Aparat: Dituduh Mata-Mata, Warga Sipil Ditembak KKB di Intan Jaya

Aktivis berharap pemerintah dan kelompok separatis bersedia berdiskusi demi menghindari jatuhnya korban sipil di masa mendatang.
Arie Firdaus
Jakarta
2021-02-01
Share
Aparat: Dituduh Mata-Mata, Warga Sipil Ditembak KKB di Intan Jaya Para aktivis Papua melakukan unjuk rasa di Surabaya, 1 Desember 2020, untuk memperingati kelahiran Organisasi Papua Merdeka.
AFP

Sekelompok orang yang diduga separatis telah menembak seorang warga Kabupaten Intan Jaya di Papua karena disinyalir sebagai intelejen aparat, demikian kata polisi setempat, Senin (1/2).

Boni Bagau ditembak di daerah perbatasan Distrik Sugapa dan Distrik Homeyo di Kabupaten Intan Jaya pada Sabtu sekitar pukul 15.00 WIT, kata Kabid Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Ahmad Mustofa Kamal.

Keluarga yang diwakili Wilem Bagau melaporkan kematian Boni ke Markas Kepolisian Sektor Sugapa pada Sabtu.

Tak berselang lama, Pastor Yustinus Rahangiyar turut mendatangi Mapolsek Sugapa dengan membawa surat dari kelompok separatis yang ditujukan kepada TNI/Polri yang mengatakan bahwa telah terjadi penembakan terhadap warga sipil bermarga Bagau.

“Dari isi surat tersebut, korban atas nama Boni Bagau ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Undinus Kogoya karena dicurigai sebagai mata-mata Aparat keamanan TNI-Polri,” kata Kamal dalam keterangan tertulis. KKB adalah sebutan aparat keamanan untuk kelompok separatis.

"Aparat keamanan TNI/Polri masih melakukan penyelidikan terkait laporan penembakan tersebut," ujar Ahmad Mustafa Kamal, menjelaskan perkembangan pengusutan penembakan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, anggota TNI dan Polri kemudian menggelar pertemuan yang dihadiri perwakilan keluarga dan tokoh masyarakat setempat. Pertemuan di Pastoral Kampung Bilogai Distrik Sugapa tersebut menyepakati bahwa orang tua Boni yakni Gad Bagau meminta jenazah dimakamkan di Kampung Agapa, merujuk situasi yang tidak aman apabila dibawa ke Distrik Sugapa maupun Homeyo.

Pastor Yustinus Rahangiar mengatakan Boni diduga ditangkap kelompok pimpinan Undius Kogoya saat dalam perjalanan untuk mengurus masalah keluarga di Distrik Sugapa. 

"Diduga, mereka mencurigai Boni yang berusia sekitar 30 tahun sebagai intelijen dari pihak TNI atau Polri," kata Yustinus dikutip dari Kompas.

BenarNews menghubungi juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Sebby Sambom terkait insiden ini dan basis data yang digunakan dalam menyatakan Boni sebagai mata-mata TNI/Polri, tapi tak beroleh balasan. 

Menambah personel

Dikutip dari Kompas, kepolisian memutuskan untuk menambah 40 personel ke Markas Kepolisian Resor Intan Jaya guna mengantisipasi gangguan keamanan di wilayah tersebut.

Mengantisipasi berulangnya insiden di masa mendatang, Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Brigadir Jenderal Matius Fakhiri mengatakan kepolisian akan bertindak tegas terhadap kelompok bersenjata, namun tidak akan bersikap represif.

"Polri tidak akan menggunakan cara kekerasan untuk menghadapi KKB. Apabila menggunakan kekerasan, hak itu akan dipolitisasi oknum tertentu untuk mengganggu situasi keamanan di Papua," ujar Matius dikutip dari Kompas.

Terkait selebaran yang diduga disebarluaskan kelompok Undius Kogoya yang mengatakan siap berperang dengan TNI/Polri dan menyebut aparat telah memerkosa seorang ibu rumah tangga saat berpatroli, Matius menyangkal.

Insiden keempat

Tragedi penembakan terhadap Boni merupakan insiden keempat yang diduga melibatkan kelompok separatis sejak awal tahun di Papua. 

Peristiwa pertama adalah pembakaran pesawat perintis PK-MAX di Lapangan Terbang Kampung Pagamba, Distrik Mbiandoga, Intan Jaya, pada 7 Januari. Peristiwa ini disebut didalangi oleh Sabinus Waker.

Tiga hari berselang, seorang anggota TNI, Prajurit Dua Agus Kurniawan, meninggal dunia setelah ditembak di daerah Titigi, Kabupaten Intan Jaya.

Peristiwa ketiga adalah penembakan Prajurit Satu Roy Febrianto dan Prajurit Satu Dedi Hamdani hingga meninggal dunia pada 22 Januari.

Merujuk data Kepolisian Daerah Papua, setidaknya 49 insiden gangguan keamanan oleh kelompok bersenjata terjadi di Papua sepanjang 2020. Insiden menyebar di beragam daerah di Papua, meliputi Nduga, Intan Jaya, Paniai, Mimika, Puncak Jaya, Keerom, dan Pegunungan Bintang.

Dari rangkaian insiden tersebut, 14 warga sipil, empat anggota TNI AD, dan seorang anggota Polri dilaporkan meninggal dunia.

Solusi lewat diskusi

Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua (AIDP) Latifah Anum Siregar berharap pemerintah dan kelompok bersenjata di Papua dapat menempuh jalur diskusi mencegah bertambahnya korban jiwa di masa mendatang.

Menurut Anum, langkah tersebut mutlak dibutuhkan lantaran kebijakan yang mengedepankan kekerasan berpotensi menimbulkan kekerasan baru.

"Pemerintah harus meninjau ulang kebijakan keamanan di Papua dan KKB juga harus mau menghentikan kekerasan agar tidak ada siklus kekerasan di Papua," kata Anum saat dihubungi.

"Karena dalam konflik seperti ini, yang terjepit dan menjadi korban juga adalah warga sipil."

Menurut catatan AIDP, setidaknya terdapat 55 kasus kekerasan di Papua sepanjang 2020. Setengah di antaranya bahkan terjadi di Intan Jaya. Angka ini naik dari 2019 yang mencatat 32 kasus kekerasan di seluruh wilayah Papua.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya