Follow us

Densus 88 Tembak Mati 2 Terduga Teroris di Sumut

Kekalahan ISIS di Timur Tengah disebutkan tidak melemahkan tekad pendukung kelompok teroris itu untuk melakukan serangan di Indonesia.
Tria Dianti
Jakarta
2018-10-19
Email
Komentar
Share
Anggota Densus 88 bersiap-siap melakukan penggerebekan di sebuah rumah milik keluarga pelaku pengeboman bunuh diri di Surabaya, 15 Mei 2018.
Anggota Densus 88 bersiap-siap melakukan penggerebekan di sebuah rumah milik keluarga pelaku pengeboman bunuh diri di Surabaya, 15 Mei 2018.
AFP

Tim Densus 88 Antiteror Polri telah menembak mati dua terduga teroris dalam penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Kabupaten Tanjung Balai, Sumatera Utara (Sumut), Jumat 18 Oktober 2018.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen. Pol. Dedi Prasetyo, menyatakan kedua terduga teroris bernama Hendry Syahli Manurung (26) dan M. Rival Alwis alias VAI (22) terpaksa ditembak mati karena melawan petugas saat hendak ditangkap.

"Para tersangka melakukan penyerangan dengan menembak ke arah petugas, yang kemudian terjadi kontak tembak," kata Dedi kepada BeritaBenar.

“Mereka sempat melakukan pelemparan satu buah bom pipa ke petugas. Mereka kemudian dapat dilumpuhkan, yang mengakibatkan meninggal dunia.”

Dia menambahkan, keduanya merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Hendry dan Rival, menurut Dedi, ikut dalam mempersiapkan rencana aksi teror dengan target Mapolres Tanjung Balai dan Wihara Tanjung Balai bersama tersangka lain yang sudah ditangkap, Mei lalu.

"Tugas mereka mempersiapkan bom pipa dengan bahan yang terpantau berupa pentul korek api yang digerus," kata Dedi.

Dalam penggerebekan itu, tambahnya, polisi menyita barang bukti berupa lima bom pipa besi, satu pisau, satu pistol merk Browning dan dua butir peluru.

Kapolda Sumut, Irjen. Pol. Agus Andrianto mengatakan penggerebekan kedua terduga teroris itu berawal dari laporan masyarakat karena merasa curiga dengan aktivitas mereka.

"Masyarakat yang menemukan dan memberikan petunjuk pada petugas tentang keberadaan pelaku. Akhirnya, pelaku bisa dilumpuhkan karena melakukan perlawanan," katanya kepada wartawan.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengklaim polisi telah menangkap sedikitnya 352 terduga teroris terkait jaringan JAD sebagai upaya pemberantasan terorisme menyusul aksi bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, Mei lalu.

“352 sudah kita tangkap dan ditahan. Beberapa di antaranya sudah diproses pengadilan dan 171 di antaranya sudah diserahkan kepada pihak kejaksaan untuk proses peradilan,” katanya dalam sebuah seminar, 27 September lalu.

Ancaman

Meskipun telah dibekukan, Tito menilai JAD dan Jamaah Islamiyah (JI) tetap menjadi ancaman bagi Indonesia karena banyaknya aksi teror dalam beberapa tahun terakhir didalangi JAD, yang telah terafiliasi dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Kami perhatikan ada dua yaitu JI dan JAD yang menjadi peran utama ancaman keamanan di Indonesia. JI dipengaruhi oleh Al-Qaeda dan JAD dipengaruhi oleh ISIS,” kata Tito.

Meskipun JI sudah tidak ada, tambahnya, keberadaan komunitas dan sisa pendukung tetap ada.

“Pola pikir dan ideologi mereka masih tetap ada," katanya seraya menambahkan bahwa selama 2002 - 2012, polisi menangkap 1.000 anggota JI.

Riset terbaru Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang berjudul “Surabaya Bombings and the Future of ISIS in Indonesia” menunjukkan bahwa kelompok JAD telah bertransformasi.

Tak seperti JI yang cenderung mengesampingkan mantan narapidana sebagai pemimpin, JAD justru mengekspos narapidana sebagai pemimpin karena mereka telah teruji.

"Kalau dilihat pola ketua JAD ambil dari narapidana yang telah bebas," kata Direktur IPAC, Sidney Jones, melalui sambungan telepon.

Laporan itu juga menekankan bahwa jaringan Jawa Tengah telah dilumpuhkan. Terbukti dengan beberapa penangkapan terduga teroris setelah bom Surabaya.

Namun, dia menilai fokus serangan dan aktivitas JAD bisa beralih ke area yang lebih luas seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.

"Daerah kritis yang menjadi basis kuat JAD yang pro ISIS antara lain Indramayu, Tegal, dan Cirebon," ujarnya.

Sidney juga mengatakan pelajaran utama dari pemboman Surabaya bukan penggunaan anak-anak sudah menjadi modus operandi yang baru, tapi kekalahan ISIS di Timur Tengah tidak melemahkan tekad para pendukung ISIS untuk berperang di dalam negeri.

"Sel JAD cenderung bertindak sendiri, jika dan ketika mereka memiliki kesempatan atau sumber daya untuk melakukannya," katanya.

Untuk itu, tambahnya, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap anggota JAD yang akan atau telah dibebaskan.

"Karena ini adalah kantong supporter ISIS yang akan dijadikan pemilihan pemimpin," kata Sidney.

Menanggapi laporan terbaru IPAC tersebut, Dedi mengatakan pihaknya akan terus mengawasi para mantan narapidana yang telah bebas.

"Pasti dipantau oleh Densus 88 dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme)," ujar Dedi.

Tampilan selengkapnya