Follow us

Indonesia Siap Uji Coba Vaksin COVID-19 yang Dikembangkan Cina, Korea

Sebanyak 2.400 unit sampel bakal vaksin Sinovac akan diuji klinis pada Agustus-Desember.
Tia Asmara
Jakarta
2020-07-23
Email
Komentar
Share
Dalam sebuah konferensi pers di Sao Paulo, Brasil, pada 21 Juli 2020, pemerintah dari negara dengan angka penularan COVID-19 yang cukup tinggi tersebut mengumumkan dimulainya pengujian bakal vaksin Sinovac milik Cina untuk menanggulangi virus yang telah menulari lebih dari 2 juta orang di negara tersebut dan merenggut lebih dari 80.000 jiwa warganya.
Dalam sebuah konferensi pers di Sao Paulo, Brasil, pada 21 Juli 2020, pemerintah dari negara dengan angka penularan COVID-19 yang cukup tinggi tersebut mengumumkan dimulainya pengujian bakal vaksin Sinovac milik Cina untuk menanggulangi virus yang telah menulari lebih dari 2 juta orang di negara tersebut dan merenggut lebih dari 80.000 jiwa warganya.
AP

Indonesia akan mulai uji klinis vaksin COVID-19 yang dikembangkan Cina dan Korea Selatan bekerjasama dengan perusahaan farmasi dalam negeri paling cepat awal Agustus, demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis (23/7).

Vaksin yang dibuat perusahaan Korea Selatan, Genexine Inc, bekerja sama dengan PT Kalbe Farma Tbk akan memasuki tahap II uji klinis yang direncanakan akan dilakukan di Indonesia pada paling awal September, kata Retno dalam konferensi pers mingguan yang dilakukan secara virtual di tengah pandemi COVID-19.

“Genexine telah melakukan uji klinis tahap 1 di Korea Selatan hingga Agustus 2020, sedangkan uji klinis tahap 2 direncanakan akan dimulai di Indonesia pada bulan September atau Oktober 2020,” ujar Retno.

Retno menjelaskan kerjasama Genexine dan Kalbe Farma menggunakan platform jenis vaksin DNA.

Indonesia melalui Bio Farma, perusahaan vaksin milik negara, juga tengah menjajaki kerjasama vaksin dengan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), ujar Retno.

CEPI yang bermarkas di Norwegia merupakan salah satu platform kemitraan publik dan swasta terdepan dalam pengembangan vaksin. Setidaknya 7 kandidat vaksin CEPI telah masuk dalam tahap uji klinis, diantaranya Inovio (DNA), Moderna (RNA), Novavax (protein sub unit), Astra Zeneca (non-replicating viral vector), Curevac (RNA), dan Clover Pharmaceuticals (protein sub-unit), Universitas Queensland (protein sub unit).

“Sejak April 2020, KBRI Oslo telah melakukan komunikasi intensif dan memfasilitasi penyampaian proposal kerjasama Bio Farma kepada CEPI untuk menjajaki peluang kerja sama sebagai mitra pengembangan dan produksi vaksin CEPI,” ujar Retno.

Saat ini, ujarnya, Bio Farma telah masuk dalam daftar pendek perusahaan pembuat vaksin COVID-19 bersama CEPI.

Sementara itu, Indonesia telah menerima sekitar 2.400 unit sampel bakal vaksin untuk digunakan dalam uji klinis tahap III dari hasil kerjasama Biofarma dan Sinovac milik Cina yang akan dilakukan pada awal Agustus sampai Desember 2020.

"Ditargetkan dapat dimulai [produksi] kuartal pertama pada 2021," ujar Retno.

“Bio Farma saat ini memiliki kapasitas produksi sebesar 100 juta dosis vaksin setiap tahun, dan saat ini sedang melakukan upgrading produksi vaksin untuk hingga 250 juta dosis vaksin per tahun," ujarnya.

Kepala Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Kusnandi Rusmil, mengatakan Rabu bahwa uji klinis tersebut ditargetkan akan selesai awal Januari 2021.

“Kami berencana untuk menyelesaikan uji klinis ini pada bulan Januari dengan total 1.620 sampel yang ambil bagian dalam uji klinis ini. Selanjutnya, injeksi akan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan,”kata Kusnandi.

Jumlah angka kematian harian COVID-19 dalam dua hari ini meningkat drastis.

Penambahan jumlah kematian 117 jiwa yang dilaporkan hari Kamis menjadikan total jumlah meninggal karena COVID-19 menjadi 4.576.

Sementara hari sebelumnya, Rabu, terjadi peningkatan kasus kematian sebanyak 139.

Jumlah kematian tertinggi terjadi di Jawa Tengah sebanyak 60 orang dan 70 orang sehari sebelumnya, diikuti Jawa Timur sebanyak 29 orang dan 35 di hari sebelumnya.

Sementara itu, jumlah kasus harian COVID-19 bertambah 1.906, menjadikan total kasus terkonfirmasi menjadi 93.657. Sedangkan jumlah pasien sembuh bertambah 1.909 menjadikan total pasien sembuh menjadi 52.164.

Terlambat

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, mengatakan angka kematian yang tinggi disebabkan karena kebanyakan pasien terlambat untuk mendapatkan perawatan yang memadai di rumah sakit.

“Kondisi pasien ketika datang ke rumah sakit sudah berat sehingga menjadi sulit untuk diselamatkan, terutama bagi yang ada penyakit penyerta seperti diabetes, darah tinggi dan penyakit paru menahun,” ujarnya ketika dihubungi BenarNews.

Selain itu, pelayanan kesehatan pada penderita COVID-19 perlu banyak menggunakan ventilator, sementara persediaan ventilator terbatas.

“Ventilator hanya tersedia di kota besar, sementara kabupaten kecil paling yang punya ventilator hanya satu atau dua rumah sakit yang besar,” kata Tri.

Idealnya, ujar dia, jika Indonesia terdiri dari 514 kabupaten kota, maka tiap kabupaten paling tidak memiliki 5 alat ventilator atau dibutuhkan 2.570 ventilator.

“Tapi kondisi sekarang tidak seperti itu. Jumlah pasien yang datang lebih banyak karena kasus meningkat, fasilitas kesehatan sudah mulai kewalahan,” kata dia.

Hal senada disampaikan pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono. Menurutnya angka kematian tinggi yang tertinggi di Jawa Tengah terjadi karena peningkatan jumlah kasus harian yang juga tinggi di sana.

“Dari pasien yang masuk ada yang meninggal karena kasus terlambat ditangani, pasien sudah dalam kondisi parah karena pemerintah telat melakukan testing, sehingga rakyat telat tahu ketika dia kena COVID-19,” ujar dia.

Laju insidensi

Meskipun data tinggi, namun Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah menjelaskan dari definisi laju insidensi, peningkatan kasus tidak menjadikan suatu daerah memiliki kondisi rentan penularan COVID-19.

"Kita jangan melihat angka kasus COVID-19 di Indonesia secara mentah saja, melainkan kita bisa melihat dan menganalisis lewat definisi laju insidensi," ujar Dewi.

Laju insidensi merupakan jumlah kasus positif COVID-19 dibagi dengan jumlah penduduk di sebuah tempat. “Jika ada dua daerah yang memiliki kasus positif COVID-19 sama namun jumlah penduduknya berbeda, maka laju insidensinya berarti lebih tinggi pada daerah yang jumlah penduduknya lebih sedikit,” kata dia.

Tampilan selengkapnya