orang telah mendapatkan dosis lengkap untuk vaksin COVID-19, masih jauh dari target 181,5 juta orang untuk menciptakan kekebalan komunitas pada April 2022.

Pengalihan anggaran

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan akan mengalihkan anggaran belanja dan perjalanan dinas sebesar Rp 26,2 triliun untuk meningkatkan penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi. Jumlah tersebut, masih akan ditambah Rp6 triliun dari belanja transfer keuangan dan dana desa.

“Kami gunakan untuk tambahan bidang kesehatan, perlindungan sosial dan program insentif seperti bantuan sosial, kebutuhan kesehatan dan kebutuhan kesehatan masyarakat,” kata Sri Mulyani dalam sidang kabinet, Senin.

Pengalihan anggaran ini akan digunakan untuk kebutuhan dana penanganan COVID-19 seperti biaya uji spesimen, pelacakan dan perawatan pasien.

Lima kali lebih banyak

Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman memperkirakan jumlah kasus COVID-19 sudah lima kali lebih banyak dari yang dilaporkan saat ini karena jumlah testing yang sangat rendah.

“Dua puluh satu hari yang lalu saja, berdasarkan perhitungan jumlahnya sudah lebih dari 95.465 kasus, lima kali lebih banyak dari yang dilaporkan. Jumlah ini belum ditambah peran faktor varian delta,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak menyetok oksigen di rumah sehingga menimbulkan aksi borong yang berakibat pada langkanya tabung oksigen.

“Ketika saturasi turun tidak bisa langsung naik dengan diberikan oksigen, karena perlu ada intervensi dari dokter dan itu di rumah sakit, dalam pengawasan langsung oleh dokter,” kata dia, “orang yang butuh malah jadi kurang di RS."

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.