Follow us

Densus 88 Tangkap Pimpinan Jamaah Islamiah

Rina Chadijah
Jakarta
2019-07-01
Email
Komentar
Share
Sejak penyerangan gereja di Malam Natal tahun 2000, kepolisian Indonesia selalu meningkatkan penjagaan Gerja Katedral di Jakarta. 24 Desember 2016.
Sejak penyerangan gereja di Malam Natal tahun 2000, kepolisian Indonesia selalu meningkatkan penjagaan Gerja Katedral di Jakarta. 24 Desember 2016.
AP

Pasukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri telah menangkap Para Wijayanto (54) yang diyakini sebagai amir atau pimpinan kelompok teroris Jamaah Islamiah (JI) di Indonesia.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, Wijayanto ditangkap bersama istrinya Masitha Yasmin (47) di sebuah hotel di Bekasi, Jawa Barat, Jumat pekan lalu.

“JI setelah tahun 2007 melakukan metamorfosa. Setelah JI dinyatakan bubar, dia dibaiat sebagai amir JI di Indonesia,” kata Dedi, kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Senin, 1 Juli 2019.

JI yang didirikan Abu Bakar Ba’syir bersama sejumlah orang lain dinyatakan oleh pemerintah Indonesia sebagai organisasi terlarang sejak tahun 2007, melalui putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

JI bertanggung jawab terhadap serangan bom bunuh diri di Bali pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang dan 209 lainnya mengalami luka-luka.

Dedi mengatakan, sebagai orang kepercayaan kelompoknya, Wijayanto melanjutkan organisasi itu dengan membangun sel-sel baru.

Wijayanto juga disebut memiliki kemampuan merakit bom, intelijen dan kemiliteran lainnya.

“Tahun 2000-an, dia pernah menjadi intelijen serta mengikuti pelatihan militer di Moro, Filipina Selatan, dan merupakan angkatan ketiga. Dia lulusan S1 Teknik Sipil universitas ternama di Jawa,” ujar Dedi.

Selain Wijayanto dan istrinya, Densus 88 juga menangkap tiga orang kepercayaannya.

Mereka adalah Bambang Suyoso Edi Salam alias Sadam alias Edi (49) yang ditangkap di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; Abdurrahman (23) di Babelan, Bekasi, Jawa Barat; dan terakhir yang ditangkap adalah Budi Trikaryanto alias Haidar alias Denis alias Gani (42) di Sampung Ponorogo, Jawa Timur, pada keesokan harinya.

Menurut Dedi, Bambang berperan aktif dalam menghubung anggota baru yang direkrut dengan dirinya, dan juga berperan sebagai sopir.

Sementara Abdurrahman disebut berperan menggerakkan organisasi.

Sedangkan Budi diyakini sebagai pimpinan JI di Jawa Timur.

“Mereka memiliki tugas yang antara satu dan lainnya saling berkaitan,” ujar Dedi.

Dari tangan mereka, polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya senjata tajam, beberapa buku jihad, dan alat komunikasi.

Polisi juga telah melakukan penggeledahan di rumah yang ditempati Wijayanto dan istrinya di Komplek Perumahan Pesona Telaga, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut warga, Wijayanto dan istrinya telah mengontrak di rumah tersebut sejak tiga tahun terakhir.

Terlibat sejumlah kasus

Dedi menjelaskan Wijayanto terlibat dalam serangkaian aksi teror di Indonesia seperti bom Bali, bom di malam Natal tahun 2000, serangan ke kedutaan Australia di Jakarta, serta terlibat peristiwa Poso pada 2005-2007.

"PW memberi masukan kepada jaringan yang ada di Poso yang kini menjadi kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), serta menyuplai senjata," ujarnya.

Tidak hanya menyuplai senjata dan logistik, dari pengalaman yang dimilikinya, kata Dedi, Wijayanto juga mampu merekrut orang untuk menjadi anggota kelompok mereka.

Wijayanto juga disebutkan menjadi penasihat intelijen bagi sejumlah organisasi lain, termasuk MIT.

“Kemampuan intelijennya digunakan sebagai pemberi masukan kegiatan kelompoknya di Poso sekaligus mempetakan suplai senjata,” ujar Dedi.

Menurutnya, jaringan JI pimpinan Wijayanto punya kemampuan merakit bom dan juga mengoperasikan roket karena mereka dikirim ke Suriah untuk terlibat langsung di medan perang.

"Orang yang direkrut PW ini rata-rata memiliki kemampuan intelijen di bidang militer. Secara khusus merakit bom dan mereka mampu mengoperasikan roket dan memiliki kemampuan sniper," jelas Dedi.

"Tersangka PW bersama jaringannya di Indonesia juga melakukan aksi-aksi terorisme internasional di bawah bendera A-Qaeda dan juga berkomunikasi dengan kelompok teroris regional di Filipina dan juga pecahan-pecahan kelompok Al-Qaeda baik di Pakistan, Afganistan dan beberapa negara."

JI di bawah kepemimpinan Wijayanto, tambah Dedi, berbeda dengan Jamaah Ansarut Daulah (JAD), kelompok yang dibentuk Aman Abdurrahman – terpidana mati kasus terorisme.

Mereka, menurut Dedi, lebih condong mengkampanyekan gerakan khilafah yang tidak setuju dengan ideologi pemerintahan Indonesia.

"JI afiliasinya ke Al-Qaeda, sementara JAD itu adalah pecahan dari JI, yang afiliasinya ke ISIS, yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi,” ujarnya.

Dibaiat sejak 2008

Peneliti terorisme di Asia Tenggara, Sidney Jones mengatakan Wijayanto makin dikenal sejak organisasi itu dibubarkan karena dia dan kelompoknya menolak meleburkan diri dengan JAD, yang cenderung melakukan kekerasan di dalam negeri.

“Semenjak 2008, dia menjadi amir dan sampai saat ini kami belum dengar orang lain menjadi amir. Jadi bisa saja sampai dengan sekarang dia merupakan amir dari Jamaah Islamiah,” kata Sidney kepada BeritaBenar.

Menurut Sidney, Wijayanto masih melihat kekerasan di Indonesia sebagai sesuatu yang kontra produktif sehingga kelompoknya tak setuju dengan serangan kelompok teroris lain, terutama JAD, yang melakukan aksi di dalam negeri.

“Mereka sangat anti ISIS. Hanya saja mereka ingin tetap bahwa JI harus berkembang untuk lambat laun mendirikan suatu negara Islam Indonesia, ” ujarnya.

Kendati tak setuju dengan serangan yang dilakukan kelompok teroris saat ini, tambah Sidney, JI di bawah Wijayanto juga melakukan perekrutan dan pelatihan militer bagi sekelompok orang.

“Itu dilakukan untuk mempersiapkan diri demi tujuan besar mereka. Jadi persiapan itu dilakukan untuk tujuan ke depan. Karena ideologi mereka seperti Kartosuwiryo yang mendirikan DI/TII dahulu,”ujarnya.

Sidney juga menyebut Wijayanto diketahui pernah mengirimkan sejumlah orang untuk berangkat ke Suriah.

Namun para jihadis yang dikirim bukan itu untuk membantu ISIS, ujar Sidney, melainkan untuk melawan ISIS.

“Pengorganisiran jihadis dilakukan untuk menguatkan gerakan serta melawan ISIS. Jadi mereka berbeda dengan JAD,” ujarnya.

Tampilan selengkapnya