Densus 88 Tangkap 3 Terduga Teroris dalam Kasus Pengiriman Senjata

Pakar sebut senjata itu akan dikirimkan ke jaringan Mujahidin Indonesia Timur di Poso.
Tria Dianti
Jakarta
2021-06-30
Share
Densus 88 Tangkap 3 Terduga Teroris dalam Kasus Pengiriman Senjata Polisi sengaja meledakkan bom rakitan di Sibolga, Sumatra Utara, 14 Maret 2019, yang disita dari seorang terduga anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok militan yang telah berbaiat kepada jaringan ekstrimis Negara Islam (ISIS).
AFP

Densus 88 menangkap tiga terduga teroris di Jakarta dan Provinsi Bangka-Belitung pada Rabu (30/6) di atas dugaan keterlibatan pengiriman senjata api, demikian disampaikan pejabat kepolisian.

“Jam 10.00 WIB tadi, tim Densus 88 Polri menangkap dua terduga teroris di Jakarta. Sementara siang harinya satu terduga teroris ditangkap lagi di Bangka Belitung,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, dalam keterangan pers di Jakarta.

“Diguga mereka merupakan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD),” ujarnya.

JAD adalah kelompok militan yang telah dilarang keberadaannya di Indonesia karena berada di belakang sejumlah aksi terorsime di Indonesia dalam lima tahun terakhir dan merupakan kelompok terbesar pendukung jaringan ekstrim Negara Islam (ISIS) di Indonesia.

Terduga yang berinisial DS ditangkap di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur dan SY di tangkap di wilayah Kembangan, Jakarta Barat, sementara AS ditangkap di Bangka-Belitung, kata Ramadhan.

YS dan DS berperan menerima kiriman paket dari AS yang isinya ternyata senjata dan amunisi, antara lain tiga senapan panjang, tiga revolver, dua magazin dan ratusan peluru.

“DS bertugas menerima paket yang dikirimkan oleh AS tersebut,” kata Ramadhan

“Ternyata setelah dibuka, ditemukan sejumlah senjata berupa tiga pucuk senapan panjang dengan amunisi 120 butir, tiga pucuk senjata api jenis revolver dengan 100 butir amunisi, dan pisau belati,” katanya.

Sementara SY, ujarnya, antara lain berperan sebagai penggalang dana dan memiliki sejumlah rekening bank untuk menyimpan uang pembelian senjata, kata Ramadhan. Dana yang terkumpul, kata Ramadhan, akan ditransfer kepada AS untuk membeli senjata tersebut.

SY telah melakukan sejumlah transaksi pengiriman dana untuk membeli senjata tersebut senilai Rp3 juta  pada transaksi pertama dan Rp7 juta pada transaksi kedua. “Dalam kolom keterangan dalam pengiriman tertulis revolver dan senapan panjang,” jelas Ramadhan.

Pihaknya saat ini masih menginvestigasi keterkaitan terduga teroris dengan kelompok JAD lainnya yang sebelumnya ditangkap di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Merauke. “Kami akan mengembangkan penyelidikan lebih lanjut untuk mencari dimana pelaku lainnya berada,” katanya.

JAD merupakan kelompok militan yang berada di balik serangkaian aksi terrorisme dalam beberapa tahun terakhir, termasuk, bom Thamrin 2016, bom bunuh diri di Surabaya 2018 dan terakhir, bom bunuh diri di gereja di Makassar tahun ini. 

Dalam keterangannya akhir April lalu, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Mahfud MD menyebutkan setidaknya 83 terduga terorisme sudah ditangkap dan terkoneksi dengan kelompok JAD di Makassar. Dari jumlah tersebut, 33 diantaranya ditangkap di Sulawesi Selatan sementara puluhan lainnya ditangkap di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.  

Kirim ke MIT

Peneliti Senior dari Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR), Moh. Taufiqurrohman menduga senjata ini akan dikirimkan ke jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok militan bersenjata yang telah berbaiat kepada ISIS, yang berpusat di Poso, Sulawesi Tengah.

“Pembelinya berdomisili di Jakarta, dan Jakarta hanya menjadi tempat transit saja untuk menghilangkan jejak. Apabila langsung ke Poso akan sangat mencolok,” ujarnya.

Target kelompok JAD adalah kepolisian, pejabat pemerintahan dan tempat beribadah seperti gereja dan klenteng, kata Taufiqurrohman.

“Ini mulai ditangkapi karena melihat Hari Kemerdekaan sebagai HUTnya orang kafir dan kalau mereka beraksi pasti ingin mendapatkan perhatian yang besar dari media,” paparnya.  

Ia melihat ancaman keamanan ke depan masih berasal dari kelompok pendukung ISIS dengan munculnya kelompok baru yang timbul akibat banyak anggota JAD yang sudah tertangkap polisi.

“Kelompok baru ini muncul dari supporter yang tadinya tiarap dan muncul dari para napiter yang berada di lapas dengan keamanan rendah. Mereka terbukti masih melakukan konsolidasi dengan kelompok ISIS di luar,” katanya.

Dikhawatirkan, ujar dia, kalau pemerintah tidak segera menangani para napiter ini maka akan terus tercipta serangan teroris di masa yang akan datang. “Mereka harus segera dipindah ke penjara high security level,” katanya

Sebaliknya, direktur eksekutif Civil Society Against Violent Extremism (CSAVE), sebuah Jaringan LSM anti terorisme di Indonesia, Ichsan Malik, menilai Jakarta akan  menjadi target dari rencana terorisme karena Jakarta merupakan jantung ibukota dan pusat perhatian dunia.

“Yang penting bagi JAD itu mereka ingin melakukan tindak teroris sebagai suatu kejutan,” ujarnya.

Ia menilai ada beberapa momen yang ditunggu oleh para terduga terorisme dalam melakukan aksi seperti Hari Kemerdekaan dan Idul Adha.

“Artinya ketika saat banyak yang berkumpul sehingga ada korban yang cukup besar, itu yang terpenting bagi mereka,” ujar dia.

Ia menilai ancaman teror ke depan lebih sporadis dan menyebar sehingga polisi perlu mengantisipasi ini lebih jauh dengan membuat profilling dan peta penyebaran kelompok JAD.

“Harus terus digali dimana kelompok tersebut berada dan harus selalu di-update, jika tidak maka pemerintah akan selalu kecolongan terus,” katanya.

Sementara itu, pakar terorisme dari Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, menyebut kelompok JAD sedang memanfaatkan kelengahan aparat yang saat ini sedang berfokus pada penanganan COVID-19.

“Dalam situasi ini mereka bisa melakukan berbagai aksi sebagai bentuk balas dendam atau sebagai aksi untuk eksesistensi, terutama memanfaatkan situasi kelengahan aparat keamanan yang sedang fokus pada protokol kesehatan.”

“Apalagi bukti-bukti penangkapan memang menunjukkan Jakarta sebagai target dari JAD, dan ini harus diwaspadai,” pungkasnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya